HIDUP ADALAH IBADAH

HIDUP ADALAH IBADAH

وَمَا اُمِرُوا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ… ]البينة :5[

“Dan mereka tidaklah diperintah kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan (niat) ikhlas kepada Allah dan condong pada agama”

Hidup memang perlu sandaran vertikal. Tanpa sandaran vertikal, hidup jelas terasa gersang tak bermakna, lebih-lebih jika hanya diabdikan pada kehendak nafsu keduniaan dan kesenangan sesaat. Pola hidup seperti ini ibarat sebuah fatamorgana, mungkin tampak indah tapi kenyataannya semu. Jika didekati, tak pernah bisa untuk diraih.

Islam mengajarkan bahwa tak satu pun aktivitas umatnya yang tidak bernilai ibadah. Pandangan seperti ini menjadi ‘obat’ bagi kegersangan hidup dan membawa kepada kedalaman spiritualitas. Untuk menggapai hidup demikian sudah tentu harus dimulai dengan kesadaran bahwa setiap perbuatan yang kita kerjakan sebenarnya merupakan pengabdian kepada Allah dan dalam rangka menjalankan ajaran agama. Inilah barangkali yang dimaksud “niat ikhlas karena Allah” sebagaimana dimaksud ayat di atas. Memang, tidak banyak orang yang memulai dan menjalani aktivitasnya dengan kesadaran seperti ini.

Konsekuensi selanjutnya adalah kita harus –mungkin bisa dibilang- sportif, bahwa apa yang kita kerjakan memang benar menurut aturan agama. Artinya tidak sampai menerjang apa-apa yang dilarang oleh agama. Dan untuk mengetahui apa yang dilarang agama sebenarnya tidak cukup sulit. Meski kita tidak pernah boleh mengikuti  ‘petunjuk’ feeling, tetapi hampir semua orang relatif bisa mengetahui larangan agama. Dengan kata lain meninggalkan apa yang dilarang agama tidak harus menunggu setelah membaca semua ajaran agama. Ketika aktivitas kita sesuai dengan tata aturan agama dan bukan merupakan larangan agama, maka inilah yang disebut dengan amal shalih. Dan amal shalih inilah yang menjadi perantara (washilah) agar dapat kembali kepada Allah dan bertemu denganNya.

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ اَحَدًا

“Barang siapa berharap supaya bertemu dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal shalih, dan janganlah menyekutukan dengan seseorang dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS: al-Kahfi; 110).

Dengan dua syarat di atas (ikhlas dan amal shalih), menjalani hidup ini memang perlu cermat agar apa yang kita perbuat tidak hanya benar menurut ukuran diri pribadi tetapi yang terpenting benar menurut agama, dengan harapan dapat menggapai kecintaan dan keridlaan Allah sebagaimana telah diuraikan sebelumnya.

Agama kita, Islam, sudah tentu juga menganjurkan umatnya supaya menggarap bidang-bidang tertentu untuk kebahagiaan di dunia, misalnya politik, ekonomi, pendidikan, pertanian, perdagangan, dan lain-lain, tetapi sekali lagi semua itu harus dengan pandangan dan tujuan yang jelas, yaitu ibadah. Inilah landasan vertikal itu. Dengan demikian umat Islam tetap tidak ketinggalan dalam urusan keduniaan, tetapi ada garis pemisah yang membedakannya dengan para borjuis, materialis dan hidonis. [ ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: