BIJAKSANA

BIJAKSANA
يُؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاء وَمَنْ يُؤْتَ الحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُوا الْأَلْبَابِ  ]البقرة:269[

“Allah memberi khikmah kepada siapa yang dikehendaki, barangsiapa yang diberi khikmah maka akan diberi kebaikan yang banyak, dan tidaklah mengambil pelajaran kecuali orang yang mempunyai akal” (QS: al-Baqarah; 269)

Ada satu ajaran agama kita yang sebenarnya penting sekali, tetapi kita semua selaku umat Islam belum begitu memperhatikannya dengan baik atau belum menjadikannya sebagai satu pedoman bagi kehidupan kita, yaitu persoalan “kebijaksanaan”. Persoalan ini penting sekali, sebab mempunyai sumber hukum yang jelas dan kuat; banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an atau hadits yang menjelaskan. Selain itu, hal bijaksana atau kebijaksanaan ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada sukses atau tidaknya hidup seseorang. Artinya baik atau tidaknya hidup kita, sangat ditentukan oleh ada atau tidaknya sikap bijaksana ini; hidup kita bisa baik, sebab kita bertindak dengan bijaksana, sebaliknya hidup kita bisa hancur tak terkirakan, juga karena kita tidak bisa bertindak dengan bijaksana.

Islam adalah agama yang bijaksana dan, dengan demikian, Islam mengajarkan kebijaksanaan. Dalam al-Qur’an (atau dalam bahasa Arab umumnya), bijaksana atau kebijaksanaan ini disebut dengan “al-khikmah”, kemudian orang yang bersikap atau bertindak dengan bijaksana disebut “hakim”. (kalau kita pernah mendengar sebutan “pak hakim”, ini sebenarnya orang yang harus memutuskan perkara dengan bijaksana). Allah swt juga mempunyai sifat al-hakim, yang artinya Maha Bijaksana, (al-hakim ini termasuk asmaul husna). Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:

قَالُوْا سُبْحنَكَ لَا عِلْمَ لَنَا اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ ]البقرة:32[

Pada akhir ayat ini terdapat kalimat: innaka antal-‘alim al-hakim, yang artinya “Sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Allah juga mempunyai sifat “ahkamul hakimin”, Dzat yang lebih bijaksana, sebagaimana yang disebutkan pada surat al-Thin, ayat terakhir, “alaisa Allah bi ahkamil hakimin”.

Al-Qur-an, kitab suci umat Islam, kitab suci kita semua, juga mempunyai sifat al-hakim, makanya sering kita dengar; al-Qur’anul hakim; artinya al-Qur’an yang bijaksana (misalnya disebutkan pada surat yasin; 2: yasin, wal-Qur’anil hakim. Atau pada surat Luqman; 2: alif lam mim, tilka ayatul kitabil hakim). Semua ini menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah kitab suci yang mengandung ajaran-ajaran kebijaksanaan.

Semua nabi dan rasul, termasuk Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah swt supaya mengajarkan persoalan kebijaksanaan. Sebagaimana al-Qur’an:

كَمَا اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ ايتِنَا وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَالَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ    ]البقرة:151[

“Sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul di antara kamu supaya membacakan ayat-ayat Kami, mensucikanmu dan mengajarkanmu al-kitab dan kebijaksanaan (al-hikmah) dan mengajarkanmu apa-apa yang belum kamu ketahui.” (QS: al-Baqarah; 151).

Kita semua, umat Islam ini diperintah supaya mengajak keluarga kita, famili kita, saudara dan sahabat kita, juga kepada sesama; yakni mengajak (berdakwah) kepada jalan agama Allah, juga dengan cara yang bijaksana. Sebagaimana firmanNya:

اُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالمَوْعِظَةِ الحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ اَحْسَنُ

“Ajaklah ke jalan agama Allah, dengan cara bijaksana dan nasehat yang baik serta dengan berdialog yang lebih baik” Ayat ini juga bisa dipahami bahwa sebenarnya setiap kita ini; laki-laki atau perempuan, tua atau muda, semuanya harus menjadi hakim. Artinya semuanya harus berlaku bijaksana, yaitu hakim yang harus memutuskan perkara dan persoalan dengan bijaksana, setidaknya persoalan kita sendiri atau dengan keluarga. Perkara atau persoalan kita ini, bisa hanya kecil saja (misalnya, memutuskan untuk makan, untuk menanam padi, dll.), tetapi bisa juga agak besar (misalnya, untuk bekerja ke luar negri, untuk menjual tanah, untuk nikah, untuk membuka usaha, dll). Semua ini membutuhkan keputusan yang bijaksana.  Ya…, kita semua memang menjadi hakim, yang harus memutuskan perkara dengan bijaksana, di mana dan kapan saja, juga dalam kedudukan apa saja; baik ketika menjadi pemimpin, menjadi tokoh masyarakat, menjadi kepala rumah tangga, menjadi bapak, menjadi ibu, menjadi anak, menjadi petani, menjadi pedagang, menjadi guru, dll. Semua ini memerlukan sikap yang bijaksana atau harus disertai dengan kebijaksanaan.

Banyak sekali contoh-contoh kegagalan dalam  hidup ini, hanya karena tidak didasari dengan sikap hidup bijaksana. Seorang peminpin misalnya, akan hilang kewibawaannya, lalu didemonstrasi, malah dilengserkan, sebab tidak dapat bertindak dengan bijaksana. Kehidupan rumah tangga bisa gagal, tidak bisa rukun dan tidak bisa seiya sekata, sebab masing-masing tidak bertindak dengan bijaksana.

Seorang anak, tidak diperhatikan oleh orang tuanya, sebab prilaku sang anak tidak dilandasi dengan sikap yang bijaksana. Orang tua tidak dihormati putra-putrannya, juga karenan tidak bertindak dengan bijaksana. Begitu juga, seperti kita ketahui, peperangan yang terjadi di Irak dan negara-negara lain atau di beberapa daerah di negara kita, ini jelas sebagai konsekuensi dari sikap yang tidak bijaksana. Pada akhirnya, semua perbuatan yang tidak didasari dengan sikap bijaksana, jelas akan berujung kegagalan dan kerusakan.

Begitulah, sikap tidak bijaksana telah menjadikan semuanya menjadi hancur dan gagal. Persoalannya. sebenarnya apa yang dimaksud sikap bijaksana atau kebijaksanaan itu? Dalam beberapa literatur disebutkan, bahwa bijaksana ini merupakan satu sikap atau perbuatan, di mana terjadi keseimbangan antara alasan, kenyataan, dan tujuan.

Dengan demikian yang dimaksud perbuatan bijaksana adalah suatu sikap atau perbuatan yang benar-benar ada kejelasan alasan, proses dan tujuaninya. Ketiganya harus seimbang, selaras, dan jelas. Nabi saw pernah memberi contoh, dengan sabdanya: “makanlah jika lapar dan berhentilah (dari makan) jika sudah terasa kenyang”. Dari hadits ini bisa dipahami bahwa lapar merupakan alasan dari kenyataan atau perbuatan makan, sedang kenyang (atau tidak terlalu kenyang) adalah tujuan dari makan.

Tindakan bijaksana menuntut adanya kesadaran terhadap apa yang diperbuat. Sebab tindakan bijaksana, harus lebih dulu memikirkan apa alasannya, apa tujuannya, dan apa yang kita perbuat; jika semuanya sudah jelas lalu apakah ketiga sudah benar dan seimbang. Maka tindakan bijaksana tentu tidak sama dengan tindakan yang “hantam kromo”  dan tanpa pikir panjang. Tindakan bijaksana tidak sama dengan tindakan yang semu dan penuh tipuan, juga tidak sama dengan tindakan emosi, apa lagi brutal.

Sikap atau tindakan bijaksana, sekali lagi, disyaratkan harus ada keseimbangan antara alasan, proses, dan tujuanipun. Tindakan yang demikian inilah yang akan mendapat kebaiknan yang tak terhingga. Sebagaimana firman Allah: “Allah memberi khikmah kepada siapa yang dikehendaki, barangsiapa yang diberi khikmah maka akan diberi kebaikan yang banyak, dan tidaklah mengambil pelajaran kecuali orang yang mempunyai akal” (QS: al-Baqarah; 269)

Demikianlah, makna bijaksana dan demikianlah janji Allah kepada orang yang bijaksana. Maka tindakan yang didasari dengan aji mumpung, apa lagi oportunis, tentu bukan perbuatan bijaksana. Sebagaimana telah kita sampaikan di atas bahwa, sebagian besar kita belum melaksanakan ajaran kebijaksanaan ini, meski hal ini sebenarnya merupakan ajaran agama kita, Islam.

Jika kita perhatikan, setidaknya ada tiga kecenderungan masyarakat kita dewasa ini, yang sedikit banyak turut menyebabkan sulitnya untuk bisa berprilaku secara bijaksana. Oleh karenanya sudah saatnya untuk dihindari. Tiga hal itu adalah: pertama kecendrungan/ kebiasaan masyarakat dewasa ini, gampang memutuskan atau menyimpulkan, hanya dengan dasar-dasar yang dangkal. Artinya, kita keburu bertindak, padahal belum jelas alasannya. Kita keburu mangakui atau berkata “pasti” dan “yakin”, padahal belum didukung dengan data-data yang cukup.

Tindakan yang demikian ini, tentu menjadi hambatan atau penghalang dari sikap bijaksana. Kecendrungan masyarakat yang kedua, adalah mudah menjatuh keputusan, hanya didasarkan pada prasangkanya sendiri. Ini, pengaruhnya pada kita, bahwa kita lalu dengan mudahnya membuat kesimpulan atau bertindak, hanya dengan bimbingan prasangka-prasangka saja. Demikian  ini juga jelas menyebabkan perbuatan/sikap yang tidak bijaksana. Makanya, agama kita juga melarang untuk berprasangka ini, apa lagi berburuk sangka.

Kemudian yang ketiga, kita semua juga gampang sekali menjatuhkan pilihan, dengan alasan: karena banyak orang telah  sama-sama mengakui (atau berpendapat demikian). Artinya sikap kita hanya didasarkan dengan pendapat umum (opini publik). Jika ada orang yang mengatakan, misalnya: “gimana nggak percaya, lha wong semua orang sudah mengatakannya”. Nah sikap demikian ini juga termasuk tidak bijaksana, sebab hanya ikut-ikutan, tidak membuktikannya sendiri.

Jika kita dapat terhindar dari tiga hal tersebut, dimungkinkan kita dapat berlaku lebih bijaksana, Insya Allah. Memang, dalam menjalani hidup ini, kita harus aktif dan dinamis serta harus banyak berbuat,  namun tentu saja harus yang baik-baik. Jika memang belum kuat alasannya, lebih baik kita menahan diri. Inilah barangkali maksud dari hadits Nabi saw: “bicaralah yang baik-baik atau lebih baik diam saja” [ ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: