LOGIKA: dari Kebiasaan, Sarana Ilmiah hingga Nalar Burhani

LOGIKA:

dari Kebiasaan, Sarana Ilmiah hingga Nalar Burhani

Oleh: Mohd. Muslih

Abstrak

Artikel ini menyumbangkan pemikiran cukup penting dalam studi filsafat, terutama dalam perspektif logika. Logika bisa dikatakan ruhnya filsafat. Studi filsafat akan kehilangan arah jika tidak ada bekal logika. Sebagai sistem pikir, logika ternyata dapat dipahami mulai dari yang paling sederhana sekalipun, yakni dalam pengalaman dan kebiasaan sehari-hari; dari sinilah sebenarnya logika bermula, lalu meningkat menjadi sarana ilmiah yang dengannya akan diperoleh pengetahuan ilmiah, bahkan perkembangan selanjutnya, logika telah menjadi semacam cara pandang terhadap dunia (worldview), yang disebut dengan nalar burhani.

Kata Kunci: filsafat, epistemologi, abstraksi, mantiq, konsep, proposisi, silogisme

Studi filsafat serasa tidak sempurna jika tidak dilengkapi dengan studi logika, bahkan studi filsafat akan kehilangan arah jika tidak ada bekal logika. Di dunia Islam, cabang filsafat ini lebih dikenal dengan ilmu al-mantiq. Ilmu ini pernah mengalami masa kejayaan terutama di saat berkembangnya tradisi intelektualisme yang memang membutuhkan kekuatan berargumentasi, baik berujud karya tulis maupun kecakapan praktis dalam berdebat. Karena, bangunan argumen akan kokoh jika landasan logikanya kuat dan tepat.

Maka, bagi mereka yang bergumul dengan tradisi keilmuan, logika masih menjadi ilmu yang menarik. Namun dalam kehidupan yang cenderung pragmatis seperti dewasa ini, logika jelas merupakan ilmu yang tidak menarik: sulit, membosankan dan tidak berguna. Jika memang demikian, maka tradisi keilmuan tentu sulit untuk diwujudkan. Padahal menurut sejarahnya, ilmu logika pernah berkembang di hampir seluruh tradisi keilmuan, termasuk di dunia Islam. Logika juga menjadi bangunan dasar (fundamental structure) pemikiran sejumlah filsuf muslim, seperti al-Farabi, al-Kindi, Ibn Shina, al-Ghazali, dan Ibn Rusyd. Mereka lalu dijuluki filsuf peripatetik (masysyaiy) yang dinisbahkan kepada Aristotle, sebagai peletakdasar ilmu ini.[1] Bahkan khusus al-Farabi sampai diberi gelar “guru kedua” (al-mu’allim al-tsani) atas keberhasilannya mengintegrasikan logika “sang guru pertama” Aristotle pada bangunan pemikirannya.

Artikel ini menunjukkan bagaimana posisi kajian logika sebagai “pintu masuk” bagi filsafat, dan bagaimana struktur dasar (fundamental structure) dari bangunan logika, bahkan juga menunjukkan perkembangan logika lebih jauh, mulai sebagai sarana ilmiah sampai sebagai worldview.

Posisi Kajian Logika

Logika[2] merupakan bagian dari kajian epistemologi, yaitu cabang filsafat yang membicarakan pengetahuan. Logika bisa dikatakan ruhnya filsafat. Mungkin tidak ada filsafat kalau tidak ada logika. Dalam kajian epistemologi, pengetahuan disebut benar jika ia diperoleh melalui cara-cara yang bertanggungjawab dan menunjukkan adanya kesesuaian dengan kenyataan.[3] Yang dimaksud dengan cara yang bertanggungjawab adalah cara yang secara formal bisa diterima oleh akal sehat. Sedang yang dimaksud dengan sesuai dengan kenyataan adalah pengetahuan yang secara materiil bisa dibuktikan pada kenyataan. [4]

Dalam proses pengetahuan itu, logika berperan pada posisi yang pertama, yaitu sebagai “jalan” atau cara yang sehat untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Maka logika merupakan (atau setidaknya menyediakan) hukum atau peraturan formal, yang dengan melaluinya, akan diperoleh pengetahuan yang benar. Disebut “akan diperoleh” karena belum tentu benar-benar diperoleh.

Itulah sebabnya, dengan mengikuti “jalan”nya, logika “menjanjikan” hanya akan diperoleh pengetahuan yang “tepat”. Dalam filsafat memang ada pemahaman, bahwa pengetahuan yang tepat itu belum tentu benar tetapi pengetahuan yang benar itu pasti tepat.[5] Dikatakan “tepat” karena telah melalui hukum pikir yang sehat (logis), tetapi bisa jadi yang melalui hukum pikir itu adalah bahan yang tidak pada kenyataannya.

Misalnya dikatakan: semua mahasiswa ISID tinggal di asrama, sementara Firman adalah mahasiswa ISID. Atas dasar dua pernyataan ini, jika ada yang mengatakan: “berarti Firman tinggal di asrama”. Ini merupakan pengetahuan yang tepat. Karena telah melalui akal yang sehat, siapapun yang akalnya sehat akan menyatakan hal yang sama. Pernyataan demikian ini tidak bisa ditolak, meski belum tentu bisa diterima. Inilah sifat pengetahuan yang tepat. Pengetahuan ini baru disebut benar, jika ada bukti nyata bahwa memang tak satupun mahasiswa ISID itu tinggal di luar asrama dan juga ada bukti nyata bahwa Firman (yang ini, bukan yang itu) memang merupakan mahasiswa ISID.

Sebagaimana halnya filsafat, seseorang mempunyai pemikiran yang teratur, lurus dan konsisten tidak harus terlebih dulu belajar ilmu logika. Seiring dengan perkembangan usia dan pengalamannya, dalam banyak hal, orang sudah melakukannya dengan benar. Di sinilah yang disebut logika natural, yaitu pola pikir teratur yang tumbuh secara alami. Sedang logika sebagai ilmu yang –di atas dikatakan– merupakan sarana memperoleh pengetahuan yang benar disebut logika artifisial atau logika saintifika.[6] Maksudnya, logika yang diperoleh melalui belajar dan memang digunakan untuk membangun pengetahuan. Ekstrimnya bisa dikatakan bahwa logika saintifika ini digunakan untuk merepresentasikan fakta melalui bahasa, sebagaimana fakta itu sendiri “berbicara”, bahkan orang mempelajari logika untuk menyiapkan diri agar dapat berargumen dengan benar.[7]

Sejalan dengan itu, filsafat memang “mengandaikan” bahwa logika itu sesuai dengan hukum-hukum alam.[8] Maka orang yang pola pikirnya logis disebut sedang “waras”, sebaliknya orang yang tidak mengikuti hukum logika disebut tidak waras. Jika Firman mengatakan bahwa batu yang dilemparkannya ke atas itu tidak akan jatuh ke bawah, maka orang lantas mempertanyakan kewarasan otak Firman. Pada sisi ini, logika bisa disebut ilmu normatif. Maksudnya ilmu yang berbicara apa yang seharusnya, buka apa adanya.[9] Orang harus mengikutinya, jika tidak mau, dikatakan tidak waras.

Dalam sejarah perkembangannya, ilmu logika mengenal dua istilah yaitu logika tradisional dan logika modern.[10] Logika tradisional adalah logika yang menekankan pada analisis bahasa, bercorak deduktif, dan secara historis memang temuan filsuf klasik.[11] Sedang logika modern merupakan modifikasi dan revisi oleh filsuf zaman modern, bercorak induktif dan diperkaya dengan simbol-simbol, termasuk simbol matematis, meski masalah bahasa tetap tidak ditinggalkan.

Karena bagi logika, bahasa adalah simbol dari pemikiran dan apa yang dipikirkan manusia bisa disimbolkan dengan bahasa. Itulah sebabnya mengapa logika mempunyai kedekatan dengan ilmu bahasa, tetapi, sekali lagi, merupakan bagian dari ilmu filsafat. Logika membicarakan hukum-hukum pikiran, sedang ilmu bahasa membicarakan hukum-hukum bahasa. Keduanya memang tidak bisa dipisahkan, tetapi tetap harus dibedakan.[12]

Bagi logika, apa yang dipikirkan manusia mesti bisa di-bahasa-kan. Itupun ternyata masih belum cukup, karena “bahasa” itu masih harus disampaikan, dipahamkan dan diujikan kepada banyak orang atau komunitas. Jika “umum” mengakui, itu berarti “logis”. Di sinilah sebabnya, mengapa logika juga terlihat ‘berkutat’ pada analisis bahasa, meski penekanannya lebih kepada persoalan makna (kandungan) bahasa.

Ada banyak kata kunci yang harus dimengerti untuk memahami struktur pikir logika, seperti konsep (al-tashawwur), proposisi (al-qadliyah), dan silogisme (istidlal qiyasi), serta kata-kata kunci lain yang terkait dengan itu.

Al-Tajrid dan Al-Tashawwur, berawal dari pengalaman

Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita sudah terbiasa memanfaatkan benda-benda di sekeliling kita, untuk itu wajar kalau kita mengenalnya dengan baik, atau paling tidak mengetahuinya dengan benar.[13] Mulai dari perabotan rumah tangga, seperti gelas, piring, mangkuk, dll; peralatan sekolah atau kantor, seperti pensil, penggaris, buku, dst. Kita juga mengenal berbagai jenis dan nama tumbuhan, jenis dan nama binatang yang juga bisa dimanfaatkan untuk kehidupan kita.

Begitu juga, kita bisa membedakan bahwa si A adalah rajin, si B anaknya pandai, si C orangnya sopan dll. Pada saat yang lain, kita juga mengenal, atau bahkan telah memanfaatkan hasil teknologi mutakhir, misalnya, radio, TV, komputer, kulkas, kipas angin, AC, internet, telepon seluler, dll. Pernahkan kita memikirkan bagaimana kita tiba-tiba memberi sebutan sesuatu dengan istilah tertentu?

Sadarkah kita, bahwa ternyata setiap saat kita terlibat dalam proses “pembiasaan”. Kita tampaknya telah terbiasa mendengar orang menyebut sesuatu dengan istilah tertentu. Sehingga disadari atau tidak, kita telah mengumpulkan ciri-ciri sesuatu itu. Ketika ciri-ciri itu sudah dapat kita tangkap, maka dengan mudahnya kita menyebut barang lain yang berbeda bentuknya, ukurannya, warnanya, rasanya, dst., bahkan yang ada di tempat yang lain sekalipun, dengan sebutan yang sama.

Atau bisa juga, karena kita terbiasa hidup ditemani oleh barang-barang, sehingga kita dapat menangkap ciri-ciri barang tersebut setelah kita terlibat proses identifikasi sederhana. Dari situ kita pun kemudian memberinya sebutan dengan istilah tertentu.

Dengan proses identifikasi sederhana terhadap ciri-ciri benda yang kita beri sebutan itu, kemudian kita pun dengan mudah menyebut dengan sebutan yang sama pada benda lain, di saat dan di tempat lain, hanya karena memiliki ciri-ciri yang sama.

Apa yang kita sebut “proses” di sini adalah proses dalam pengertian aktivitas pikir (bukan gerakan badani). Dalam filsafat, proses identifikasi sederhana terhadap ciri-ciri suatu objek disebut abstraksi (al-tajríd)[14], sedangkan “sesuatu” yang yang ditunjuk sejumlah “ciri-ciri tetap” yang tertangkap pikiran itu disebut konsep atau pengertian (al-tashawwur). Sementara “kata” tertentu untuk memberi sebutan terhadap “sesuatu” objek tertentu disebut ístilah atau term (al-kalimah). Selanjutnya jika ístilah dituangkan atau diuraikan dalam bentuk kalimat dengan mempertimbangkan intensi dan ekstensinya,[15] maka itulah yang disebut dengan definition (hadd atau al-tahdid).

Demikianlah, ístilah merupakan simbol dari konsep atau pengertian yang ‘tersimpan’ dalam pikiran. Dalam prakteknya, bisa dilihat, biasanya (tidak selalu!) orang yang mengerti tampak manggut-manggut ketika mendengarkan pembicaraan. Meski demikian, banyak juga orang yang sebenarnya mengerti tapi tidak tahu apa istilahnya (namanya). Di sini kemudian sering terjadi kesalahan dalam memberikan istilah. Atau bisa juga, orang sudah mendengar istilahnya, tapi tidak mengerti apa maksud istilah itu. Di sini kesalahan juga sering terjadi. Misalnya, biar tampak “keren”, seseorang sering memakai istilah-istilah asing, namun ketika ditanya apa maksudnya, jawabannyapun berputar-putar. Dua jenis kesalahan ini, bisa dikategorikan ke dalam istilah misunderstanding.

Untuk menghindari kesalahpengertian ini diperlukan apa yang disebut dengan definisi konsep. Maka pembahasan “definisi” (al-hadd) itu menjadi penting, dalam hal ini, agar didapat suatu pengertian atau maksud yang terkandung dalam istilah tertentu. Karena, dengan definisi, pengertian yang –notabene– tersimpan dalam pikiran dituangkan dalam bentuk bahasa dengan bantuan ‘norma-norma’ definisi.[16] Maka definisi tak lain adalah penjelasan berupa uraian kalimat atas pengertian kita.

Maka demikianlah, “mengerti sesuatu” itu sebenarnya suatu rentetan proses aktivitas pikir, yang berawal dari keterlibatan seseorang dalam proses abstraksi, dengan begitu lalu punya konsep atau pengertian, konsep atau pengertian itu lalu dituangkan dalam bentuk istilah. Dengan ‘bekal’ ini, ia dapat mengkaitkan konsep yang dimiliki dengan benda lain, di waktu dan tempat lain. Hasil akhir dari proses ini disebut pengetahuan, yaitu ketika sudah dapat mengumpulkan dua konsep atau lebih dengan keterhubungan yang logis.

Misalnya orang berkata: mangga ini manis, mangga ini tidak asem, mangga ini besar, dst. Artinya orang tersebut punya pengetahuan bahwa ini mangga, kebetulan rasanya manis; ini juga mangga, hanya saja yang ini asem, dst. Artinya lagi, orang tersebut dapat mengkaitkan konsepnya tentang mangga dengan mangga ini, mangga itu, mangga yang di sana, bahkan mengkaitkan konsepnya tentang mangga dengan sifat-sifat tertentu, semisal: manis, asem, dan besar.

“Hubungan logis” dua konsep itu yang dikenal dengan “tashdiq”. Bentuk hubungan logis itu adakalanya positif (itsbat) seperti tampak pada kalimat “mangga ini manis” dan ada kalanya negatif (nafy) seperti tampak pada kalimat “mangga ini tidak asem”.

Selanjutnya, dalam “proses mengetahui” ini, kita dihadapkan pada dua objek, yaitu objek konkrit (dalam hal ini, benda-benda konkrit) dan objek abstrak (dalam hal ini, keadaan atau sifat sesuatu, misalnya rajin, susah, utara, hijau, dll). Itulah sebabnya pengetahuan itu ada disebut pengetahuan konkrit dan pengetahuan abstrak. Pembagian pengetahuan ini dilihat dari sisi objek. Terkait dengan ini, dalam kajian logika dikenal ada konsep (tashawwur) yang bersifat awwali[17] dan ada pula yang bersifat mathlubi.[18]

Dalam prakteknya yang lebih kompleks, proses mengetahui itu terjadi atas dasar pengalaman. Seorang mbok jamu (perempuan yang biasa menjual jamu tradisional) misalnya, menawarkan salah satu produk jamunya, yang katanya dapat menyembuhkan orang yang sakit perut. Kalau ditanya, mengenai buktinya. Dia menjawab, bahwa khasiat jamu ini sudah dibuktikan bertahun-tahun, tak lupa dia juga menyebut nama si-A, si-B yang sembuh dari sakit perut setelah minum jamu ramuannya itu.

Contoh yang lain, para petani misalnya, mereka segera tahu, kapan mulai menggarap sawahnya, kapan waktunya memupuk tanamannya, dst. Petani ini melakukan tindakannya secara tepat.

Kedua contoh ini menunjukkan bahwa proses pengetahuan manusia itu juga terjadi karena proses pengalaman. Maka wajar jika ada pernyataan: karena pengalaman lalu menjadi tahu atau tahu karena pengalaman.

Pengetahuan jenis ini, sebenarnya juga melalui proses yang panjang. Sepanjang sejarah, terutama masyarakat tradisional selalu mendasarkan pengetahuannya pada pengalaman. Metode yang dipakai adalah apa yang sekarang kita kenal dengan istilah trial and error (coba-coba salah); terus coba dan coba lagi. Maka selama dalam pengalamannya tidak terjadi kasus kesalahan, maka itulah yang diambil sebagai kebenaran (dalam hal ini, pengetahuan yang benar), bahkan menolak segala apa yang dianggapnya di luar yang bisa dialami.

Maka begitulah, objek dari pengetahuan jenis ini adalah objek empiris, yaitu objek yang dapat dialami oleh indera. Oleh karenanya tingkat kebenaran atau validitas pengetahuan ini adalah sejauh bisa dialami.

Dalam filsafat, istilah pengalaman, kecuali bermakna pengalaman indrawi, juga bermakna pengalaman psikis, bahkan pengalaman intuitif (batini). Pembahasan untuk ini memang telah menghabiskan banyak halaman buku. Di sini hanya diberikan contoh illustrasi.

Misalnya pernyataan: Ali duduk termenung; Ali sedang susah. Pernyataan pertama adalah ungkapan dari hasil tangkapan indra, sedang pernyataan kedua adalah ungkapan hasil dari tangkapan psikis. Demikian juga dengan contoh: “kopi ini manis; gadis itu manis”, yang pertama berdasarkan pada kesan indrawi sedang yang kedua berdasarkan pada kesan psikis.

Pengalaman ini berbeda dengan seseorang misalnya yang merasakan ni‘mat “luar biasa” ketika sedang í‘tikaf di antara malam bulan ramadlan. Dan pengalaman itu hanya bisa dirasakan namun tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata (unspeakable). Bahkan dengan pengalamannya itu terjadi perubahan (transformasi) ruhani, biasanya dari kekanak-kanakan religius ke kedewasaan religius. Inilah yang dimaksud dengan pengalaman intuitif.[19]

Al-Qadliyah dan Al-Istidlal, dasar-dasar penalaran ilmiah

Di atas telah disampaikan bahwa menurut logika, apa yang dipikirkan manusia mesti bisa di-bahasa-kan, artinya harus disampaikan, dipahamkan dan diujikan kepada banyak orang atau komunitas. Jika masyarakat pada umumnya tidak men-salahpahami, itu berarti “logis”.

Dalam logika, orang disebut mengetahui jika ia bisa mem-bahasa-kannya atau menyatakannya dengan sarana bahasa sebagai simbolnya. Simbol minimal dari pengetahuan manusia itu adalah apa yang disebut dengan proposisi (al-qadliyah). Yang dimaksud dengan proposisi adalah kalimat berita yang sempurna, yang mana kalimat itu mengandung “makna” benar atau salah.[20] Jadi, yang dimaksud “benar atau salah” itu bukan kalimatnya, tetapi kandungannya.

Proposisi memang berwujud kalimat, tetapi tidak semua kalimat bisa disebut proposisi. Kalimat perintah, kalimat larangan, kalimat sanjungan, kalimat permohonan; semua ini adalah kalimat tetapi bukan proposisi. Hanya kalimat berita yang sempurna dan mengandung benar-salah saja yang disebut proposisi.

Apa kriteria “benar-salah” itu? jawabnya ada dua ukuran, yaitu: pertama, dilihat dari ada-tidaknya pertentangan di dalam kalimat itu. Misalnya, “Jambu adalah sejenis buah-buahan”. Kalimat ini benar, karena memang tidak ada pertentangan dalam kalimat itu sendiri. Lain lagi jika dinyatakan: “jambu adalah sejenis mamalia”. Proposisi yang demikian ini disebut proposisi a priori. Disebut demikian karena benar-salahnya sudah ketahuan tanpa membuktikan di lapangan. Ada juga yang menyebutnya dengan proposisi analitis, karena benar-tidaknya bisa diketahui dengan menganalisis term-termnya dan hubungan antar term atau karena predikatnya merupakan keharusan bagi subjeknya.[21]

Ukuran kedua, dilihat dari ada-tidaknya kesesuaian dengan kenyataan. Misalnya: “kelas ini bersih”. Kalimat ini mengandung kebenaran jika memang kenyataannya demikian, begitu sebaliknya. Bagaimana membuktikannya, ya.. harus dilihat dulu. Inilah yang disebut proposisi a posteriori, yaitu proposisi yang benar-salahnya itu baru diketahui setelah membuktikan di lapangan. Proposisi ini terkadang disebut proposisi sintesis, karena proposisi ini diputuskan (maka dalam logika, proposisi juga disebut keputusan!) setelah menimbang, dst., mendengar laporan, dst., dan melihat kelas-kelas yang lain, lalu diputuskan bahwa “kelas ini bersih”.

Begitulah, problem proposisi dalam kajian logika memang kompleks; banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi. Initinya, agar proposisi itu benar-benar sehat, tidak cacat. Termasuk pembahasan yang penting adalah soal unsur-unsur proposisi, yaitu terdiri dari tiga term. Term pertama disebut subjek, term kedua disebut predikat, dan term ketiga (penghubung) disebut kopula.[22] Apa hakikat ketiga term ini, dalam logika juga merupakan pembahasan yang cukup menarik. Karena dengan ketiga term ini, proposisi bisa dilihat, baik kualitas maupun kuantitasnya.[23]

Pada prakteknya, logika sebenanarnya tidak hanya menggunakan sarana rasio, tetapi juga imajinasi. Imajinasi inilah yang mengajak kita untuk melanglang buanakan pikiran (rasio) kita. Hal demikian ini diperlukan dalam berpikir. Jika TVRI menayangkan Paman Dolit yang sedang bermain dengan teman-temannya sambil makan pisang, lalu kulit pisang itu dibuang saja sembarangan, lalu Paman Dolit jatuh terpleset. Dan tayangan itu selesai sampai di situ. Itu bukan sekedar rentetan peristiwa, bukan tayangan tanpa pesan. Dan hanya orang-orang yang punya imajinasi yang bisa “menangkap” adanya pesan itu. Misalnya “buanglah sampah pada tempatnya” atau “tindakan ceroboh itu membahayakan” dst.

Jika di arah situ terlihat asap tebal tak terkirakan. Orang akan berteriak: “kebakaran, kebakaran…”. Ini namanya lompatan berpikir dan hanya bagi orang yang peka imajinasinya yang bisa melakukannya. Itu karena di ‘kepala’ orang tadi, sudah ada file atau common sense (kesadaran umum): setiap ada asap pasti ada api, jika asap kecil api mesti kecil, jika asap tebal pasti api juga besar; sementara di situ terlihat asap tebal, maka di situ pasti kebakaran. Memang belum tentu, tapi kebanyakan tentu juga.

Bagi logika, adanya lompatan berpikir ini yang disebut ilmiah. Inilah yang selama ini dikenal dengan ‘ilm al-yaqín. Dan ini memang targetnya. Ketika terlihat asap tebal seperti tadi, orang bisa langsung telpon polisi atau tim pemadam kebakaran. Tidak dengan membuktikannya lebih dulu, apalagi jalan kaki dan baru sampai di TKP setelah sekian menit/jam. Setelah terbukti baru menelpon tim pemadam kebakaran. Dibanding cara logika, bisa jadi, langkah ini lebih meyakinkan, dan karenanya disebut ‘ain al-yaqín, tetapi dengan bermaksud membuktikannya saja barang kali sudah tidak ada lagi yang bisa diselamatkan.[24]

Lompatan berpikir itu dalam logika masuk dalam pembahasan silogisme[25] atau biasanya juga disebut istidlal qiyasi.[26] Dengan berbekal dua proposisi yang sehat, kemudian ditentukanlah suatu kesimpulan (natijah). Dua proposisi yang sehat itu disyaratkan ada satu saja term yang sama, apapun kedudukannya. Satu term yang sama itu biasanya disebut middle term (simbolnya: M), yaitu istilah yang disebut dua kali; pada premis mayor sekali dan pada premis minor sekali. Maka silogisme itu terdiri dari tiga proposisi: dua proposisi pertama disebut premis (muqaddimah), yaitu premis mayor (muqaddimah kubra) dan premis minor (muqaddimah sughra), sedangkan proposisi ketiga disebut kesimpulan (natijah).

Premis mayor dimaksudkan sebagai dasar atau pangkal tolak berpikir dan akhirnya untuk menentukan kesimpulan, sedang premis minor dimaksudkan sebagai penghubung atau sarana yang memungkinkan untuk dibuat kesimpulan.[27] Contoh: ketika masih SD di kampungnya, Ali mempunyai teman, namanya Firman. Sejak tamat SD itu Ali tidak pernah ketemu lagi, karena Firman diajak keluarganya untuk pindah tempat yang Ali sendiri tak tahu di mana. Ali tiba-tiba kangen, tapi tidak mungkin Ali tiba-tiba saja pergi tak tentu kemana tujuannya.

Untuk itu ia coba-coba cari informasi, setelah sekian lama kemudian dipastikan bahwa Firman (yang itu) adalah mahasiswa ISID, sementara selama ini semua orang bahkan Ali sendiri sudah tahu bahwa setiap mahasiswa ISID tinggal di asrama. Maka sekali Ali datang ke ISID, ia pun kemudian berketemu dengan Firman.

Begitulah logika memang mempermudah kita dengan memberikan aturan-aturan berpikir. Coba bayangkan jika seandainya Ali harus pergi dari satu kota ke kota lainnya, dari satu kampus ke kampus lainnya. Itupun kalau diketahui Firman memang seorang mahasiswa, kalau tidak, maka akan lebih repot lagi.

Maka untuk kasus ini, silogismenya adalah: jika semua mahasiswa ISID tinggal di asrama (ini yang tadi disebut pandangan umum); Sementara Firman adalah mahasiswa ISID (Ini yang disebut penghubung); Maka Firman pasti tinggal di asrama (ini namanya natijah).

Dengan silogisme, Ali dapat “meramalkan” dengan tepat bahwa Firman tinggal di asrama ISID. Inilah yang disebut logika inferensi (pola pikir meramal dengan jika-maka) yang khas kajian logika.

Nalar Burhani, sebuah worldview

Dalam bahasa Arab, al-burhan berarti argumen (al-hujjah) yang jelas (al-bayyinah; clear) dan distinc (al-fashl), yang dalam bahasa Inggris adalah demonstration, yang mempunyai akar bahasa Latin: demonstratio (berarti memberi isyarat, sifat, keterangan, dan penjelasan). Dalam perspektif logika, burhani adalah aktivitas berpikir untuk menetapkan kebenaran suatu premis melalui metode penyimpulan (al-istintaj) dengan menghubungan premis tersebut dengan premis yang lain yang oleh nalar dibenarkan atau telah terbukti kebenarannya (badlihiyyah). Sedang dalam pengertian umum, burhani adalah aktivitas nalar yang menetapkan kebenaran suatu premis.

Menurut Abied al-Jabiri, istilah burhani merupakan sebutan untuk sebuah sistem pengetahuan (nidlam ma’rifi) yang menggunakan metode tersendiri di dalam pemikiran dan memiliki pandangan dunia tertentu, tanpa bersandar kepada otoritas pengetahuan yang lain. Di sini posisi logika berkembang tidak hanya sebagai metodologi penalaran ilmiah tetapi sudah menjadi semacam “pandangan dunia” (worldview) yang memiliki ciri khas tersendiri.

Sebagai sebuah worldview, logika dapat dilihat dari pandangannya tentang realitas, pendekatan yang digunakan untuk memahami atau menafsirkan realitas, bagaimana memberikan peran pada akal, dan apa yang di“cari” dari seluruh pencapaian atas usaha logika.

Sepanjang uraian di atas, dapat dilihat bahwa logika bertolak dari pandangan bahwa hakikat realitas adalah universal. Hal ini akan menempatkan “makna” dari realitas pada posisi otoritatif, sedangkan “bahasa” yang bersifat partikular hanya sebagai penegasan atau ekspresinya (representasinya, pen.). Hal ini tampak sejalan dengan penjelasan al-Farabi bahwa “makna” datang lebih dahulu dari pada “kata”, sebab makna datang dari sebuah pengkonsepsian intelektual yang berada dalam tataran pemikiran atau rasio yang kemudian diaktualisasikan dalam kata-kata. Al-Farabi memberikan pengandaian bahwa seandainya konsepsi intelektual itu letaknya dalam kata-kata itu sendiri, maka yang lahir selanjutnya bukanlah makna-makna dan bukan pemikiran-pemikiran baru tetapi kata-kata yang baru.

Jadi setiap ilmu burhani berpola dari nalar burhani dan nalar burhan bermula dari proses abstraksi yang bersifat akali terhadap realitas sehingga muncul makna, sedang makna sendiri butuh aktualisasi sebagai upaya untuk bisa dipahami dan dimengerti, sehingga di sinilah ditempatkan kata-kata; atau, dengan redaksi lain, kata-kata adalah sebagai alat komunikasi dan sarana berpikir di samping sebagai simbul pernyataan makna.

Secara struktural, proses yang dimaksud di atas terdiri dari tiga hal, pertama adalah proses eksperimentasi yakni pengamatan terhadap realitas; kedua proses abstraksi, yakni terjadinya gambaran atas realitas tersebut dalam pikiran; dan ketiga adalah ekspresi yaitu mengungkapkan realitas dalam kata-kata.[28]

Berkaitan dengan cara ketiga untuk mendapatkan ilmu burhani di atas, pembahasan tentang silogisme demontratif atau qiyas burhani menjadi sangat signifikan. Silogisme berasal dari bahasa Yunani “sullogismos” yang artinya mengumpulkan, yang menunjukkan pada kelompok, penghitungan dan penarikan kesimpulan. Kata tersebut diterjemahkan kedalam bahasa Arab menjadi qiyas atau tepatnya adalah qiyas jama’i yang karakternya mengumpulkan dua proposisi-proposisi (qadliyah) yang kemudian disebut premis, kemudian dirumuskan hubungannya dengan bantuan terminus medius (middle term) atau term tengah, yaitu menuju kepada sebuah konklusi yang meyakinkan.[29] Metode ini paling populer di kalangan filsuf Peripatetik.

Sementara Ibn Rusyd mendefinisikan “demontrasi” dengan ketentuan dari satu argumen yang konsisten, tidak diragukan lagi kebenarannya yang diperoleh dari premis yang pasti sehingga kesimpulan yang akan diperoleh juga pasti, sementara bentuk dari argumen harus diliputi oleh fakta akali. Jadi silogisme demonstratif atau qiyas burhani yang dimaksud adalah silogisme yang premis-premisnya terbentuk dari konsep-konsep yang benar, yang meyakinkan, sesuai dengan realitas dan diterima oleh akal.

Aplikasi dari bentukan silogisme ini haruslah melewati tiga tahapan yaitu tahap pengertian (ma’qulat), tahap pernyataan (ibarat) dan tahap penalaran (tahlilat).[30]

Tahapan pengertian merupakan proses awal yang letaknya dalam pikiran sehingga di sinilah sebenarnya terjadi pengabstraksian, yaitu merupakan aktivitas berpikir atas realitas hasil pengalaman, pengindraan, dan penalaran untuk mendapatkan suatu gambaran. Sebagaimana Aristoteles, pengertian ini selalu merujuk pada sepuluh kategori yaitu satu substansi (jauhar) yang menopang berdirinya sembilan aksidensi (‘ard) yang meliputi kuantitas, kualitas, aksi, passi, relasi, tempat, waktu, sikap dan keadaan.

Tahapan pernyataan adalah dalam rangka mengekspresikan pengertian tersebut dalam kalimat yang disebut proposisi (qadliyah). Dalam proposisi ini haruslah memuat unsur subjek (maudlu’) dan predikat (muhmal) serta adanya relasi antara keduanya, yang darinya harus hanya mempunyai satu pengertian dan mengandung kebenaran yaitu adanya kesesuaian dengan realitas dan tiadanya keragu-raguan dan persangkaan.

Tahapan penalaran; ini dilakukan dengan perangkat silogisme. Sebuah silogisme harus terdiri dari dua proposisi (al-muqaddimatani) yang kemudian disebut premis mayor (al-hadd al-akbar) untuk premis yang pertama dan premis minor (al-hadd al-ashghar) untuk premis yang kedua, yang kedua-duanya saling berhubungan dan darinya diterik kesimpulan logis.

Mengikuti Aristoteles, al-Jabiri dalam hal ini menegaskan bahwa setiap yang burhani pasti silogisme, tetapi belum tentu yang silogisme itu burhani. Silogisme yang burhani (silogisme demonstratif atau qiyah burhani) selalu bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan, bukan untuk tujuan tertentu seperti yang dilakukan oleh kaum sufistaiyah (sophis). Silogisme (al-qiyas) dapat disebut sebagai burhani, jika memenuhi tiga syarat: pertama, mengetahui sebab yang menjadi alasan dalam penyusunan premis; kedua, adanya hubungan yang logis antara sebab dan kesimpulan; dan ketiga, kesimpulan yang dihasilkan harus bersifat pasti (dlaruriyyah), sehingga tidak ada kesimpulan lain selain itu. Syarat pertama dan kedua adalah yang terkait dengan silogisme (al-qiyas). Sedang syarat ketiga merupakan karakteristik silogisme burhani, di mana kesimpulan (natijah) bersifat pasti, yang tak mungkin menimbulkan kebenaran atau kepastian yang lain. Hal ini dapat terjadi, jika premis-premis tersebut benar dan kebenarannya telah terbukti lebih dulu ketimbang kesimpulannya, tanpa adanya premis penengah (al-hadd al-awsath).

Dalam perspektif tiga teori kebenaran, maka kebenaran yang dihasilkan oleh pola pikir burhani tampak ada kedekatannya dengan teori kebenaran koherensi atau konsistensi. Dalam burhani menuntut penalaran yang sistematis, logis, saling berhubungan dan konsisten antara premis-premisnya, juga secara benar koheren dengan pengalaman yang ada. Kebenaran tidak akan terbentuk atas hubungan antara putusan dengan sesuatu yang lain, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. Dengan perkataan lain bahwa kebenaran ditegakkan atas dasar hubungan antara putusan baru dengan putusan lain yang telah ada dan diakui kebenarannya dan kepastiannya sehingga kebenaran identik dengan konsistensi, kecocokan dan saling berhubungan secara sistematis.

Akhirul Kalam

Pengalaman sehari-hari ternyata merupakan serpihan-serpihan logika yang menarik. Seiring dengan itu, dengan logika kebiasaan atau pengalaman ternyata telah menjadi sedemikian bermakna. Demikian juga, maju-mundurnya tradisi intelektualisme bisa dilacak dari sejauhmana apresiasi kaum intelektualnya terhadap logika. Selanjutnya, akumulasi berbagai pandangan dan disiplin ilmu yang mengikuti pola pikir logika, ternyata membuat logika menjadi lebih dari sekedar sarana ilmiah, tetapi malah menjadi semacam cara pandang tersendiri dalam melihat, menafsirkan, dan memperlakukan dunia. Suatu cara pandang yang menempatkan akal sebagai instrumen yang dapat merepresentasikan realitas ini dengan tepat.

Dengan kata lain, kontribusi logika dalam kehidupan ini, tidak hanya bersifat praktis, tetapi teoretis, bahkan filosofis. Maka studi filsafat melalui pintu logika, tetaplah menarik. Wallahu a’lam bishshawab

Daftar Pustaka

Abri, Ali, Drs. MA, Pengantar Logika Tradisional, (Surabaya: Usaha Nasional, 1994)

Achmad, Mudlor, Ilmu dan Keinginan Tahu, (Bandung: Trigenda Karya, 1995)

al-Attas, Seyyed Naquib, Islam dan Filsafat Sains, (Bandung: Mizan, 1995)

al-Jabiri, Mohammad ‘Abied, Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi, (Beirut: al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi, 1993)

Amein, Miska Muhammad, Epistemologi Islam, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1983)

Angel, Richad B., Reasoning and Logic, (New York: Century Crafts, 1964)

Copi, Irving M., Introduvtion to Logic, (New York: MacMillan Publishing, 1978)

Gazalba, Sidi, Sistematika Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977)

Ibrahimi, Muhammad Nur, ‘Ilmu al-Mantiq, (Surabaya: Maktabah Said ibn Nashir Nabhan, tt)

Kneller, George F., Logic & language of Education, (New York: , 1966)

Langeveld, MJ., Menuju ke Pemikiran Filsafat (terj.), (Jakarta: PT. Pembangunan, 1959)

Ma’luf, Louis, Munjid, (Beirut: ,1973)

McCall, Raymond J., Basic Logic, (New York: Barnes&Noble, 1966)

OFM, Alex Lanur, Logika Selayang Pandang, (Yogyakarta: Kanisius, 1990)

Poedjawiijatna, Logika, Filsafat Berpikir, (Jakarta: CV. Mutiara Agung, 1980)

Poespoprojo, W., Logika Scientifika, Pengantar Dialektika dan Ilmu, (Bandung: Pustaka Grafika, 1999)

Randall & Buchler, Introduction to Philosophy, (New York: Barnes and Noble, 1994)

Rapar, Jan Hendrik, Pengantar Logika, Asas-Asas Penalaran Sistematis, (Yogyakarta: Kanisius, 1996)

Sambas, Drs. H. Sukriadi, Mantik, Kaidah Berpikir Islami, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000 cet ke-3)

White, Morton, The Age of Analysis, (New York: New American Library, 1960)


[1]Konon, karena kebiasaan Aristotle dalam mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya sambil berjalan-jalan mengitari para muridnya itu.

[2]Berasal dari bahasa Latin “Logos” yang berarti “pekataan” atau “sabda”. Dalam kata Arab digunakan kata “mantiq” yang berasal dari kata “nathaqa” yang berarti “berkata” atau “berucap”. Lihat Louis Ma’luf, Munjid, (Beirut: ,1973), p. 816’ Menurut istilah, logika adalah penyelidikan tentang dasar-dasar dan metode-metode berpikir benar. Lihat George F. Kneller, Logic & language of Education, (New York: , 1966), p. 13; Bandingkan dengan Irving yang mengatakan bahwa logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang benar dari penalaran yang salah. Irving M. Copi, Introduvtion to Logic, (New York: MacMillan Publishing, 1978), p. 3

[3]Lihat Randall & Buchler, Introduction to Philosophy, (New York: Barnes and Noble, 1994), p. 133-135

[4]Makanya ada istilah logika formal dan logika material. Lihat lebih jauh Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), p. 147

[5]Mudlor Achmad, Ilmu dan Keinginan Tahu, (Bandung: Trigenda Karya, 1995), p. 37

[6]Lihat W.Poespoprojo, Logika Scientifika, Pengantar Dialektika dan Ilmu, (Bandung: Pustaka Grafika, 1999), p. 25

[7]Alex Lanur OFM, Logika Selayang Pandang, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), p. 8

[8]Lihat W.Poespoprojo, op.cit., p. 20

[9]Logika merupakan saluran yang harus dilalui oleh aliran pemikiran. Lihat MJ. Langeveld, Menuju ke Pemikiran Filsafat (terj.), (Jakarta: PT. Pembangunan, 1959), p.27

[10]Lihat Jan Hendrik Rapar, Pengantar Logika, Asas-Asas Penalaran Sistematis, (Yogyakarta: Kanisius, 1996), p. 14-15

[11]Sekalipun istilah logika sudah dipergunakan oleh banyak filsuf, seprti Zeno, Socrates, Plato, namun filsuf yang dinaggap paling berjasa terhadap kelahiran ilmu logika adalah Aristoteles. Aristoteles meninggalkan enam buku yang oleh muridnya diberi nama “Organon”, yaitu Categoriae (mengenai pengertian [at-tashawwur]), De Interpretatiae (mengenai keputusan [at-tashdiq]), Analitica Priora (mengenai silogisme), Analitica Posteriora (mengenai pembuktian), Topika (mengenai berdebat) dan de Sophisticis Elenchis (mengenai kesalahan-kesalahan berpikir). Buku-buku inilah yang menjadi dasar logika tradisional. Lihat Richad B. Angel, Reasoning and Logic, (New York: Century Crafts, 1964), p. 41-42

[12]Namun demikian, tetap dapat dimaklumi pandangan yang menyebutkanka bahwa ilmu logika merupakan dari bagian ilmu bahasa, karena pada umumnya kajian logika yang awalnya berfokus pada penalaran namun harus menghabiskan banyak pembahasannya pada persoalan bahasa sebagai simbol dari proses penalaran itu, seperti persoalan lafadz, pembagian lafadz, dst.

[13]Ada perbedaan antara dua istilah ini, misalnya suatu ungkapan: “saya tahu tapi belum/tidak kenal”. Mengenai hal ini lihat misalnya uraian pada catatan kaki oleh penyunting atas buku Seyyed Naquib al-Attas, Islam dan Filsafat Sains, (Bandung: Mizan, 1995), p. 20-24

[14]Dalam arti, proses identifikasi atau pemilahan terhadap mana ciri-ciri yang tetap (al-jauhar atau substansi) dan mana ciri-ciri yang kebetulan “menempel” (al-‘ardl atau aksidensi), selanjutnya dibuang ciri-ciri yang kebetulan dan dipegangi ciri-ciri yang tetap. Demikian inilah yang disebut proses abstraction (al-tajrid) atau proses immaterialisasi. Lihat W.Poespoprojo, op.cit, p. 69

[15]“Intensi dan ekstensi” biasanya juga disebut dengan “konotasi dan denotasi”. Intensi adalah “isi” yang terkandung dalam term, sedang ekstensi adalah “lingkup” yang ditunjuk term. Bandingkan Drs. Ali Abri, MA, Pengantar Logika Tradisional, (Surabaya: Usaha Nasional, 1994), p. 54

[16]Agar dapat dengan tepat mendefinisikan sesuatu istilah, maka harus lebih dulu mengenalinya dengan memperhatikan norma-norma definisi. Ada lima predikat (predicable) yang harus dipertimbangkan, yaitu genus (al-jins), species (al-nau’), defferentia (al-fashl), proprium (al-khashshah), accident (al-‘ardl). Lima predikat ini juga disebut al-kulliyat al-khamsah. Lihat Drs. H. Sukriadi Sambas, Mantik, Kaidah Berpikir Islami, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000 cet ke-3), p. 57-59

[17]Terkait dengan objek konkrit yang mudah dikenali

[18]Terkait dengan objek yang memerlukan kajian lebih mendalam dan bersifat teoritis

[19]Bandingkan misalnya dengan Miska Muhammad Amein yang menjelaskan adanya dua macam pengetahuan, yaitu pengetahuan wahyu dan pengetahuan ilham. Lihat Miska Muhammad Amein, Epistemologi Islam, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1983), p. 19

[20]Lihat Raymond J. McCall, Basic Logic, (New York: Barnes&Noble, 1966), p. 42; Lihat juga Muhammad Nur Ibrahimi, ‘Ilmu al-Mantiq, (Surabaya: Maktabah Said ibn Nashir Nabhan, tt), p. 30

[21]Adalah Immmanuel Kant yang memperkenalkan proposisi analitik dan proposisi sintetik. Lihat lebih jauh Morton White, The Age of Analysis, (New York: New American Library, 1960), p. 297

[22]Term kopula pada kenyataannya dapat bersifat eksplisit (bariz) seperti prosisi “Hilman adalah guru” (yang tersusun dari subjek, kopula dan predikat) atau dapat bersifat tersembunyi (mustatir) seperti prosisi “Kelas itu kotor” (yang tersusun dari subjek dan predikat, sedang kopulanya tersembunyi). Makanya kopula pada hakikatnya merupakan relasi logika yang menghubungan dua konsep yang awalnya benar-benar tak ada hubungan sama sekali. Lihat Raymond J. McCall, op.cit, p. 45

[23]Yang dimaksud kualitas proposisi adalah proposisi dilihat dari sudut bentuk positif dan negatifnya, sedangkan kuantitas proposisi adalah proposisi dilihat dari sudut quatntifiernya, yang pada dasarnya kuantitas subjek, seperti ada kuantitas: universal (semua), partikular (sebagian/beberapa), atau singular (seorang/sebuah). Lihat Raymond J. McCall, ibid, p. 52-53

[24]Bahkan menurut kaum sufi, bisa jadi penglihatan (yang menghasilkan ain al-yaqin) itu hanya merupakan fatamorgana. Maka akan lebih meyakinkan jika bara api itu langsung dirasakan, tidak hanya dilihat. Pengetahuan sufi ini biasa dikenal dengan haqq al-yaqin.

[25]Silogisme adalah suatu bentuk penarikan konklusi secara deduktif tak langsung yang ditarik dari premis ang disediakan serentak. Karena bersifat “deduktis”, maka konklusinya tidak dapat mempunyai sifat lebih umum dari premisnya, juga karena bersifat “tak langsung”, maka konklusinya ditarik dari dua premis bukan satu premis saja. Lihat Ali Abri, op.cit., p. 146-147

[26]Lihat Drs. H. Sukriadi Sambas, op.cit., p. 102

[27]Kedua premis (mayor dan minor) juga disebut dengan antesedens, sedangkan konklusi disebut juga dengan konsekuens. Lihat Poedjawiijatna, Logika, Filsafat Berpikir, (Jakarta: CV. Mutiara Agung, 1980), p. 66

[28]Mohammad ‘Abied al-Jabiri, Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi, (Beirut: al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi, 1993), p. 420

[29]Ibid., p. 385

[30]Ibid., p. 433

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: