TAHU DIRI

Tahu diri

Di sini kita mulai saja dengan sebuah pemahaman, bahwa kita adalah makhluk ciptaan Allah yang terdiri dari jasmani dan ruhani. Menurut ilmu kesehatan/kedokteran, orang disebut sehat jika badan-jasmaninnya (1) tidak kekurangan zat-zat yang dibutuhkan, seperti vitamin, protein, nutrisi dll; (2) jika badan-jasmani itu tidak terjangkiti virus, bakteri, atau kuman. Sebaliknya orang akan sakit jika badan jasmaninnya mengalami kekurangan vitamin (atau zat lain yang dibutuhkan) dan (2) jika badan-jasmaninya terjangkiti virus, bakteri, atau kuman.

Virus, bakteri atau kuman adalah makhluk jahat, yang dapat melemahkan daya tahan tubuh kita, malah bisa merusak keharmonisan jaringan-jaringan organ dalam badan kita. Padahal makhluk jahat itu bisa saja berada di tempat mana saja, malah ada di sekitar kita sendiri, dan perlu kita perhatikan bahwa, tugasnya memang mengintai kelengahan kita, sehingga sewaktu-waktu dapat saja menyerang badan-jasmani kita. Tetapi, keadaan seperti ini dapat disiasati dan dihindari yaitu hanya dengan meningkatkan daya tahan kita, yaitu dengan mencukupi zat-zat yang dibutuhkan badan kita, termasuk vitaminnya, dan zat-zat lainnya. Atau dengan kata lain, kuatnya daya tahan tubuh sangat penting, karena dapat sebagai penolak penyakit (tepatnya) dapat menolak makhluk jahat seperti virus, yang memang menyebabkan penyakit tersebut.

Maka Islam mengajarkan supaya kita menjaga kesehatan, menjaga kekuatan tubuh, dengan olah raga dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan bergizi. Banyak ayat al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan, misalnya dalam surat al-Baqarah; 172:

يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَارَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواِللهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizkimu yang baik-baik saja dan bersyukurlah kepada Allah, jika dengan hanya beribadah kepadaNya”

Sama dengan badan-jasmani, ruhani kita juga ada kalannya sehat dan ada kalannya sakit. Sehat dan sakitnya ruhani kita sangat ditentukan oleh dua hal, yaitu jika ruhani kita keadaannya lemah tidak ada kekuatan dan kepercayaan diri. Dalam hal ini biasannya muncul sebagai sosok pribadi yang bermental lemah, selalu ragu-ragu, tidak punya pendirian, selalu kecil hati, dll. Inilah penyebab sakit ruhani yang pertama, yaitu hilangnya kepercayaan diri. Lalu yang kedua adalah jika ruhani memang terjangkiti penyakit-penyakit, seperti dene penyakit iri (hasud), buruk sangka, suka memaksakan kehendak diri, tidak mau mendengarkan pendapat dan perasan orang lain, dst.

Orang yang demikian ini sebenarnya benar-benar mengalami sakit. Yaitu sakit ruhani. Memang yang sakit adalah ruhaninnya. Tetapi perlu kita sadari, bahwa semua tindakan jahat justru disebabkan karena pelakunya terjangkiti penyakit ruhani ini. Misalnya mulai dari hanya kebiasaan membuang muka, menggunjing, sampai menfitnah, menjegal prestasi teman, menggunakan kesempatan dalam kesempitan, dan tindakan ilegal lainnya.

Sama dengan badan-jasmani, ruhani kita akan mudah terjangkiti penyakit-penyakit tadi, terutami jika kondisi ruhani lemah, tidak ada energi dan kekuatan; bermental lemah, tidak punya keyakinan, atau tidak punya nur (nurani). Orang yang sakit ruhani seperti ini jelas tidak lebih ringan ketimbang orang yang sakit jasmani, malah banyak penyakit jasmani, muncul juga gara-gara ruhannya sakit. Artinya sakit ruhani memang lebih berbahaya ketimbang sakit jasmani.

Maka Islam mengajarkan supaya kita semua mewaspadai penyakit ruhani ini, seperti iri, dengki,  buruk sangka, dll. Nabi Muhammad bersabda dalam suatu hadits:

اِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الحَسَدَ يَأْكُلُ الحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الحَطَبَ

“jauhilah sifat iri,  karena iri itu menghabiskan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.”

Sebagaimana virus, iri juga membahayakan; karena iri merupakan suatu kejahatan yang hanya disimpan sendiri. Sudah tentu tidak disebut iri jika dilakukan banyak orang. Justru, karena dipendam sendiri itulah, iri dapat merusak pikiran. Dengan demikian dapat saja menaikkan tensi (atau tekanan darah), badan menjadi kurus, kemudian tidak produktif. Maka, iri dapat menggerogoti pikiran, kesehatan, mengerogoti ekonomi, malah mengerogoti persaudaraan. Maka benar hadits di atas, bahwa iri dapat memangsa seluruh kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.

Dengan pemahaman seperti ini, maka menjaga kesehatan ruhani sangat penting, tapi… memang tidak lebih mudah atau tidak lebih ringan katimbang menjaga kesehatan jasmani. Hanya saja, jika kita dapat berhasil menjaga kesehatan ruhani, insyaAllah semuanya dapat lebih sehat, lebih sukses. Inilah barang kali inti dari satu hadis Rusulillah saw.:

اِنَّ فِي الجَسَدِ مُظْغَةٌ، اِذَا صَلُحَتْ صَلِحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، اِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ،  اَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal darah, jika ia sehat maka sehat seluruh jasad, sebaliknya jika ia sakit maka sakit seluruh jasad, ketahuilah ia adalah hati”.

Hati memang merupakan pusat ruhani manusia, maka jangan sampai sakit, atau sakit hati. Dengan demikian hati harus bertenaga, kuat, sehingga dapat menghasilkan produksi. Adapun yang dimaksud sumber  tenaga supaya hati menjadi kuat adalah keyakinan diri, atau dalam agama kita disebut iman. Dengan iman, hati menjadi kuat, hati menjadi hidup, bersemangat dan produktif, sehingga tahan dari godaan, dan tentu saja tahan dari serangan berbagai macam penyakit ruhani.

Itulah sebabnya, Islam selalu mengajarkan kepada kita, supaya beriman. Sebab Iman memang yang menyebabkan kita mempunyai mental yang kuat, yang disinari oleh nur (cahaya dari Allah SWT).

Apa yang kita sampaikan ini, sebenarnya merupakan satu ikhtiar untuk lebih mengenal diri kita sendiri, mengenal siapa sebenarnya kita ini. Banyak buku menjelaskan bahwa, kegagalannya hidup seseorang yang paling parah, adalah karena ia tidak mengenal siapa dirinya atau tidak tahu diri. Sebuah makhfudlat (pelajaran di madrasah) secara tegas mengingatkan: halaka imru’un lam ya’rif qadrahu; bahwa, kehidupan seseorang akan rusak dan akan gagal karena ia tidak mengenal kemampuan dirinnya sendiri. Lebih-lebih dalam kehidupan yang serba sulit, panas, persaingan hidup semakin ketat, seperti sekarang ini, semua ini lalu menyebabkan orang selalu sibuk menyusun strategi, selalu curiga, selalu memata-matai dan menilai orang lain, sampai-sapai lupa diri, lupa siapa dirinya sendiri.

Maka, tidak tahu diri inilah, jika kita mau jujur, merupakan kata kunci atau sumber dari semua krisis yang menimpa masyarakat kita, termasuk sumber masalah dalam keluarga, organisasi, mungkin termasuk sumber masalah  dalam masyarakat negara kita. Masyarakat seperti inilah yang disebut mengalami patologi atau disebat masyarakat yang sakit. Disebut demikian, karena masing-masing individu selaku anggota masyarakat tersebut memang dalam keadaan sakit.

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ بِمَا كَانوُا يَكْذِبُون

Di dalam hati mereka terdapat penyakit, kemudian Allah tambahkan lagi penyakitnya, bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta. (QS: Al-Baqarah; 10)

Dalam ayat lain dijelaskan bagaimana gambaran masyarakat yang sedang dalam keadaan sakit, antara lain:

وَمَا يَتَّبِعُ اَكْثَرُهُمْ اِلَّا ظَناًّ، اِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِى مِنَ الْحَقِّ شَيْئاً، اِنَّ اللهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُوْنَ

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali prasangka saja, sebenarnya prasangka-prasangka itu tidak berguna sama sekali untuk mendapat kebenaran. Sungguh Allah mengetahui apa yang mereka lakukan”. Yunus (11): 36

Kedua ayat di atas menggambarkan bahwa, masyarakat yang sakit  adalah masyarakat yang dipenuhi kebohongan, prasangka, maka wajar jika fitnah sana fitnah sini, sudah menjadi prilaku sehari-hari.

Jika kita pingin berpartisipasi dalam membangun masyarakat kita yang memang sakit ini, tidak ada langkah yang lebih tepat kecuali, mengobati sakit diri pribadi kita sendiri, yaitu dengan memulai mengenal siapa sebenarnya kita ini. Dengan mengenal diri, kita kemudian dapat mengetahui potensi kita atau kemampuan kita, dengan demikian kita kemudian dapat memposisikan diri. Inilah yang disebut tawaddu’. …Tawaddu’ adalah sebuah kata yang berasal sangking kalimah wadla’a yang artinya “meletakkan”. Maka orang yang tawaddu’, adalah orang yang dapat menempatkan diri.

Karena sekarang hidup di dunia ini, antara berjuang dengan cari duit hanya beda-beda tipis; antara mengajak dan memaksakan diri hampir tak ada bedanya. Maka, kita memang perlu setiap saat mengaca diri, evaluasi diri, mengenali diri. Allah berfirman:

وَفيِ اَنْفُسِكُمْ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ  ]الذاريت: 21[

“Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikan?”

Terakhir kita sampaikan: tidak ada jeleknya, kita selalu muhasabah  dan evaluasi diri, dalam menghadapi masalah, sebab dapat saja kita memang sumber dari masalah. Dengan bertindak demikian insya Allah kita akan mendapatkan kematangan hidup. Kita dapat lebih matang dan lebih dewasa. Dalam salah satu hadits, Nabi saw bersabda:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ عَرَفَ رَبَّهُ

Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya

Mudah-mudahan kita dapat mengambil khikmah, sehingga hidup kita mendapatkan ridla dari Allah Swt. Amin [ ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: