Immanuel Kant dan Babak Baru Metafisika

Immanuel Kant dan Babak Baru Metafisika (Pemikiran Ketuhanan Model Pencerahan)

Oleh Mohammad Muslih

Pencerahan[1] adalah masa di mana corak pemikiran yang menekankan kedalaman unsur rasionalitas berkembang dengan pesatnya. Setelah ‘hilang’ pada masa abad pertengahan, –dimana otoritas kebenaran, pada umumnya, ada pada gereja dan para peter– unsur rasionalitas itu ‘seakan’ ditemukan kembali pada masa Renaisance (abad ke-15), dan kemudian mencapai puncaknya pada masa pencerahan (abad ke-18) ini.

Pada masa itu lahir berbagai temuan dan paradigma baru di bidang ilmu, dan terutama paradigma ilmu ‘fisika’ alam. Heliosentris temuan Nicolaus Copernicus (1473-1543) di bidang ilmu astronomi yang meruntuhkan paradigma geosentris,[2] mengharuskan manusia mereinterpratesi pandangan dunianya, tidak hanya pandangan dunia ilmu tetapi juga keagamaan. Kemudian disusul Galileo Galilie (1564-1642) yang menemukan hukum gerak dan kecepatan, bahkan Newton (1642-1727) dengan kegigihannya selalu dan selalu mendapatkan temuan-temuan baru di bidang fisika (yaitu apa yang sekarang dikenal dengan hukum alam, misalnya air mendidih dengan suhu 100°c dll). Maka tak hayal lagi jika ilmu fisika (untuk tidak mengatakan paradigma Newton) merupakan paradigma yang cukup dominan. Inilah ciri yang pertama zaman Pencerahan. Selanjutnya ciri kedua adalah apa yang dikenal dengan deisme,[3] yaitu suatu paham yang kemudian melahirkan apa yang disebut Natural Religion (agama alam) atau agama akal. Deisme adalah suatu ajaran yang mengakui adanya yang menciptakan alam semesta ini. Akan tetapi setelah dunia diciptakan, Tuhan menyerahkan dunia kepada nasibnya sendiri. Sebab Ia telah memasukkan hukum-hukum dunia itu ke dalamnya. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan hukum-hukumnya. Manusia dapat menunaikan tugasnya dalam berbakti kepada Tuhan dengan hidup sesuai dengan hukum-hukum akalnya. Maksud paham ini adalah menaklukkan wahyu ilahi beserta dengan kesaksian-kesaksiannya, yaitu buku-buku Alkitab, mukjizat, dll. kepada kritik akal serta menjabarkan agama dari pengetahuan yang alamiah, bebas dari pada segala ajaran Gereja. Singkatnya, yang dipandang sebagai satu-satunya sumber dan patokan kebenaran adalah akal.

Sebagai filsuf yang hidup pada puncak perkembangan Pencerahan Jerman, Kant sudah tentu terpengaruh suasana zamannya itu. Kant gelisah dengan kemajuan yang dicapai manusia. Bagaimana manusia bisa menemukan hukum alam, apa hakikat di balik hukum alam (metafisika!) itu; benarkah itu Tuhan? Bagaimana manusia mempercayai Tuhan? Inilah beberapa kegelisahan (akademik) nya.[4] Sama seperti Newton yang mencari prinsip-prinsip yang ada dalam alam organik, Kant berusaha mencari prinsip-prinsip yang ada dalam tingkah laku dan kecenderungan manusia. Inilah yang kemudian menjadi kekhasan pemikiran filsafat Kant, dan terutama metafisikanya yang  –dianggap–  benar-benar berbeda sama sekali dengan metafisika pra Kant.

Makalah ini coba mengkaji bagaimana metafisika a’la Kant dan bagaimana metafisikanya itu berbicara persoalan ketuhanan, yang akan diawali lebih dulu dengan pembicaraan sekitar latar belakang pemikirannya dan metodologi “kritisisme”nya.

Kant dan Latar Belakang Pemikirannya

Immanuel Kant adalah seorang filosof besar yang pernah tampil dalam pentas pemikiran filosofis zaman Aufklärung Jerman menjelang akhir abad ke 18. Ia lahir di Kőnigsberg, sebuah kota kecil di Prussia Timur, pada tanggal 22 April 1924. Kant lahir sebagai anak keempat dari suatu keluarga miskin. Orang tua Kant adalah pembuat pelana kuda dan penganut setia gerakan Peitisme. Pada usia delapan tahun Kant memulai pendidikan formalnya di Collegium Fridericianum, sekolah yang berlandaskan semangat Peitisme.[5] Di sekolah ini ia dididik dengan disiplin sekolah yang keras. Sebagai seorang anak, Kant diajar untuk menghormati pekerjaan dan kewajibannya, suatu sikap yang kelak amat dijunjung tinggi sepanjang hidupnya. Di sekolah ini pula Kant mendalami bahasa latin, bahasa yang sering dipakai oleh kalangan terpelajar dan para ilmuwan saat itu untuk mengungkapkan pemikiran mereka.

Pada tahun 1740 Kant belajar di universitas di kotanya. Karena alasan keuangan, Kant kuliah sambil bekerja; ia menjadi guru privat dari beberapa keluarga kaya di Kőnigsberg. Di Universitasnya ia berkenalan baik dengan Maartin Knutzen (1713-1751), dosen yang mempunyai pengaruh besar terhadap Kant. Knutzen adalah seorang murid dari Christian von Wolff (1679-1754), dan seorang profesor logika dan metafisika. Pada tahun 1755 Kant memperoleh gelar “Doktor” dengan disertasi berjudul: Meditationum quarundum de igne succinta delineatino (Penggambaran Singkat dari Sejumlah Pemikiran Mengenai Api), adalah sebuah karya yang juga di bidang ilmu alam.

Perkembangan pemikiran Kant mengalami empat periode.[6] Periode pertama ialah ketika ia masih dipengaruhi oleh Leibniz-Wolff, yaitu sampai tahun 1760. Periode ini sering disebut periode rasionalistik. Periode kedua berlangsung antara tahun 1760-1770, yang ditandai dengan semangat skeptisisme. Periode ini disebut periode empiristik. Pada periode ini pengaruh Hume sangat dominan. Karya Kant Dream of a Spirit Seer ditulis pada periode ini. Periode ketiga dimulai dari inaugural dissertation-nya pada tahun 1770. Periode ini bisa dikenal sebagai “tahap kritik”. Periode keempat berlangsung antara tahun 1790 sampai tahun 1804. Pada periode ini Kant mengalihkan perhatiannya pada masalah religi dan problem-problem sosial. Karya Kant yang terpenting pada periode keempat adalah Religion within the Limits of Pure Reason (1794) dan sebuah kumpulan esei berjudul Eternal Peace (1795).

Leibniz dan Hume

Kecuali tradisi Pencerahan dan tradisi Peistis yang memiliki pengaruh dalam kehidupan Kant, Leibniz dan Hume adalah di antara banyak filsuf yang mempunyai pengaruh besar pada Kant, terutama untuk membangun epistemologinya. Khusus kepada Hume, Kant merasa bahwa Humelah yang telah membangunkannya dari sikap dogmatisme.[7] Setelah membaca karya-karya Hume, Kant kemudian tidak lagi menerima prinsip-prinsip rasionalisme dan aksioma-aksioma ontologi, bahkan pemikiran (termasuk etika!) nya dibangun dari kritik atas dogmatisme.[8] Sementara pada Leibniz, meski Kant tidak mengambil alih pemikiran Leibniz (sebenarnya juga Wolff), beberapa istilah teknis Kant berasal dari mereka seperti istilah a priori dan a posteriori.

Leibniz-Wolff dan Hume merupakan wakil dari dua aliran pemikiran filosofis yang kuat melanda Eropa pada masa Pencerahan. Leibniz tampil sebagai tokoh penting dari aliran rasionalisme,[9] sedangkan Hume muncul sebagai wakil dari aliran empirisisme.[10]

Di sini jelas, bahwa epistemologi ‘ala Leibniz bertentangan dengan epistemologi Hume. Leibniz berpendapat bahwa sumber pengetahuan manusia adalah rasionya saja, dan bukan pengalaman. Dari sumber sejati inilah bisa diturunkan kebenaran yang umum dan mutlak. Sedangkan Hume mengajarkan bahwa pengalamanlah sumber pengetahuan itu. Pengetahuan rasional mengenai sesuatu terjadi setelah sesuatu itu dialami terlebih dahulu.

Kritisisme Kant

Seperti disampaikan di atas, bahwa sebelum Kant memang muncul perdebatan soal “objektivitas pengetahuan” yaitu oleh pemikiran rasionalisme di Jerman sebagaimana dikembangkan Leibniz-Wolff dengan empirisisme Inggris yang kemudian bermuara dalam pemikiran Hume. Filsafat Kant berusaha mengatasi dua aliran tersebut dengan menunjukkan unsur-unsur mana dalam pikiran manusia yang berasal dari pengalaman dan unsur-unsur mana yang terdapat dalam akal. Kant menyebut perdebatan itu dengan antinomy,[11] seakan kedua belah pihak merasa benar sendiri, sehingga tidak sempat memberi peluang untuk munculnya alternatif ketiga yang barangkali lebih menyejukkan dan konstruktif.

Mendapatkan inspirasi dari “Copernican Revolution”, Kant mengubah wajah filsafat secara radikal, di mana ia memberikan tempat sentral pada manusia sebagai subjek berpikir. Maka dalam filsafatnya, Kant tidak mulai dengan penyelidikan atas benda-benda sebagai objek, melainkan menyelidiki struktur-struktur subjek yang memungkinkan mengetahui benda-benda sebagai objek. Lahirnya pengetahuan karena manusia dengan akalnya aktif mengkonstruksi gejala-gejala yang dapat ia tangkap. Kant mengatakan:

Akal tidak boleh bertindak seperti seorang mahasiswa yang cuma puas dengan mendengarkan keterangan-keterangan yang telah dipilihkan oleh dosennya, tapi hendaknya ia bertindak seperti hakim yang bertugas menyelidiki perkara dan memaksa para saksi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri telah rumuskan dan persiapkan sebelumnya.[12]

Upaya Kant ini dikenal dengan kritisisme atau filsafat kritis, suatu nama yang diberikannya sendiri. Kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dulu menyelidiki kemampuan rasio dan batas-batasnya.

1. Kritik atas Rasio Murni

Dalam kritik ini, antara lain Kant menjelaskan bahwa ciri pengetahuan adalah bersifat umum, mutlak dan memberi pengertian baru. Untuk itu ia terlebih dulu membedakan adanya tiga macam putusan. Pertama, putusan analitis a priori; di mana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (misalnya, setiap benda menempati ruang). Kedua, putusan sintesis aposteriori, misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah (=post, bhs Latin) mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. Ketiga, putusan sintesis a priori: di sini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat a priori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya”. Putusan ini berlaku umum dan mutlak (jadi a priori), namun putusan ini juga bersifat sintetis dan aposteriori. Sebab di dalam pengertian “kejadian” belum dengan sendirinya tersirat pengertian “sebab”. Maka di sini baik akal maupun pengalaman indrawi dibutuhkan serentak. Ilmu pasti, mekanika, dan ilmu pengetahuan alam disusun atas putusan sisntetis yang bersifat a priori ini. Menurut Kant, putusan jenis ketiga inilah syarat dasar bagi apa yang disebut pengetahuan (ilmiah) dipenuhi, yakni bersifat umum dan mutlak serta memberi pengetahuan baru. Persoalannya adalah bagaimana terjadinya pengetahuan yang demikian itu?

Menjawab pertanyaan ini Kant menjelaskan bahwa pengetahuan itu merupakan sintesis dari unsur-unsur yang ada sebelum (prius, bhs Latin) pengalaman yakni unsur-unsur a priori dengan unsur-unsur yang ada setelah pengalaman yakni unsur-unsur aposteriori. Proses sintesis itu, menurut Kant terjadi dalam tiga tingkatan pengetahuan manusia sekalipun. Tingkat pertama dan terendah adalah pencerapan indrawi (sinneswahrnehmung), lalu tingkat akal budi (verstand), dan tingkat tertinggi adalah tingkat rasio/intelek (Versnunft).

a. Tingkat Pencerapan Indrawi (Sinneswahrnehmung)

Pada taraf pencerapan indrawi ini sintesis antara unsur-unsur a priori dengan unsur-unsur aposteriori sudah terjadi. Unsur a priori, pada taraf ini, disebut Kant dengan ruang dan waktu.[13] Dengan unsur a priori ini membuat benda-benda objek pencerapan ini menjadi ‘meruang’ dan ‘mewaktu’. Pengertian Kant mengenai ruang dan waktu ini berbeda dengan ruang dan waktu dalam pandangan Newton. Kalau Newton menempatkan ruang dan waktu “di luar” manusia, Kant mengatakan bahwa keduanya adalah a priori sensibilitas. Maksud Kant, keduanya sudah berakar di dalam struktur subjek. Ruang bukanlah ruang kosong, ke dalamnya suatu benda bisa ditempatkan; ruang bukan merupakan “ruang pada dirinya sendiri” (Raum an sich).[14] Dan waktu bukanlah arus tetap, di mana pengindraan-pengindraan berlangsung, tetapi ia merupakan kondisi formal dari fenomena apapun, dan bersifat a priori.[15]

Implikasi dari pernyataan Kant di atas adalah bahwa memang ada realitas yang terlepas dari subjek. Menurut Kant, memang ada “benda pada dirinya sendiri” (das Ding an sich), tetapi realitas ini tidak bisa diamati atau diselidiki. Yang bisa diamati dan diselidiki hanyalah fenomen-fenomen atau penampakan-penampakan (Erscheinungen) nya saja, yang tak lain merupakan sintesis antara unsur-unsur yang datang dari luar sebagai materi dengan bentuk-bentuk a priori ruang dan waktu di dalam struktur pemikiran manusia.

b. Tingkat Akal Budi (Verstand)

Bersamaan dengan pengamatan indrawi, bekerjalah akal budi (Verstand) secara spontan. Tugas akal budi adalah menyusun dan menghubungkan data-data indrawi, sehingga menghasilkan putusan-putusan. Dalam hal ini akal budi bekerja dengan bantuan daya fantasinya (Einbildungskraft). Pengetahuan akal budi baru diperoleh ketika terjadi sintesis antara pengalaman indrawi tadi dengan bentuk-bentuk a priori yang dinamai Kant dengan “kategori” (Kategorie), yakni ide-ide bawaan yang mempuyai fungsi epistemologis dalam diri manusia.[16]

Dalam menerapkan kategori-kategori ini, akal budi bekerja begitu rupa, sehingga kategori-kategorinya itu hanya cocok dengan data-data yang dikenainya saja. Kalau misalnya ada peristiwa bahwa setelah dipanaskan dengan api, ternyata kemudian air di dalam bejana mendidih, maka akal budi akan bekerja dengan menerapkan kategori kausalitas (dan hanya dengan kategori ini saja!) terhadap fenomen-fenomen itu; dan lantas membuat pernyataan “air di dalam bejana itu mendidih karena dipanaskan dengan api”. Dengan demikian terjadilah sintesis antara unsur-unsur aposteriori, yakni data indrawi yang berfungsi sebagai materi (api membakar bejana berisi air, air itu mendidih) dan unsur a priori yang berfungsi sebagai bentuk (kategori kausalitas). Dengan demikian Kant tampak juga menjelaskan sahnya ilmu pengetahuan alam.

c. Tingkat intelek / Rasio (Versnunft)

Menurut Kant, yang dimaksud dengan intelek / Rasio (Versnunft) adalah kemampuan asasi (Principien) yang mencipta pengertian-pengertian murni dan mutlak, karena rasio memasukkan pengetahuan khusus kedalam pengetahuan yang bersifat umum. Di mana di dalamnya manusia dapat bergerak lebih jauh, sampai menyentuh azas-azas yang tidak lagi dapat dirunut. Dengan demikian sampailah kepada sesuatu yang mutlak, tanpa syarat. Yang Mutlak itu adalah Idea. Kant menyebut dengan Idea transendental. Yaitu yang menguasai segenap pemikiran sebagai idaman.[17]

Idea ini sifatnya semacam “indikasi-indikasi kabur”, petunjuk-petunjuk buat pemikiran (seperti juga kata “barat” dan “timur” merupakan petunjuk-petunjuk; “timur” an sich tidak pernah bisa diamati). Tugas intelek adalah menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan pada tingkat di bawahnya, yakni akal budi (Verstand) dan tingkat pencerapan indrawi (Senneswahnehmung). Dengan kata lain, intelek dengan Idea-idea argumentatif.

Menurut Kant, ada tiga Idea transendental. Pertama Idea psikis (jiwa) yaitu merupakan gagasan mutlak yang mendasari segala gejala batiniah. Kedua, gagasan yang menyatukan segala gejala lahiriah, yakni Idea kosmologis (dunia). Dan akhirnya, gagasan yang mendasari segala gejala, baik yang lahiriah maupun yang batiniah, yaitu yang terdapat dalam suatu pribadi mutlak, yakni Tuhan sebagai Idea Teologis.

Kendati Kant menerima ketiga Idea itu, ia berpendapat bahwa mereka tidak bisa diketahui lewat pengalaman. Karena pengalaman itu, menurut Kant, hanya terjadi di dalam dunia fenomenal, padahal ketiga Idea itu berada di dunia noumenal (dari noumenon= “yang dipikirkan”, “yang tidak tampak”, bhs Yunani), dunia gagasan, dunia batiniah. Idea mengenai jiwa, dunia, dan Tuhan bukanlah pengertian-pengertian tentang kenyataan indrawi, bukan “benda pada dirinya sindiri” (das Ding an sich). Ketiganya merupakan postulat atau aksioma-aksioma epistemologis yang berada di luar jangkauan pembuktian teoretis-empiris.[18]

Tampaknya di sinilah pemikiran ketuhanan Immanuel Kant bisa diposisikan. Tuhan sebagai postulat yang dengannya rasio murni ‘bekerja’ menghasilkan pengetahuan murni dan mutlak. (analisis lebih jauh akan dibicarakan tersendiri pada bagian akhir makalah ini).

2. Kritik atas Rasio Praktis

Apabila kritik atas rasio murni memberikan penjelasan tentang syarat-syarat umum dan mutlak bagi  pengetahuan manusia, maka dalam “kritik atas rasio praktis” yang dipersoalkan adalah syarat-syarat umum dan mutlak bagi  perbuatan susila. Kant coba memperlihatkan bahwa syarat-syarat umum yang berupa bentuk (form) perbuatan dalam kesadaran itu tampil dalam perintah (imperatif). Kesadaran demikian ini disebut dengan “otonomi rasio praktis” (yang dilawankan dengan heteronomi). Perintah tersebut dapat tampil dalam kesadaran dengan dua cara, subyektif dan obyektif. Maxime (aturan pokok) adalah pedoman subyektif bagi perbuatan orang perseorang (individu), sedangkan imperatif (perintah) merupakan azas kesadaran obyektif yang mendorong kehendak untuk melakukan perbuatan.[19] Imperatif berlaku umum dan niscaya, meskipun ia dapat berlaku dengan bersyarat (hepotetik) atau dapat juga tanpa syarat (kategorik).[20] Imperatif kategorik tidak mempunyai isi tertentu apapun, ia merupakan kelayakan formal (=sollen). Menurut Kant, perbuatan susila adalah perbuatan yang bersumber pada kewajiban dengan penuh keinsyafan. Keinsyafan terhadap kewajiban merupakan sikap hormat (achtung). Sikap inilah penggerak sesungguhnya perbuatan manusia.

Kant, pada akhirnya ingin menunjukkan bahwa kenyataan adanya kesadaran susila mengandung adanya praanggapan dasar. Praanggapan dasar ini oleh Kant disebut “postulat rasio praktis”,[21] yaitu kebebasan kehendak, immortalitas jiwa dan adanya Tuhan. Hukum susila merupakan tatanan kebebasan, karena hanya dengan mengikuti hukum susila orang menghormati otonomi kepribadian manusia. Kebakaan jiwa merupakan pahala yang niscaya diperoleh bagi perbuatan susila, karena dengan keabadian jiwa bertemulah ‘kewajiban’ dengan kebahagiaan, yang dalam kehidupan di dunia bisa saling bertentangan. Pada gilirannya, keabadian jiwa dapat memperoleh jaminan hanya dengan adanya satu pribadi, yaitu Tuhan. Namun, sekali lagi, harus dipahami bahwa postulat itu tidak dibuktikan, tetapi hanya dituntut, karena kita sama sekali tidak mempunyai pengetahuan teoretis.[22] Menerima ketiga postulat tersebut Kant menyebutnya dengan kepercayaan (“Glube”).

Pemikiran etika ini, menjadikan Kant dikenal sebagai pelopor lahirnya apa yang disebut dengan “argumen moral” tentang adanya Tuhan. Sebenarnya, Tuhan dimaksudkan sebagai postulat. Sama dengan pada rasio murni, dengan Tuhan, rasio praktis ‘bekerja’ melahirkan perbuatan susila.

3. Kritik atas Daya Pertimbangan

Konsekwensi dari “kritik atas rasio murni” dan “kritik atas rasio praktis” menimbulkan adanya dua kawasan tersendiri, yaitu kawasan kaperluan mutlak di bidang alam dan kawasan kebebasan di bidang tingkah laku manusia. Adanya dua kawasan itu, tidak berarti bertentangan atau dalam tingkatan. Kritik atas Daya Pertimbangan (Kritik der Urteilskraft), dimaksukkan oleh Kant, adalah mengerti persesuaian kedua kawasan itu. Hal itu terjadi dengan menggunakan konsep finalitas (tujuan). Finalitas bisa bersifat subjektif dan objektif. Kalau finalitas bersifat subjektif, manusia mengarahkan objek pada diri manusia sendiri. Inilah yang terjadi dalam pengalaman estetis (kesenian). Dengan finalitas yang bersifat objektif dimaksudkan keselarasan satu sama lain dari benda-benda alam.[23]

Idealisme Transendental: Metafisika in the New Paradigm

Tidak mudah memahami Kant, terutama ketika sampai pada teorinya: realisme empirikal (Empirical realism) dan idealisme transendental (transendental idealism),[24] apa lagi jika mencoba mempertemukan bagian-bagian dari teorinya itu. Istilah “transenden” berhadapan dengan istilah “empiris”, di mana keduanya sama-sama merupakan term epistemologis, namun sudah tentu mengandung maksud yang berbeda; yang pertama berarti independen dari pengalaman (dalam arti transenden), sedang yang terakhir disebut berarti imanen dalam pengalaman. Begitu juga “realisme” yang berlawanan dengan “idealisme”, adalah dua istilah ontologis yang masing-masing bermakna: “lepas dari eksistensi subyek” (independen of my existence) dan “bergantung pada eksistensi subyek” (dependen of my existence). Teori Kant ini mengingatkan kita kepada filsuf Berkeley dan Descartes. Berkeley sudah tentu seorang empirisis, tetapi ia sekaligus muncul sebagai seorang idealis.[25] Sementara Descartes bisa disebut seorang realis karena ia percaya bahwa eksistensi obyek itu, secara umum, independen dari kita, tetapi ia juga memahami bahwa kita hanya mengetahui esensinya melalui idea bawaan (innate ideas) secara “clear and distinct”, bukan melalui pengalaman. Inilah yang kemudian membuat Descartes sebagai seorang “realis transendental.”[26]

Membandingkan teori ketiga filosof ini memang tidak bisa dengan sederhana. Tabel di samping ini,[27] hanyalah untuk melihat dan memahami (konsistensi) teori Kant. Pada tabel itu tampak  bahwa “Transcendental” (ē) dihadapkan dengan “empirical” (e), dan “idealism” (ř) adalah lawan dari “realism” (r). Pemikiran Kant sendiri digambarkan sebagai sebagai dua hal yang bertentangan. Dan memang “empirical realism” dan “transcendental idealism” jika diterapkan pada objek-objek yang sama, akan tampak sangat kontradiksi. Tetapi “batu hitam dan salju putih” bukanlah merupakan suatu kontradiksi. Maka sebenarnya “Kantian realism” dan “Kantian idealism” bisa dipertemukan dalam sebuah perbedaan, yaitu antara apa yang disebut dengan “fenomena” dengan “things-in-themselves”; di mana yang pertama berlaku pada yang pada pertama dan yang akhir berlaku pada yang akhir.

“Empirical realism”, dengan demikian, mengandung makna pengetahuan tentang “objek yang imanen dalam pengalaman dan independen dari exsistensi subjek”. Pengenalan dengan objek secara langsung, pada umumnya, adalah termasuk dalam ‘wilayah’ ini. Sementara metafisika yang Kant maksudkan adalah “transcendental idealism”. [28] Maksudnya adalah jika “transcendental” secara epistemologis bermakna “independen dari pengalaman”,  sementara “idealism” bermakna “bergantung pada eksistensi subjektif” secara ontologis, maka “transcendental idealism” harus diberi makna dengan pengetahuan tentang “objek yang bergantung pada eksistensi subjektif tetapi bebas dari pengalaman subjek”

Dengan demikian makna yang ganjil tentang “trancendental idealism” dalam pemikiran Kant ini tampak sudah bisa terselesaikan, yang dapat dipahami dengan mengatakan bahwa tidak ada pengetahuan tentang objek itu (we say that there is simply no knowledge  in this case), yang tak lain adalah “Jiwa” yang bergantung pada existensi saya (subjek) tetapi bukan merupakan (bagian) pengalaman saya, karena saya tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Dalam hal ini, moralitas menurut Kant, juga bukan realitas empiris, karena moralitas merupakan realitas “regulative” dari entitas metafisik.

Sampai di sini, penulis ingin mengemukakan bahwa metafisika Kant bukanlah sebagai ilmu spekulatif mengenai “relitas hakiki” (essensi, substansi, “ada”, causa prima, dll.) yang berada di “luar sana” (dalam arti “relitas eksternal”) sebagaimana metafisika pra Kant, tetapi merupakan studi mengenai kaidah-kaidah tertentu (umpamanya “kewajiban”) yang –berbeda dengan matematika atau ilmu alam- tidak bisa diperoleh berdasarkan pengamatan empiris atas tingkah laku manusia atau pelbagai gejala fisis, melainkan harus didirikan atas dan diasalkan dari rasio.[29] Metafisika Kant adalah sistem murni: ia diperoleh secara a priori. Oleh karenanya metafisika Kant mau menyelidiki manakah syarat-syarat yang harus dipenuhi supaya manusia bisa berpikir (teori) dan atau bertindak (praksis). Logika formal sebenarnya juga bersifat a priori, namun berbeda dengan metafisika, logika formal tidak menentukan objek-objek pengalaman, hal yang justru dilakukan oleh metafisika Kant. Lewat tangan Kant inilah, metafisika menemukan paradigmanya yang baru, yakni merupakan mode of thought.

Tuhan, Sebuah Object of Thought[30]

Di atas telah di uraikan tentang ‘posisi’ Tuhan dalam rasio murni dan rasio praktis, begitu pula tentang cara ‘kerja’ metafisika a’la Kant. Berdasarkan ‘bekal’ ini, akan kita lihat peta pemikiran ketuhanan dalam metafisika Kant.[31]

Dalam kritik rasio murni, Kant sudah menjelaskan bahwa pemikiran Idea tentang Tuhan, yang dianggap sebagai ciptaan rasio murni itu adalah suatu “transendental Idea”. Rasio murni (sama sekali) tidak mengekspresikan intuisi apapun tentang Tuhan, tidak dapat juga kita menmbuat kesimpulan (deduksi) tentang wujud Tuhan dari Idea itu. Kita melihat Tuhan laksana dalam sebuah cermin; tidak pernah berhadap-hadapan langsung. Karenanya tidak mungkin mendeduksi eksistensi Tuhan dari Idea tentang Tuhan. Idea ini adalah ciptaan rasio murni, yang adalah suatu Idea Transendental. Lebih jauh, walaupun kita (memaksakan, pen.) berpikir tentang Tuhan sebagai substansi mutlak, Tuhan tetap tidak menjadi dan tidak dapat menjadi suatu substansi; karena Ia bertransenden pada kategori-kategori pengertian manusia. Karenanya, jika kita mengakui cara pandang ini, dengan jelas kita tidak dapat menyatakan apakah ada suatu “Ada Mutlak” yang berhubungan dengan Idea tentang Tuhan, paling tidak sejauh Idea itu terlibat berpikir tentang Tuhan di dalam kategori-kategori. Inilah inti problem ketuhanan yang ada dalam kritik rasio murni.

Selanjutnya dalam kritik rasio praktis, Kant menawarkan hukum moral untuk meyakini Tuhan. Kant Juga membenarkan mengimani Tuhan sebagai postulat rasio praktis. Kita, kata Kant, mencapai atau dapat mencapai “mengimani Tuhan” melalui refleksi atas tuntutan-tuntutan hukum moral sebagai suatu sintesis antara virtue dan happiness. Di situ Kant menunjukkan perhatiannya dengan menemukan suatu peralihan langsung dari “kesadaran hukum moral” kepada “kepercayaan akan Tuhan.” Di mana imperatif kategoris digambarkan sebagai wadah yang dalam dirinya sendiri, termuat seluruh kewajiban manusia sebagai “Titah Tuhan” (divine commands). Kewajiban-kewajiban itu ada dalam Tuhan (to see all in God), yaitu dalam imperatif kategoris. Pengetahuan tentang kewajiban saya sebagai “Titah Tuhan,” dikatakan, adalah juga melalui imperatif kategoris. Konsep tentang Tuhan, dengan demikian, adalah konsep tentang suatu subjek di dalam diri saya sendiri yang membebani kewajiban. Imperatif kategoris, menurut Kant, adalah suara Tuhan; Tuhan yang dimanifestasikan dalam kesadaran kewajiban moral melalui hukum moral.

Sampai di sini menjadi jelas, bahwa Kant tetap bersikeras menyatakan bahwa tidak ada bukti tentang adanya Tuhan sebagai suatu substansi yang berada di luar kesadaran manusia. Maka sebenarnya, secara sederhana bisa disimpulkan bahwa kata ‘Tuhan’ menurut Kant adalah suatu nama untuk imperatif kategoris itu sendiri atau suatu nama bagi proyeksi subjektif dari suatu suara yang berkata melalui hukum moral.[32]

Akhirul Kalam

Bermodalkan kritisismenya, Kant membangun metafisika yang dapat dipertangungjawabkan secara ilmiah. Ia menjadikan struktur pikir manusia sebagai titik pijaknya. Para filosof terdahulu, tradisi Peistis, dan terutama tradisi Pencerahan, terlihat cukup berpengaruh dalam bangunan filsafatnya, termasuk ketika berbicara tentang problem ketuhanan. Bahwa ‘peta’ pemikiran ketuhanan dalam metafisika Kant setidaknya mencerminkan dua masalah pokok, pertama tentang hakikat (kalau boleh memakai istilah ini, pen.) Tuhan dan kedua persoalan cara pembuktian (argumen) adanya (juga kalau boleh memakai istilah ini, pen.) Tuhan. Maka hakikat Tuhan adalah Ideal Transendental, sedang cara pembuktian adanya Tuhan, adalah melalui dua argumen, yaitu argumen pemikiran (thought) dan argumen moral (practice). Argumen pemikiran (thought) memungkinkan dan membenarkan lahirnya pengetahuan dan argumen moral (practice) memungkinkan dan membenarkan lahirnya perbuatan susila. Namun pada umumnya argumen terakhirlah yang diidentifikasikan kapada Kant.

Wallâhu a’lam bishshawâb, Yogya, Juni 2002

Daftar Pustaka

Abdullah, M. Amin, The Idea of Universality of Ethical Norm in Ghazali & Kant, Ankara, Turkiye Diyanet Vakfi, 1992

Acton, HB., Kant’s Moral Philosophy, London, MacMillan, 1970

Bakhtiar, Amsal, Drs. MA,  Filsafat Agama 1, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1997

Bertens, K., Ringkasan Sejarah filsafat, Yogyakarta, Kanisius, 1998/v

Copleston, Frederick, A History of Philosophy, Vol. VI, London,  Search Press, 1960

Delfgaauw, Bernard, Sejarah Ringkas Filsafat Barat, Alih bahasa Soejono Soemargono, Yogyakarta, Tiara Wacana Yogya, 1992

Descartes, R., Meditations on Fisrt Philosophy, dalam M. Hollis, The Light of Reason, Rationalst Philosopher pf the 17th century, Oxford, 1973

Hadiwiyono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius, 1980

Kant, Immanuel, Critique of Pure Reason, Translated by JMD. Meiklejohn, New York, Prometheus Books, 1990

Kant, Immanuel, Prolegomena  to Any Future Metaphysics, terj. The Paul Carus, revisi oleh James W. Ellington (Indianapolish/Cambridge: Hackett Publishing Company, 1977)

Kelly, AV., MA (eds), Philosophy Made Simple, London, Laxon Heinenaann, 1982

Ross, Kelley L., Ph.D, Copyright © 2000,2002, dalam http://www.friesian.com/kant.htm.

Scruton, Roger, A Short History of Modern Philoshophy, From Descartes to Wittgenstein, 2nd edition, London and New York, Routledge, 1996

Siswanto, Joko, Sistem-Sistem Metafisika Barat, Dari Aristoteles sampai Derrida, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1998

Sumargono, Soejono, Berpikir Secara Kefilsafatan, Yogyakarta, Nur Cahaya, 1988

Tjahjadi, SP. Lili, Hukum Moral, Ajaran Immanuel Kant tentang Etika dan Imperatif kategoris,  Yogyakarta, Kanisius, 1991

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: