Menggapai Kearifan

MENGGAPAI KEARIFAN

وَفيِ اَنْفُسِكُمْ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ   –  الذاريت: 21

“Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikan?”

Sikap dan prilaku manusia pada dasarnya merupakan ujud dari kesadaran psikis, logis, teologis, getaran iman, perasaan, penalaran, mimpi, hayalan (mungkin masih ada lagi!), yang semua itu, satu sama lain memiliki jalinan tali temali yang sangat lembut, juga memiliki perbedaan yang sangat lembut pula. Artinya hal ini menjadi persoalan yang sulit dimengerti. Jika kita punya kehendak, kemauan, rencana atau cita-cita (atau apalah namanya!), dari mana sebenarnya ‘suara’ ini muncul; apakah dari perasaan, kesadaran ataukah tuntunan iman, atau malah sekedar mimpi? Kita terkadang tidak mudah menjawabnya.

Maka wajar jika seseorang kemudian butuh untuk curhat atau berkonsultasi karena tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Kalau akhirnya seseorang memutuskan untuk mengambil satu pilihan tertentu, tidak berarti dia sudah benar-benar yakin akan pilihannya itu. Jika terlalu banyak pertimbangan atau sebaliknya tanpa sama sekali ada pertimbangan, orang yang demikian ini hanya akan jatuh pada apa yang disebut dengan skeptisisme atau bahkan nihilisme. Skeptisisme secara sederhana diartikan: “terus dalam keraguan,” sedang nihilisme adalah “tidak ada pendirian”. Kedua sikap ini sebenarnya merupakan penyakit, tepatnya penyakit ruhani. Maka bagaimana menjalani hidup ini?

Seperti kumputer, semua manusia punya komponen built-in yang namanya sebut saja: microchip. Inilah komponen yang punya hubungan langsung dengan  seluruh organ yang ada pada manusia; organ fisik, psikis, nalar, dan potensi ruhani yang lain. Komponen ini sudah tentu berada di luar jangkauan dunia kedokteran.

Tugas microchip ini adalah mengatur ‘metabolisme’ darah, energi, pikiran, jiwa pada diri manusia, bahkan kotoran yang harus di buang. Untuk itu, orang tidak perlu susah-susah bekerja sambil mikir; memilah-milah sendiri makanan/minuman mana yang jadi energi dan mana yang harus dibuang jadi kencing, kotoran, dst, sekaligus kapan harus membuangnya. Itu semua yang mengatur sudah ada, ya microchip itu, mungkin!.

Kenapa kita dan banyak manusia tidak sadar? Ya karena selama ini banyak dipengaruhi oleh sesuatu di luar microchip itu, dan menutup diri untuk mengetahuinya, misalnya oleh pola hidup yang jasmani oriented. Contoh: orang yang normal, katanya, dalam sehari diperlukan makan sekian kali dengan jumlah sekian, tidur harus sekian jam, dst. Gaya hidup demikian, jika secara ketat tidak memberi peluang kepada cara yang lain, justru akan menghalangi proses alamiah yang dikomandoi oleh microchip ini.

Seorang ilmuwan tiap hari membuat makalah untuk diseminarkan, microchip tinggal memerintah ‘perangkat’ dalam dirinya, misalnya kepada tangan supaya mengetik, maka jadilah karya tulis, yang tidak hanya banyak, tetapi bisa dibaca, punya bobot dan mengandung pengertian (baca ilmu!). Semakin memperlakukan diri sendiri secara ketat seperti yang kita mau, itu membuat aliran darah, aliran psikis, aliran nalar dll, tidak sesuai dengan apa yang dimaui dengan microchip manusia.

Timbulnya berbagai macam penyakit, penyebab terbesarnya (untuk tidak mengatakan sebab satu-satunya) adalah karena kerja microchip itu terganggu oleh ambisi manusia. Ya semua penyakit; penyakit fisik, mental, pikiran, sampai gila. Perangkat hardisk komputer bisa rusak, karena ambisi pemiliknya yang sebenarnya belum bisa mengoprasikannya, misalnya meng-off-kan tidak sesuai prosedur, komputer sedang berproses, sudah membuka program yang lain dll, maka mesti saja, kalau terkena bed sector dan akhirnya tidak detect dan rusak total, terus ya beli lagi.

Apa sebenarnya yang diumpamakan dengan microchip itu? Kalau pada komputer mungkin namanya IC. Yang penting, meski komputer di-off berbulan-bulan, namun ketika di-on-kan kembali, jam-nya tetap jalan dan tetap cocok, sekalian hari, tanggal, tahunnya, dst. Atau barangkali ‘rahasia’ microchip ini lebih cocok jika diibaratkan pada kartu ponsel; microchip ponsel bisa menerima sinyal juga menyalurkannya.

Apa yang disampaikan ini hanyalah sekedar contoh, ibarat atau perumpamaan saja. Yang jelas ‘Microchip’ manusia itu di sampaing mempunyai hubungan langsung dengan ‘komponen-komponen’ yang lain, yang ada pada manusia, termasuk ujung rambut dan ujung kuku, baik secara biologis maupun psikologis, tapi jangan lupa, ia juga mempunyai hubungan langsung secara transenden dengan pabriknya, pemegang hak paten; Sang Creator, Allah SWT. Microchip manusia itu yang kemudian dikenal dengan pusat spiritual (spiritual center). Mungkin ini makna sebuah hadits Rasul: “Sesungguhnya dalam jasad ini ada segumpal darah, jika ia sehat maka sehatlah seluruh tubuh dan jika sakit maka sakitlah seluruh tubuh, ketahuilah bahwa itu adalah hati.” Persoalan ini yang tidak terjangkau oleh ilmu modern-Barat.

Bagaimana mengasah kemampuan spiritualitas kita, padahal sebagaimana disampaikan di atas, bahwa antara kesadaran psikologis, logis, teologis, getaran iman, perasaan, penalaran, keinginan nafsu, dan hayalan, bahkan mimpi; semua ini memiliki hubungan yang sangat lembut tali temalinya. Maka mana di antara potensi ruhani kita ini yang paling dominan? Untuk ini telah banyak teori disampaikan, tetapi yang perlu untuk diwaspadai adalah pola hidup kita sendiri yang cenderung menutup diri dan tidak memberikan peluang walau sedikitpun bagi pengembangan potensi spiritual ini, misalnya sikap terlalu ambisi, terlalu rutin (rutinitas), budaya persaingan, dst. Maka –bisa disebut langkah pertama- yang perlu diupayakan adalah meminimize (kalau perlu menghindari) gaya hidup “semu” seperti itu dengan memberi peluang untuk berkembangnya potensi spiritual kita.

Sebagaimana dalam proses belajar, langkah pertama adalah menyiapkan peluang atau ruang di hati ini untuk tempat ilmu yang akan kita pelajari. Adanya “peluang atau ruang” itu sangat penting. Setiap orang yang mempelajari sesuatu ilmu, tentunya berharap bahwa sesuatu ilmu itu, suatu saat akan didapatkannya. Untuk itu di samping dia berusaha dengan kemampuan fikirnya, juga menyertainya dengan sikap bahwa apabila sesuatu itu telah didapatkannya akan mendapatkan tempatnya yang wajar pada dirinya.

Dengan kata lain, ketika seseorang mempelajari sesuatu ilmu, dalam waktu yang bersamaan, seseorang itu menyediakan peluang atau tempat dalam dirinya. Jika tidak demikian, tentu sulit diharapkan ia akan belajar dengan sungguh-sungguh atau dia hanyalah melakukan usaha yang sia-sia. Ambil contoh; seseorang yang belajar ilmu agama, tetapi pada dirinya tidak ada peluang sedikitpun untuk meninggalkan kebiasaannya melakukan maksiat, dan bahkan tidak ada…walau sekedar harapan untuk mencoba mengerjakan amalan-amalan agama. Sudah tentu tidak akan berhasil. Inilah yang dikatakan sebagai melakukan usaha yang sia-sia.

Seiring dengan upaya menghindari dan meminimalisir gaya hidup imitasi, maka langkah kedua adalah menjalani hidup ini secara wajar, dengan terus memantapkan setiap langkah secara alamiah. Meski tetap dengan harapan, pada saatnya nanti akan mengalami apa yang disebut dengan transformasi spiritual sehingga sampai pada tingkat kedewasaan tertentu dalam beragama sejajar dengan kedewasaan usianya.

Fenomena menarik dewasa ini menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang usianya sudah 40-an atau 50-an tahun baru muncul kesadaran untuk mempelajari ilmu agama, belajar IQRA’, dst. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka adalah apa yang disebut “transformasi spiritual” (ya.. bisa dipahami dengan: terjadi lompatan menuju kematangan spiritualitas). Sudah tentu ini sebuah prestasi yang luar biasa, maka mereka dan kita semua patut mensyukurinya. Untuk itu mudah-mudahan hidayah dan taufiq Allah menyertai setiap langkah mereka, juga kita semua.

Meskipun demikian, untuk keperluan ‘muhasabah’ ini, perlu disampaikan juga bahwa mengapa kesadaran itu baru muncul ketika usia sudah relatif tua? Inilah maksud bahwa kedewasan spiritual tidak sejajar dengan kedewasaan usia. Idealnya memang, perkembangan usia itu sekaligus disertai dengan kematangan jiwa keberagamaannya.

Demikianlah, cahaya makna hidup telah tak henti-hentinya dipancarkan, namun kebanyakan manusia sendiri yang mengabaikan, menutup dan menolaknya. Maka menggapai kearifan hidup tidaklah dengan cara mencari sarana atau membuat tangga lalu menaikinya setahap demi setahap, tetapi dengan membuat peluang atau ruangan bagi nur ilahiyah dalam diri kita.

اللّهُمَّ نَوِّرْ قُلُوْبَنَا بِنُوْرِ هِدَايَتِكَ كَمَا نَوَّرْتَ الْاَرْضَ بِنُوْرِ شَمْسِكَ وَقَمَرِكَ اَبَدًا اَبَدًا

“Ya Allah sinarilah hati kami dengan cahaya hidayahMu sebagaimana tak henti-hentinya Engkau sinari bumi ini dengan cahaya matahari dan bulan”[ ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: