AKHLAK ADALAH JATI DIRI MUSLIM

AKHLAK ADALAH JATI DIRI MUSLIM

قال النبي ص م: إِنَّمَا بُعِثْتُ لاُتَمِّمَ مَكَارِمَ الاَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus, (tiada lain, kecuali) supaya menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Akhlak adalah ajaran Islam yang paling dasar. Meski dalam kenyataannya ajaran dasar ini menjadi kabur atau dikaburkan, sehingga sulit membedakan mana orang yang berakhlak dan mana yang sebenarnya merusak akhlak. Jika menengok kepada ajaran Islam dan kita mulai dari yang paling awal atau yang paling sederhana, kita akan dapati bahwa akhlak merupakan kepribadian Rasulullah saw dan menjadi sifat dari ajaran Islam yang dibawanya. Maka simaklah hadits Rasulillah saw:  “sesungguhnya aku diutus, (tiada lain, kecuali) supaya menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Hadits ini menunjukkan bahwa tugas dan misi kerasulan adalah menyempurnakan akhlak. Artinya akhlak memang menjadi risalah diutusnya Nabi Muhammad saw, selaku khotamul anbiya’ wal mursalin; penutup para nabi dan rasul. Menyempurnakan akhlak, tentu saja merupakan tugas berat. Tetapi sebagaimana terlihat dalam sejarah Islam, Nabi saw ternyata bisa sukses, yakni dengan disempurnakannya agama ini. Keberhasilan tugas ini, jelas karena diri pribadi Nabi memang terdapat akhlak yang luhur dan karenanya dalam berdakwah beliau selalu menjunjung tinggi akhlak yang mulia. Firman Allah:

وَاِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Dan sesungguhnya kamu Muhammad benar-benar terdapat akhlak yang mulia.

Maka ajaran Islam adalah sebenarnya ajaran mengenai akhlak dan Nabi Muhammad merupakan contoh atau suri tauladan seperti apa akhlak Islam ini:  “sesungguhnya telah ada pada diri Rasululah itu suri tauladan bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari qiamat serta banyak berdzikir kepada Allah” (QS 33;21) Keluhuran akhlak inilah sebenarnya sebagai kunci rahasia di balik kesuksesan perjuangan Nabi sekaligus menjadi dasar dari masyarakat yang beliau bangun.

Dalam pandangan Islam, akhlak memang merupakan satu-satunya ukuran dan menjadi garis pemisah; antara mana perbuatan yang baik dan mana yang tidak baik. Artinya, prilaku manusia disebut berkualitas, jika prilaku tersebut disertai dengan akhlak yang baik, sebaliknya jika suatu perbuatan tidak dibarengi dengan akhlak, maka perbuatan itu merupakan perbuatan yang hina dan tidak berkualitas, baik menurut manusia lebih-lebih menurut Allah.

Di tengah-tengah masyarakat kita, istilah akhlak kadang-kadang disebut dengan istilah adab. Maka dari itu orang yang baik akhlaknya, biasanya disebut orang yang beradab, sebaliknya orang yang buruk prilakunya, disebut tidak beradab. Selain istilah adab ini, istilah sopan santun juga sering kita temui. Jika ada sekelompok masyarakat yang dapat hidup rukun, giat bekerja dengan cara-cara yang baik, masyarakat yang demikian ini lalu disebut dengan  masyarakat yang santun atau yang mempunyai sopan santun (civil society). Begitu seterusnya.

Secara sederhana bisa kita pahami, bahwa akhlak yang baik, saktidaknya harus mengandung dua hal; pertama harus baik tujuannya, dan kedua harus baik prosesnya. Dua hal inilah yang menjadi ukuran baik/tidaknya akhlak seseorang. (sekali lagi: baik tujuan dan baik pula prosesnya).

Ketidaktahuan atau kekaburan terhadap dua hal ini, menyebabkan kita menjadi salah dalam memahami apa maksud dengan akhlak ini. Misalnya: kepingin menyantuni anak yatim, membantu fakir-miskin, atau memberi nafkah keluarga, memberi sumbangan pada masjid atau madrasah, semua ini jelas merupakan tujuan yang baik. Tetapi jika tujuan baik ini diwujudkan dengan cara-cara yang salah, seperti: memasang lotre, mencuri, korupsi, menipu, dll, tentu semua ini tidak bisa disebet perbuatan yang baik/ berakhlak.

Ini adalah sebuah contoh dari suatu perbuatan yang tujuannya baik, tetapi cara atau prosesnya salah. Sekali lagi, yang demikian ini, tidak bisa disebut perbuatan yang berakhlak. Contoh yang lain, misalnya: orang yang selalu giat bekerja, selalu jujur, tidak pernah mencuri, tetapi jika tujuan bekerja ini–ternyata- jelek, misalnya: untuk pesta miras, pesta narkoba dll, jelas semua ini juga salah dan tidak bisa disebut berakhlak.

Begitulah, tujuan dan proses, keduanya menjadi kriteria akhlak kita, sekaligus sebagai ukuran kualitas usaha kita. Sebagaimana Nabi telah menjelaskannya:

اِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَاِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal itu dengan niat, dan bagi setiap amal manusia tergantung pada apa yang diniatkan”

Berdasarkan hadits ini, menata tujuan sebelum berbuat merupakan hal yang penting. Karena kualitas amal-usaha kita sangat tergantung dengan apa yang kita niatkan atau tergantung dengan tujuan kita. Dengan kata lain, tujuan merupakan ukuran berakhlak atau tidaknya seseorang, malah menjadi ukuran diterima atau/tidak amal kita. Mengerjakan shalat misalnya, membayar zakat atau pergi haji, jelas ini baik, tetapi jika dikerjakan dengan tujuan pamer, kepingin dipuji orang, hal ini namanya riya’ dan riya’ termasuk perbuatan syirik, meski namanya syirik khofi. Maka dari itu perbuatan yang demikian ini, tidak hanya jelek  menurut manusia, tetapi juga menjadikan amal kita tidak diterima, malah menjadi berdosa. Na’udzubillah.

Sebagaimana telah kita sampaikan di atas, bahwa tujuan baik saja, masih belum cukup, tetapi juga harus melalui proses dan cara-cara yang baik juga. Karena kualitas amal kita juga sangat tergantung dengan prosesnya. Firman Allah:

وَاَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعَى

“Tidaklah bagi manusia itu kecuali apa yang diuasahakan…”

لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوْا وَلِلنِّسَاءِ  نَصِيْبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ

“Bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yangdisahakan, begitu pula perempuan”

Ayat ini menunjukkan bahwa antara orang yang menggunakan cara-cara yang halal, dengan orang yang menggunakan cara-cara yang haram, hasilnya tentu berbeda . demikian juga cara-cara yang sportif dan jujur, tentu tidak sama dengan perbuatan yang penuh dengan tipu muslihat.

Selaku umat Islam, pemahaman akhlak seperti ini sudah tentu penting sekali dan harus kita perhatikan, lebih-lebih pada waktu, di mana persoadan: mana yang benar dan mana yang salah, telah kabur atau dikaburkan, seperti sekarang ini. Maling berteriak maling, orang yang biasa korupsi malah bicara paling keras, akan berantas korupsi, kadang-kadang malah sering memberi bantuan ke pesantren dan madrasah. Pada zaman seperti ini, kita terkadang kesulitan membedakan mana orang yang berakhlak dan mana orang yang sejatos merusak akhlak. Jika memang demikian keadaannya, berarti kita sekaranghidup di tengah-tengah bangsa yang jauh dari akhlak. Peraturan dan UU dibuat, tidak untuk dijalankan, tetapi untuk disiasati, dll.

Kerusakan akhlak atau krisis akhlak, memang sudah sedemikian parah di negri ini. Inilah yang menjadi keprihatinan para kiyai, para ulama, para guru, dan para orang tua. Maka dari itu, sekali lagi, selaku umat Islam, dengan ukuran akhlak, insyaAllah kita tidak akan kena tipu hanya dengan iming-iming. Dengan ukuran akhlak, kita juga tidak akan bisa dipaksa-paksa, meski dalam keadaan terjepit. Bagi kita, sudah jelas bahwa akhlak menuntut adanya sikap/perbuatan yang baik, dalam hal ini, tujuan dan prosesnya. Tujuan baik harus diwujudkan dengan cara-cara yang baik, begitu juga cara-cara yang baik harus dengan tujuan yang baik.

Kita semua sudah tentu mendambakan masyarakat kita ini menjadi masyarakat yang berakhlak, mendambakan menjadi bangsa yang santun dan beradab. Masyarakat dan bangsa yang demikian ini, jelas tidak mungkin dibangun dengan cara-cara kekerasan, cara-cara yang brutal, juga tidak mungkin tercipta dengan tata cara yang bathil; yang penuh tipuan dan ketidakjujuran. Jika masih ada yang memaksakan kehendak, menggunakan tata cara yang bathil ini, kita yakin, yang demikian ini pasti tidak akan bertahan: karena bumi ini hanya diwariskan kepada orang yang berprilaku baik/saleh. Firman Allah: “Telah datang perkara yang benar dan rusak perkara yang bathil, sesungguhnya perkara yang bathil pasti akan sirna.” (al-Irsa; 81)

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُوْرِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ اْلاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُوْنَ  ]الانبياء: 105[   

“Telah Kami tulis di kitab Zabur setelah Kami tulis pada  laukh Makhfud, bahwa bumi ini hanya diwariskan kepada hamba-Ku yang sholeh”.  (al-Anbiya’ 105)

Maka bagi kita, akhlak adalah jati diri muslim. Dengan ukuran akhlak kita hidup berdasarkan suara hati nurani, tidak karena paksaan, tidak karena bujuk rayu, juga tidak karena ditipu. Mudah-mudahan akhlak benar-benar bisa kita gunakan menjadi ukuran dalam menjalani hidup ini. Dengan begitu semoga hidup ini mendapat ridla dari Allah swt.

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلى اللهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا باِللهِ

“Dengan menyebut asma Allah aku bertawakkal (pasrahkan diri) kepada Allah, tiada daya dan tiada pula kekuatan

kecuali dengan kekuatan Allah” [ ]

One Response

  1. terimakasih atas ilmunya,…mohon doanya ya,, ni lagi mengerjakan makalah, dan alhamdulillah kebantu dengan artikel ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: