Filsafat, Satu Bidang Yang Unik

Filsafat, Satu Bidang Yang Unik

Telah disampaikan bahwa sasaran kajian filsafat adalah aktivitas pikir manusia, bahkan filsafat adalah aktivitas pikir itu sendiri. Maka memang benar jika dikatakan bahwa filsafat dan bahkan semua pengetahuan yang merupakan hasil dari aktivitas pikir itu adalah bercorak subjektif, artinya tergantung pada pola pikir subjek tertentu. Dalam perspektif ini, setiap pengetahuan, apapun jenisnya, adalah bersifat subjektif, lebih-lebih jika hanya “terima jadi”, tanpa lebih dulu ada pemahaman tentang “proses mengetahui” itu sendiri, yang pada dasarnya merupakan aktivitas pikir. Jika memang demikian, maka apa yang disebut pengetahuan itu tidak saja bersifat subjektif, tetapi bahkan telah menjadi semacam ‘mitos’.

Maka filsafat adalah satu bidang yang berupaya menjelaskan proses pengetahuan itu. Filsafat berupaya mengungkap pola pikir di balik terjadinya pengetahuan, bahkan juga menunjukkan bahwa perbedaan pola pikir dapat menghasilkan jenis pengetahuan yang berbeda pula. Oleh karena itu dalam filsafat, proses mengetahui itu sekaligus berarti proses memahami.

Yang dimaksud proses memahami adalah suatu proses yang diawali dengan adanya sikap empati, yaitu suatu í‘tikad untuk “mendengarkan dengan sabar” proses mengurai “benang kusut” suatu pengertian. Proses mengurai dimaksud, pada dasarnya merupakan proses membuat skema pikir, mind mapping, yang selama ini kusut tak ketemu ujung pangkalnya, tertutup, bahkan mungkin juga tak terpikirkan. Maka seseorang disebut paham jika suatu persoalan telah ditemukan dengan jelas “peta pikirnya”. Sebaliknya, suatu persoalan akan sulit dipahami, jika persoalan itu memang tidak jelas peta pikirnya. Demikian juga seseorang akan sulit memberikan pemahaman, jika persoalan yang disampaikan tidak jelas petanya dalam pikirannya. Dengan demikian, yang dikatakan “saling memahami” adalah jika terjadi pertemuan atau kesamaan peta pikir antara dua orang tentang persoalan yang dihadapi.

Dalam kaitan ini, filsafat memang memberikan dasar-dasar pemahaman tentang pengetahuan, karenanya filsafat juga merupakan satu “jenis pengetahuan” yang terbuka (opened mind). Maksudnya terbuka untuk dipahami, karena memang memahamkan. Sebaliknya juga terbuka untuk kritik jika ternyata tidak dapat dipahami skema pikirnya, lebih-lebih jika memang salah.

Dalam filsafat, sesuatu dapat disebut pengetahuan jika ia memberikan pemahaman. Sebaliknya, tidak disebut pengetahuan jika tidak memahamkan. Karena memahamkan, pengetahuan dengan sendirinya dapat dipahami. Sifat inilah yang membuat pengetahuan kemudian memiliki nilai objektif atau, paling tidak, intersubjektif, yakni sejauh banyak kalangan dapat memahami.

Hal ini akan tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pada suatu daerah, masyarakatnya menyebut ‘pekerjaan’ atau ‘barang’ tertentu dengan sebutan A misalnya, sementara di daerah lain sebutan yang sama itu untuk ‘pekerjaan’ atau ‘barang’ yang berbeda sama sekali. Ini artinya pengetahuan yang di daerah tertentu dianggap subjektif atau dianggap salah, ternyata di daerah lain justru diterima sebagai benar.

Meski perlu dicatat, bahwa dalam filsafat, kebenaran pengetahuan itu tidak hanya didasarkan pada diterima atau tidaknya pengetahuan itu. Sejauh ini filsafat mempunyai “rambu-rambu” bagi apa yang disebut dengan pengetahuan yang benar, yang dalam pembahasan filsafat biasa disebut “teori kebenaran”. Setidaknya ada tiga teori tentang kebenaran (pengetahuan), yaitu koherensi, korespondensi, dan pragmatisme. Pertama, pengetahuan yang memiliki kebenaran koherensi adalah pengetahuan yang diperoleh dengan mengikuti hukum-hukum logika, karenanya tidak terjadi tumpang tindih dan inkonsistensi. Pengetahuan ini tidak terdapat pertentangan dalam dirinya (contradictio in terminis), juga tidak bertentangan dengan pengetahuan terdahulu. Dalam kehidupan sehari-hari, biasanya ditemukan pernyataan: “kata-katanya sulit ditolak, meski aku belum dapat menerimanya”. Inilah yang disebut berpikir tepat. Sulit ditolak, karena pola pikirnya sudah tepat sesuai dengan hukum-hukum logika, meskipun isi kandungannya belum tentu benar. Dalam filsafat, sesuatu yang tepat memang belum tentu benar, sebaliknya yang benar pasti tepat. Tampaknya, pengetahuan pertama ini menekankan pada ketepatan berpikir.

Kedua, pengetahuan dengan kebenaran korespondensi adalah pengetahuan yang memiliki ‘kadar’ kesesuaian dengan realitas sebenarnya. Proses pengetahuan ini tidak hanya mengikuti hukum-hukum logika, tetapi dengan teliti mengikuti dinamika perkembangan fakta yang ada. Kebenaran korespondensi tidak hanya “tepat” tetapi juga “benar”. Maka kebenaran pengetahuan ini diakui, baik secara logis maupun secara materiil. Ketiga adalah pengatahuan dengan kadar kebenaran pragmatisme. Maksudnya, suatu pengetahuan dinilai benar jika ia membawa akibat praktis.

Dalam banyak literatur dikatakan bahwa objek kajian filsafat mencakup tiga hal, yaitu alam, manusia, dan Tuhan. Untuk itu ditinjau dari segi objeknya, kajian filsafat terbagi dalam tiga cabang, yaitu kosmologi, antropologi, dan teologi. Di sini harus diakui bahwa filsafat sebenarnya satu bidang kajian yang tidak pernah menyentuh objeknya secara langsung. Karena, yang menjadi bidang garapannya adalah pola pikir di balik pengetahuan tentang alam, pengetahuan tentang manusia, dan pengetahuan tentang agama dan Tuhan.

Dalam kajiannya, filsafat memang tidak pernah membicarakan secara langsung, apalagi berhubungan dengan objek alam sebagaimana ilmu pengetahuan alam, juga tidak, dengan objek manusia sebagaimana sosiologi, terlebih lagi berhubungan dengan agama dan Tuhan sebagaimana pengetahuan agama. Kajian filsafat hanyalah berhubungan dengan pola pikir manusia terkait dengan ketiga objek tersebut.

Secara demikian, pandangan yang menyatakan bahwa filsafat merupakan satu ilmu yang abstrak, ‘mengawang’, tidak membumi, dll. harus diakui kebenarannya. Hal ini sejalan dengan metode yang dipakai, yaitu berpikir reflektif spekulatif. Maka sebagai konsekuensinya, juga mustahil bahwa filsafat dapat memberikan jawaban konkrit atas suatu persolan, lebih-lebih jika dituntut memberikan kontribusi berupa keterampilan praktis.

Jika memang demikian, lalu mengapa kita tetap mengkaji filsafat? Begitulah, filsafat melihat pola pikir manusia sedemikian sentral dan penting. Posisi pola pikir itu seakan sama pentingnya dengan filsafat itu sendiri. Sebagaimana telah disinggung, bahwa pola pikir seseorang ternyata sangat menentukan sikap dan prilakunya, sebaliknya sikap dan prilaku seseorang ditentukan oleh pola pikirnya. Hal ini setidaknya dalam pandangan filsafat.

Dalam perspektif filsafat, sikap dan prilaku manusia terhadap alam tidak serta merta ditentukan oleh objek alam, tetapi oleh pola pikirnya tentang alam atau oleh konsep dan pengetahuannya tentang alam. Demikian juga sikap dan prilaku manusia terhadap sesama manusia tidak serta merta ditentukan oleh objek manusia itu sendiri, tetapi oleh pola pikirnya, konsepnya dan pandangannya tentang manusia. Demikian pula sikap dan prilaku manusia terhadap agama dan Tuhan.

Sudah tentu, ini khas perspektif filsafat. Filsafat memang merupakan satu perspektif saja dalam melihat dunia (world view), dengan pengakuan masih banyak lagi perspektif yang lain. Perbedaan pandangan sangat dimungkinkan, tetapi sudah tentu bukan dari perspektif yang sama. Di sini hanya bisa dinyatakan, filsafat memang satu bidang yang unik. Dan itulah keunikannya.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: