DAMAI BERSAMA ISLAM

DAMAI BERSAMA ISLAM

وَمَا اَرْسَلْنَاكَ اِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالمَين – الانبياء: 107

Sesungguhnya Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS: al-Anbiya’;107)

Pertanyaan;  agama Islam itu gimana sih? Persoalan ini jelas membutuhkan jawaban yang tidak sederhana, karena diperlukan melihat Islam dari segala aspeknya. Meski demikian selaku umat Islam adalah suatu keniscayaan untuk memulai mempelajarinya, seberapapun hasilnya. Kapan rampungnya? Ya.. sampai kita sudah tidak mampu lagi (Jadi… ya seterusnya). Lalu, apakah kita bisa dan mungkin bisa mempelajarinya? Jika ada kemauan, sudah tentu bisa.

Meski satu hal perlu diketahui bahwa tahu Islam berbeda dengan hidup damai secara Islami. Ini adalah dua hal yang berbeda; orang yang mengetahui banyak tentang agama belum tentu bisa hidup sukses dan damai secara agamis. Tidak sedikit juru dakwah atau pengkhutbah sekalipun yang merasakan bahwa dalam kehidupannya masih belum bisa “diterangi nur agama.”

Perasaan demikian ini bisa saja berlaku / dirasakan oleh setiap orang; oleh ahli agama, kyai, pastor, bikku, dokter, pak tani, ahli teknik, dst. Maka hal itu sebenarnya manusiawi. Dan itu sangat baik. Jadi memang harus terus dipupuk, jangan dihalang-halangi apalagi dihilangkan. Orang yang tidak pernah merasakan seperti itu, berarti ia belum beragama meski sudah memeluk agama tertentu; keberagamaannya sebatas  KTP saja.

Maka, persoalan yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana kita bisa hidup yang agamis? bagaimana kita bisa hidup secara Islami? Marilah perlahan-lahan kita renungkan hidup ini:

Orang hidup tidak mungkin merasa tenang dan damai, jika tidak punya sandaran vertikal (Tuhan). Hidupnya pasti terus dalam kegelisahan, gampang putus asa, tidak punya harapan dan cita-cita. Maka keberadaan Tuhan di dalam kehidupan itu sangat penting. Artinya, “iman kepada tuhan” itu adalah untuk manusia sendiri, bukan untuk Tuhan. Nah… Islam memperkenalkan kepada manusia bahwa Allah lah Tuhan itu. “Sesungguhnya Aku ini Allah, Tidak ada tuhan selain Aku, maka menyerahlah (mengabdilah) semuanya kepadaKu, dan dirikan shalat untuk –selalu- mengingatKu,” ini terjemahan surat Thaha; 14. Mengapa harus tauhid (Tuhan yang Esa) bukan dua, tiga atau banyak tuhan. Ya jelas ini juga untuk manusia. Agar manusia tidak memiliki jiwa yang terpecah (split personality), agar manusia mempunyai tujuan yang jelas, mendidik kejujuran, dll.

Dalam Islam, Iman itu tidak hanya percaya bahwa Allah itu Ada (atau tadi dikatakan, iman kepada ‘keberadaan’ Allah), tetapi bagaimana keyakinan akan keberadaan Allah itu mempengaruhi setiap tingkah-laku, perbuatan dan sikap si mukmin itu. Dalam ilmu agama, yang pertama disebut tauhid rububiyah, sedang kedua merupakan tauhid uluhiyah.

Kita ini adalah mukallaf (orang yang sudah terbebani hukum agama), tapi terkadang merasa berat juga untuk melakukan kebaikan, melakukan ibadah, dll. Inilah yang disebut imannya masih pada tingkat percaya akan adanya tuhan, belum ada pengaruhnya pada kehidupan. Padahal ajaran agama kita mengatakan al-mab’uts fi quwwat al-ba’its, artinya orang yang diberi tugas itu terdapat kekuatan –orang- yang menugasi.

Ada seorang mandor pabrik punya anak buah banyak. Si mandor dihadapan anak buah berwibawa, ditakuti, dihormati dan PeDe. Padahal sebenarnya ia adalah anak seorang petani desa, semasa sekolah kerjaannya hanya menggembala kambing.  Demikian ini karena pada diri si mandor ada kekuatan bosnya, bertindak selaku mandor karena ditugasi oleh atasnnya, maka ia pun sanggup melakukan tugasnya.

Wildan (5 tahun), anak kami, pernah saya suruh membeli silet (pisau cukur) yang harganya Rp. 1000,- dan karena tidak ada uang kecil, dia  saya kasih uang 10.000, maka kembaliannya nanti Rp. 9000,-, penjualnya tidak berani berbuat curang, karena dibelakang Wildan yang belum tahu soal uang itu, ada bapaknya (Wildan yang saya perintah itu ada kekuatan saya).

Contoh satu lagi, mungkin kita masih ingat, dalam sejarah Islam. Nabi Muhammad selalu dicari, dibujuk agar tidak menyebarkan Islam. Suatu ketika diperintahlah seorang yang bernama Daksur oleh Abu Jahal agar membunuh Nabi. Dan berangkatlah si Daksur itu dengan sebilah pedangnya, singkat cerita mereka berdua akhirnya bertemu, kontan Daksur menghunus pedang dan mengacungkannya di hadapan Muhammad dengan berkata “sekarang siapa yang menolong kamu ?” Kontan Nabi berkata “Allah!” dan ceritanya: sekonyong-konyong pedang Daksur jatuh dan dia minta maaf kepada Nabi. Kesimpulannya di belakang Muhammad ada Allah. Maka shalat, puasa, hidup secara baik, jujur, sabar, dll., yang diperintahkan agama itu, sebenarnya manusia sanggup melaksanakannya; tidak ada kamus tidak kuat, karena di situ ada kekuatan yang memerintah. Siapa? Itulah  Allah. Tampaknya ini sering dilupakan oleh umat beragama.

Kalau hanya soal iman akan adanya Allah, jangankan umat Islam, lha wong iblis, fir’aun, termasuk orang jahiliyyah saja mengimani kok. Kita tahu cerita iblis, yakni ketika Allah menciptakan Adam As dan iblis diperintah untuk menyembah, iblis membangkang dan tidak mau menyembah Adam dengan alasan bahwa ia lebih baik dari Adam dengan mengatakan; “Engkau ciptakan aku dari api sedang Adam dari tanah” (kholaqtani min nar wa kholaqtahu min thin), di sini terlihat bahwa iblis mengakui (iman) bahwa dirinya dan iblis-iblis yang lain diciptakan oleh Allah, tidak oleh tuhan sang pencipta lain… Fir’aun ketika sedang sekarat di tengah laut mengatakan aku percaya pada Tuhan Musa…

Musyrikin jahiliyah yang biasa memasang berhala (latta, uzza dll) di sekeliling Ka’bah, ketika ditanya siapa tuhan kalian. Mereka menjawab “Rabbunallah” (tuhanku Allah), mengapa kamu menyembah berhala-berhala itu? Mereka menjawab “tidak, kami tidak menyembah mereka, tetapi agar berhala-berhala itu lebih mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” (QS: 39;3). Ini adalah contoh bagaimana iman iblis, fir’aun, dan kaum musyrik jahiliyyah.

Singkat kata mereka pun sebenarnya Iman kepada Allah. Maka jika ada manusia yang tidak beriman, ya… masih kalah dengan fir’aun, dengan musyrikin jahiliyah, bahkan lebih iblis dari pada iblis sendiri. Sekali lagi dalam pandangan Islam, hidup di dunia ini diperoleh kedamaian jika didasari iman-tauhid.

Selanjutnya ‘syarat’ yang kedua dari beragama adalah hidup secara rasional. Mungkin pola hidup seperti ini boleh dikatakan terkait dengan persoalan akal. Jadi, kalau yang pertama (iman) tadi berkaitan dengan hati, sekarang lebih berkaitan dengan akal. Yang dimaksud rasional adalah lawan dari irasional (tidak masuk akal) yang sudah tentu berbeda dengan superrasional atau suprarasional.

Dalam agama selalu ada yang disebut mu’jizat, pun juga dalam Islam, misalnya lagi ‘pristiwa’ isra’ mi’raj dll., itu merupakan persoalan superrasional, artinya sebenarnya masuk akal tapi terkadang akal kita belum sampai. Ibarat sebuah mesin disel yang biasa dipakai untuk kompresor, dipakai untuk menderek atau memutar roda ‘traktor-bego’ yang ada di proyek-proyek besar, maka ada sebagian yang bilang bahwa roda ‘bego’ itu macet tidak berputar. Padahal wajar saja roda itu tidak berputar, karena kekuatan mesin disel itu tidak sebanding dengan besarnya kekuatan roda bego, meski demikian bukan berarti roda bego itu macet, tetapi karena mesin disel itu tidak mampu memutarnya. Sementara persoalan irasional, memang benar-benar tidak masuk akal. Maka siapa yang percaya kalau WTC pada 11 September itu dibom oleh jin. Sudah tentu itu tidak masuk akal.

Iman memang urusan hati, tetapi hati tanpa diterangi oleh akal, ia akan jatuh pada tahayul, cerita-cerita dongeng, hayalan, dll. Makanya jangan sampai Pak Zainuddin MZ memberi khutbah dikira sedang mendongeng. Maka dalam kehidupan, akal juga mempunyai kedudukan yang penting. Dalam al-Qur’an dan Hadits banyak sekali dinyatakan akan pentingnya memaksimalkan peran akal dalam kehidupan. Misalnya: La’allakum tatafakkarun, afala ta’qilun, afala yatadabbarun, dll., sedang di dalam hadits ada: al-dinu huw al-aqlu la dina liman la aqlalahu (agama itu rasional, tidak ada agama bagi orang yang tidak punya akal; nggak mikir).

Secara sederhana, tindakan itu dikatakan rasional jika pertimbangan atas latarbelakang dan latardepannya (konsekuensinya) bisa dipahami. Pengertian seperti ini sangat penting, paling tidak sebagai pertanda bahwa kita ini memang benar-benar hidup di dunia kita. Pola hidup rasional diperlukan di alam nyata ini. Kita tidaklah hidup di alam ‘peri’ yang tidak pernah menyentuh tanah, tidak juga hidup dalam alam hayalan atau angan-angan. Kita hidup di dunia nyata ini secara sadar dan hidup beragama pun secara sadar pula.

Terakhir, berislam hanya dengan hablun minallah saja itu belum cukup, karena juga harus hablun minannas (bahkan hablum minal lingkungan!). Persoalan ini di dalam Islam termasuk dalam pembahasan tentang “ihsan”. Dalam tafsir al-Maraghiy dijelaskan bahwa ihsan adalah “membalas kebaikan dengan yang lebih baik dan membalas kesalahan dengan ma’af”. Ihsan juga terdiri beberapa tingkatan; tingat yang paling rendah adalah “menyisihkan duri di jalan”, sedang tingkat yang paling tinggi adalah sebagaimana hadits Nabi saw: “kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihatNya, jika kamu tidak melihatNya, maka seakan-akan Dia melihat kamu”. Singkat kata di Islam tidak ada kamus bahwa bertengkar itu boleh, membunuh itu wajib, meski dengan alasan dan dalih apapun.

Maka demikianlah, hidup tidak perlu kening selalu berkerut, tetapi berbuat sebisanya, bekerja dengan sungguh-sungguh, jujur, dinamis, penuh cita-cita, tidak mengeluh (qana’ah), konsisten (istiqomah), di mana dan kapan saja. Berlaku biasa memang tidaklah ringan; tidak semua orang bisa, apalagi sekarang ini, di saat KKN, ABS (asal bapak senang) terjadi di mana-mana, mungkin juga disekeliling kita sendiri. Maka sekali lagi, kedamaian akan diraih jika hidup ini dadasari dengan iman-tauhid, rasional, dan baik kepada sesama. [ ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: