INTROSPEKSI

INTROSPEKSI

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخطِبْنِى فِي الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا اَنَّهُمْ مُغْرَقُوْنَ   – هود: 37

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang dzalim itu, sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan”

Dalam mengerjakan tugas sehari-hari, kita sehari semalam mempunyai waktu 24 jam. Selama 24 jam sehari semalam itu, hidup kita mesti berhubungan dengan dua macam persoaolan: pertama, tidak bisa dipungkiri, bahwa kita mesti berhubungan dengan barang-barang materiil keperluan kita; kedua, bahwa kita tidak bisa hidup sendirian, oleh karenanya kita juga mesti berhubungan dengan sesama manusia. Dua macam persoalan ini sudah tentu berbeda dan terhadap keduanya kita memang harus bisa membedakan dengan benar, harus memahami ciri-ciri atau karasateristinya masing-masing, supaya kita bisa bersikap dan memperlakukan kedua-duanya dengan baik dan benar.

Berkaitan dengan barang-barang materiil, misalnya, bagi mereka yang petani, pekerjaannya sudah pasti berhubungan dengan soal tanah-sawah, dengan air, dan dengan tanaman-tanaman yang bisa dimanfaatkan. Bagi mereka yang berdagang, tentu kita sudah memahami, bahwa pedagang itu biasanya selalu dikelilingi dengan barang-barang dagangan. Bagi yang bekerja di pabrik; hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk mengurusi barang-barang produksi pabrik mereka. Begitu pula, para pegawai kantor, para sopir angkot, dll, mereka semua tidak bisa dipisahkan dengan barang-barang keperluan mereka masing-masing. Beberapa hal ini merupakan contoh bagaimana kita berhubungan dengan barang-barang material.

Kalau sejenak sempat kita renungkan, -rupanya- benda-benda materiil itu mempunyai sifat atau ciri tertentu, yaitu pasti dan teratur (atau sering disebut: continuity). Air umpamanya, pasti mengalir ke tempat yang lebih rendah. Kepastian demikian ini, sejak dahulu-kala sampai hari ini dan bahkan sampai akhir zaman nanti. Menanam padi akan panen padi, tidak ada ceritanya menanam padi akan panen kedelai, umpanya. Artinya bahwa barang-barang alami (atau baca: fenomena natural) memang mempunyai sifat yang teratur dan pasti. Ini adalah ciri yang pertama. Selanjutnya ada ciri yang lain, yaitu bahwa barang-barang alami itu bisa dibikin-bikin, misalnya tanah liat bisa dibikin jadi piring, keramik; kayu bisa dibikin jadi meja, kursi, dll. Inilah yang sering disebut dengan rekayasa (engineer) atau mungkin juga eksploitasi, artinya bisa dibikin-bikin sesuai selera kita.

Tanah-sawah misalnya bisa dicangkul oleh pak tani, bisa dibajak, dan lain sebagainya. Diperlakukan seperti itu, tanah tidak pernah protes atau membantah. Tanaman kurang subur, bisa diberi pupuk; jika terserang hama, dapat diberi obat-obatan, dst. Ternak ayam atau lele, jika ingin dapat dipanen lebih cepat, kita dapat memilih bibit unggul; jika kurang besar kita memberinya obat ‘pembesar’; jika terlalu besar, kita bisa memberinya obat diet, dst. Singkat kata, benda atau barang alami dapat kita eksploitasi atau dapat kita perlakukan dengan cepat; dapat kita rubah dengan cepat dan instan, sesuai dengan keinginginan kita.

Semua sifat prilaku alam, sebagaimana kita sampaikan tersebut, dapat kita mengerti melalui sarana akal (atau lebih tepatnya; intelektual). Dengan akal, manusia kemudian dapat memahami keteraturan prilaku alam, dan dengan intelektualnya manusia dapat menemukan peluang untuk memberdayakan alam. Begitulah, kecerdasan intelektual diperlukan untuk dapat memahami prilaku alam dan kemudian memberdayankannya.

Jika kita merujuk kepada ayat al-Qur’an, tidak sedikit ayat al-Qur’an yang menuntun kita supaya memperhatikan fenomena natural dan sudah tentu kemudian supaya mengambil hikmahnya. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta perbedaan malam dan siang, itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal”, demikian firman Allah dalam surat Ali ‘Imran (3); 190.

Berbeda dengan prilaku alam, prilaku manusia memang lebih rumit, atau lebih tepatnya lebih kompleks. Demikian ini, karena manusia diberi keistimewaan oleh Allah berupa perasaan dan sifat-sifat rohani lainnya. Perasaan dan sifat-sifat rohani itu yang membedakan kita selaku manusia dengan benda-benda alam/barang-barang materiil.

Oleh karenanya memahami masyarakat atau seseorang, sudah tentu tidak sama seperti memahami dan memperlakukan benda-benda (seperti tanaman, binatang, atau bahan-bahan bangunan). Berhubungan dan bergaul dengan sesama manusia, tidak cukup hanya dengan sarana akal, melainkan juga harus dengan perasaan (emosi). Kalau ada satu keluarga terdiri dari 5 anggota keluarga, berarti kita hidup di tengah-tengah 5 perasaan. Jika kita sedang mengobrol dengan seorang teman, ini artinya kita sedang berbicara atau berkomunikasi dengan orang yang punya perasaan, karena memang teman itu tidak hanya memiliki badan-jasmani, tetapi juga mempunyai rohani.

Oleh karena setiap manusia memiliki sifat rohani, maka sifat dan perangai manusia tidak terbentuk melalui waktu yang cepat. Berbeda dengan tumbuhan dan binatang yang bisa kita rubah-rubah secepat kilat. Merubah perangai manusia membutuhkan waktu yang panjang, karena banyak faktor yang turut mempengaruhi. Akal dapat mamahami apa yang tampak, tetapi mengerti dan merasakan apa yang dimaksud harus dengan perasaan. Tak lain, karena ungkapan, sifat, perangai, dan apa yang disampaikan/dibicarakan manusia, merupakan wujud dari perasaannya.

Semua itu terbentuk melalui waktu yang panjang, hampir setara dengan usianya. Kompleks atau rumitnya persoalan manusia seperti digambarkan ini, sering diibaratkan seperti “jam dinding”. Maksudnya, apa yang dapat kita tangkap dari jam dinding adalah jarumnya yang selalu berputar, menunjuk angka-angka tertentu. Dengan jarum jam kita kemudian dapat mengerti waktu dengan teratur, bahkan untuk keperluan itu kita harus membelinya dengan harga yang mahal, hanya untuk mendapat jaminan bahwa jarum jam itu menunjukkan waktu yang tepat.

Tetapi perlu diingat bahwa jarum jam yang tampak sederhana jika dilihat dari luar itu, ternyata dijalankan dengan mesin yang relatif rumit dan kompleks. Ini artinya, jika jam saja, persoalannya rumit seperti itu, bagaimana dengan manusia? jawabnya: apalagi manusia, sudah tentu lebih kompleks. Kompleksnya persoalan manusia ini juga banyak ditunjukkan dalam al-Qur’an, misalnya tentang hukum larangan minum khamr, mengundi nasib (berjudi), yang mana dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan tingkat kompleksitasnya. Bahkan sebagian isi kandungan al-Qur’an adalah berisi kisah-sejarah. Ini artinya supaya kita memperhatikan kompleksitas fenomena sosial.

Memahami fenomena sosial tidak cukup hanya dengan sarana intelektual tetapi harus dengan sarana emosi. Hanya mereka yang memiliki kecerdasan emosi yang dapat membantu menyelesaikan masalah kemanusiaan dengan baik. Oleh karenanya, sekali lagi, memahami, mendidik dan mengatur manusia tidak bisa dengan sederhana; mengatur dan merubah manusia tidak sama dengan mengatur dan merubah barang-barang materi, karena manusia memang bukan barang, tetapi makhluk Allah yang lebih mulia, yang dianugrahi sifat-sifat rohani.

Krisis berkepanjangan yang menimpa bangsa dan negeri kita, malah ada yang mengatakan: “kerusakan dan kebobrokan bangsa kita ini”, adalah karena gaya hidup kita, pola hidup masyarakat-bangsa Indonesia, yang tidak bisa membedakan; bagaimana menyikapi fenomena natural (seperti barang-barang alami), dan bagaimana menyikapi fenomena sosial (persoalan kemanusiaan).

Zaman memang sudah sedemikian maju, kecanggihan teknologi bisa kita lihat sudah ada di mana-mana, malah kita semua sudah merasakan dan menggunakannya. Akan tetapi, kita semua juga mengakui bahwa moral dan ajaran luhur sudah benar-benar luntur dan ambruk. Tugas manusia telah diganti dengan robot; kalau tidak ada robot, kemudian manusia dijadikan penggantinya. Manusia tidak boleh capek atau lelah, sebab kalau capek, akan mengalami penurunan produksi. Oleh karenanya, sebelum lelah orang harus minum obat kuat, obat anti lelah, dll. Unsur rohani manusia benar-benar ludes, habis dan tidak tersisa lagi.

Proses penghilangan unsur rohani dan perasaan ini, tampaknya ada pada semua lini kehidupan bangsa ini. Pola hubungan pemerintah dengan rakyatnya, hanya seperti mengatur barang-barang. Hubungan atasan dengan pegawainya, hanya diukur dengan sedikit banyaknya upah. Biaya pendidikan anak-anak sekolah semakin mahal. Ini artinya, saat ini sekolah mau memberi pengajaran, jika murid mau membayar, kalau tidak kuat membayar, silahkan minggir, sebab yang antri masih banyak.

Hidup bermasyarakat, bertetangga tidak pernah merasakan nikmat, sebab dalam bermasyarakat, perasaan sudah jauh ditinggalkan. Sehingga, meski hidup bertetangga sudah sekian lama, tapi tetap belum saling paham, prilakunya hanya semu dan basa-basi. Malah yang parah lagi, hidup berkeluarga; kehidupan suami-istri, kehidupan orang tua dengan anak-anaknya; tidak ada saling mengerti, tidak ada saling paham, tidak ada saling bicara dari hati ke hati. Semua ini karena bergaul tidak dengan perasaan, tetapi bergaul hanya seperti kepada barang-barang alam (sebagaimana telah kita sampaikan di atas)

Jika memang demikian, kerusakan bangsa ini sudah sedemikian parah. Tidak hanya dalam pola bernegara, tetapi juga dalam bermasyarakat, malah juga dalam berkeluarga-berumahtangga. Oleh karena itu, wajar jika tindakan maksiat, kejahatan, kesalahpahaman bisa ada di mana-mana, mulai yang berat sampai yang ringan-ringan. Bisa ada di pusat-pusat kota juga bisa terjadi di pelosok-pelosok dusun; ada di kantor-kantor bertingkat sampai ada di rumah kita sendiri. Ya..mulai peperangan, pengeboman sampai kesalahpahaman di dalam keluarga kita sendiri.

Kunci memahaminya adalah karena bangsa ini, termasuk kita juga, sudah meninggalkan unsur terpenting dari manusia, yaitu perasaan dan sifat rohani. Pada akhirnya, ya seperti yang kita lihat, bangsa kita menjadi bangsa yang tega berpesta di atas penderitaan sesama. Kita selaku bangsa, telah kehilangan jatidiri.

Ayat al-Qur’an (sebagaimana ayat yang saya kutip di depan) adalah ayat yang menunjukkan kisah Nabi Nuh as., yakni kisah tentang perintah membuat perahu, yang bahannya dari negarinnya sendiri. Di mana perahu tersebut dimaksudkan untuk menghadapi bahaya banjir bandang.

Kalau kita menyadari, sama seperti dalam kisah Nabi Nuh, negara kita atau bangsa Indonesia yang kita cintai ini sebenarnya sudah dilanda banjir bandang, suatu banjir yang besar sehingga sulit untuk dibendung, sulit dielakkan. Dalam hal ini, banjir tradisi, mental, dan kebiasaan dari negeri lain. Bedanya dengan nabi Nuh, jika nabi Nuh punya persiapan yang cukup, berupa perahu yang dibikin dari bahan di negarinnya sendiri. Sementara kita bangsa Indonesia sudah tidak ada persiapan lagi; bekal kita sudah habis.

Mungkin atas dasar inilah, para leluhur kita, para ulama kita, mengajarkan pada kita, bahwa membangun suatu bangsa harus dimulai dari awal dan step by step, malah harus dari masing-masing pribadi dan masing-masing keluarga.

Selaku masyarakat awam, tentu dzalim kalau kita memikirkan kerusakan bangsa ini secara keseluruhan. Meski kita tetap sadar, bahwa selaku pribadi, selaku anggota keluarga, dan selaku anggota masyarakat, kita sudah terlanjur hanyut dalam prilaku dan sikap yang sumbernya sebenarnya bukan dari watak asli bangsa kita. Oleh karena itu, mari kita segera melakukan muhasabah dan reformasi diri; mari perubahan kita mulai dari diri pribadi kita sendiri, lalu kalau bisa keluarga kita. yaitu dengan mengembalikan jati diri kita selaku manusia yang mempunyai perasaan, mempunyai kalbu dan sifat-sifat  rohani. Mari kita mulai dengan bergaul dalam keluarga, dengan tetangga dan masyarakat, dengan menjunjung tinggi perasaan, kehalusan budi, sehingga kesalahpahaman kecil maupun besar bisa dihindari. [ ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: