MENUJU AMPUNAN ALLAH

MENUJU AMPUNAN ALLAH

وَسَارِعُوْا اِلىَ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجنَّةٍ عَرْضُهَا السَّموتُ وَالاَرْضُ

اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ ]ال عمران:133[

Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu dan bersegeralah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS: Ali Imran; 133)

Dalam menjalani hidup ini, bimbingan suara hati nurani yang cenderung baik tidak jarang dikalahkan oleh situasi dan kondisi yang pada umumnya cederung menjerumuskan. Maka dorongan untuk hidup pada jalan kebenaran tidak jarang juga dikalahkan dan membuat hidup menjadi tergelincir dan menjauh dari norma agama. Sungguh beruntung bagi mereka yang segera sadar dan segera kembali. Namun, kenyataannya terkadang tidak mudah mengalahkan ‘godaan’ situasi; awalnya mungkin terasa terpaksa, namun lama-kelamaan terbiasa juga.

Jika sudah menjadi sedemikian ini, ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama suara hati nurani sudah benar-benar tak terdengar lagi. Ibarat kaca cermin (dengan mengikuti pendapat Imam al-Ghazali), hati yang demikian ini,  sudah sedemikian kotor, sehingga sudah tidak dapat dipakai bercermin lagi. Kedua, terjadi ‘pertarungan’ antara suara hati nurani dan kehendak untuk menuruti ‘ajakan’ situasi kondisi yang bersuara lain.

Di sinilah orang kemudian mengalami keadaan yang dilematis; ketika suara ‘ajakan’ itu muncul dengan kerasnya, syukur, kalau suara hati nurani dapat menolaknya, namun jika tidak, berarti ajakan ‘lain’ telah dijadikan pembimbing dalam hidupnya. Ini artinya suara kebaikan telah kalah, tidak berkutik lagi. Selanjutnya ketika suara hati nurani menguat, perasaan gelisah seringkali muncul, misalnya: apakah saya ini masih diterima oleh masyarakat; apakah saya masih diterima oleh sesama jamaah di masjid itu; apakah dosa-dosa ini masih bisa diampuni; apakah masih bisa saya menjalani hidup yang baru; apakah Allah berkenan menerima taubat ini?

Kegelisahan hati seperti ini memang bisa saja  terjadi, namun secepatnya harus segera bisa teratasi. Sebab bagaimanapun keadaannya, selama masih bersungguh-sungguh, mudah-mudahan Allah berkenan menyambutnya. Inilah firmanNya:

Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan bersegeralah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS: Ali Imran; 133)

Ayat ini menunjukkan bahwa pintu ampunan dan surga Allah selalu terbuka, bahkan dengan kalimat “bersegaralah” sebagaimana ayat di atas, Allah swt ‘mengajak’ untuk tidak ragu-ragu kembali ke jalan yang benar. Maka apa lagi yang membuat keraguan, jika kesadaran atas perbuatan dosa sudah disambut dengan ampunan dan surga. Dalam ayat yang selanjutnya, Allah menegaskan:

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاخِشَةً اَوْ ظَلَمُوْا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوْا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوْ الِذُنُوْبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلَى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ  ]135[  اُولئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنّتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الاَنْهَرُ خلِدِيْنَ فِيْهَا وَنِعْمَ اَجْرُ الْعمِلِيْن َ ]136[

Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau berbuat dzalim pada dirinya sendiri, mereka mengingat Allah lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahuinya. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah sebaik-baik pahala. (QS: Ali Imran; 135-136)

Sebagai manusia yang penuh khilaf, apalagi tidak mungkin manusia hidup sendirian, sudah tentu sulit bagi kita untuk benar-benar sterile dari perbuatan salah, namun sebagai muslim kita harus tetap sadar terhadap apa yang kita perbuat dengan selalu mengingat Allah (dzikrullah) dan memohon ampunNya (istighfar) atas segala kekhilafan.

Berdasarkan beberapa penjelasan ayat di atas, mestinya sudah tidak ada lagi bayangan bahwa Allah tidak mengampuni dosa hambaNya, selama mereka menyadari dan mengikutinya dengan mengingat Allah dan memohon ampunanNya. Dan sudah semestinya mulai dilakukan, belajar untuk mendengar suara hati nurani. Jika suara itu terdengar kecil, maka mencobalah dan berusahalah supaya suara itu terdengar lebih besar lagi. Ketika itulah seorang hamba sedang berjalan menuju ampunan Allah. [ ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: