Pendidikan dan Problem Keilmuan

Pendidikan dan Problem Keilmuan

Mohd Muslih

Dalam dunia pendidikan, kajian seputar kaitan antara problem keilmuan dengan proses pendidikan tampaknya masih merupakan wilayah yang diterlantarkan. Kondisi masyarakat umumnya yang cenderung praktis dan pragmatis tampaknya telah membawa dunia pendidikan melupakan aspek terpenting itu. Padahal pandangan tentang apa hakikat ilmu dan bagaimana pertumbuhannya menjadi salah satu pilar yang sangat menentukan untuk memahami apa hakikat pendidikan, yang pada gilirannya juga menentukan corak dan pelaksanaan pendidikan itu sendiri. Dan kenyataannya, pendidikan memang merupakan aktivitas keilmuan juga.

Dalam perspektif epistemologi, persoalan keilmuan yang paling sentral hingga saat ini adalah persoalan pertumbuhan pengetahuan. Kaitannya dengan pendidikan, persoalan yang berkembang kemudian adalah bagaimana memajukan dan mengembangkan pengetahuan manusia? Atas pertanyaan ini, pandangan konvensional (untuk tidak mengatakan tradisional) menyatakan, agar dapat tumbuh dan berkembang, pengetahuan manusia harus dipupuk dengan berbagai informasi atau pengetahuan baru. Sudah tentu pandangan seperti ini berangkat dari asumsi bahwa pengetahuan manusia itu benar atau pasti benar, sehingga hadirnya informasi baru itu memperkuat kebenaran pengetahuan yang dimiliki. Maka pemilahan dan pemilihan terhadap informasi dan pengetahuan baru itu menjadi persoalan penting, terutama untuk mendukung pengetahuan terdahulu (ma’lumat sabiqah). Sebagai konsekuensinya, jika ditemukan informasi yang berbeda maka sudah tentu akan dipandang dan diadili sebagai salah. Dengan begitu, pendidikan berarti suatu proses tiada henti untuk menambah pengetahuan dan informasi baru. Karena memang pengetahuan dipandang berkembang jika didukung oleh informasi baru. Atau, dengan kata lain, jika terjadi akumulasi informasi.

Sementara pendapat yang lain mengatakan bahwa pengetahuan manusia itu terbatas, maka yang perlu dikembangkan adalah ketidaktahuannya, karena memang posisinya lebih luas dan tak terbatas. Ketidaktahuan yang tidak terbatas itu justru merupakan sumber segala pengetahuan manusia yang terbatas. Berdasar asumsi ini, maka pengetahuan manusia dikatakan berkembang jika dapat menghadirkan fakta baru yang berbeda, dengan upaya yang serius. Artinya, upaya serius itu menjadi kata kunci dalam menghadirkan fakta lain untuk menguji pengetahuan yang pernah didapat. Berbeda dengan pandangan pertama yang melihat pertumbuhan pengetahuan dengan akumulasi informasi, pandangan kedua ini melihat perkembangan pengetahuan dengan jalan error elimination. Pandangan ini bukan berarti menyamakan saja antara ketidaktahuan dan kebodohan. Ketidaktahuan itu bukan suatu kebodohan tetapi merupakan moment ketidakhadiran pengetahuan, dan ketidakhadiran pengetahuan itu berarti motivasi dan moment untuk belajar.

Konsekuensinya, pendidikan tidak dimengerti sebagai proses menambah pengetahuan atau informasi, tetapi menyalurkan atau memberikan ruang bagi ketidaktahuan manusia agar menjadi tahu. Maka belajar bukanlah aktivitas menangkap dan mengoleksi informasi sebanyak-banyaknya secara pasif, tetapi merupakan usaha aktif untuk memecahkan persoalan dan teka-teki kehidupan dengan pendekatan trial and error. Secara lebih sempit, kegiatan belajar dan pembelajaran adalah proses tiada henti untuk menguji setiap apa yang diketahui dengan mengungkap hal-hal baru atau fakta-fakta baru, sekali lagi, dengan penuh kesungguhan. Intinya, membuat bagaimana seseorang mengalami kenyataan-kenyataan yang berbeda dari harapan-harapan, teori-teori, atau konsep-konsep yang sudah dan sedang dihayatinya. Pengalaman atas kenyataan yang berbeda dari harapan dan teori adalah awal yang baik dalam proses belajar dengan trial and error menuju sebuah pengembangan dan kemajuan pengetahuan. Trial adalah usaha untuk mengoreksi harapan-harapan kita sehingga konsisten dengan kenyataan yang asing dan mungkin juga bertentangan dengan harapan-harapan yang dimiliki. Error adalah kegagalan dalam menjelaskan pengalaman-pengalaman yang bertentangan dengan harapan itu.

Pengalaman yang berbeda dari harapan, kenyataan yang bertentangan dengan sebuah teori, hal-hal yang asing dari sebuah kebiasaan hampir pasti menimbulkan persoalan bagi manusia. Maka pendekatan trial and error diperlukan untuk memajukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan manusia. Sementara sikap verifikatif menghilangkan kemungkinan bagi manusia untuk melangkah maju dan berkembang dalam pengetahuan dan dengan itu manusia terus terpenjara dalam keterbatasannya.

Kelemahan prinsip verifikasi itu tidak hanya terjadi pada bidang ilmu pengetahuan tetapi juga merasuki bidang kehidupan sosial praktis manusia. Dalam kehidupan sosial praktis upaya verifikasi merupakan sumber kesuburan bagi tumbuh dan berkembangnya fanatisme dan otoriterisme yang dalam sejarah sosial-politik di berbagai negara di dunia telah mendatangkan bencana kemanusiaan yang mengerikan. Pihak yang menang dalam pola hidup verifikatif itu adalah mereka yang memiliki kuasa dan otoritas intelektual, politik, hukum, ekonomi, dan sosial-budaya. Di hadapan berbagai macam otoritas itu berbagai kenyataan atau pengalaman yang asing dan berbeda dari teori dan kebenaran yang dihayati oleh otoritas-otoritas itu akan diverifikasi. Kenyataan yang tidak sesuai dengan teori atau otoritas akan dieliminasi.

Dalam metodologi verifikasi, kenyataan baru tidak dilihat dari sisi kebenaran yang terkandung di dalamnya. Kebenaran sebuah kenyataan yang baru ditentukan oleh kesesuaiannya dengan kebenaran otoritas. Otoritas menjadi patokan untuk menilai sebuah kenyataan baru. Logika verifikatif, dengan demikian, tidak mengenal dan tidak menghendaki adanya pengetahuan dan kebenaran baru yang berbeda dari kebenaran yang sedang dihayati. Ia hanya mengenal dan menerima penegasan atas kebenaran dan pengetahuan yang sudah ada. Kenyataan baru diterima sebagai kebenaran sejauh ia menegaskan kenyataan atau kebenaran yang sudah ada.

Sebaliknya, prinsip falsifikasi mendekati persoalan bukan dengan merujuk pada otoritas tetapi persoalan itu sendiri menjadi patokan untuk menilai dan mengadili teori, harapan, atau kebenaran-kebenaran yang sedang dihayati. Setiap kenyataan baru mengandung kebenaran tertentu dalam dirinya dan dengan itu pengetahuan manusia akan diperbaiki atau ditolak (asas refutalibilitas pengetahuan). Perbaikan atau penolakan itu adalah sesuatu yang sepantasnya terjadi untuk mengisi wilayah keterbatasan pengetahuan sekaligus mempersempit ruang ketidaktahuan manusia. Semakin sering manusia melakukan perbaikan atau penolakan atas pengetahuannya, semakin maju dan berkembang pula pengetahuannya. Penolakan itu dapat dimungkinkan oleh dugaan-dugaan berani yang dikontrol oleh kritisisme yang tajam. Dalam keberanian kritis itulah orang mesti membuat dan mengajukan solusi-solusi tentatif atas persoalan-persoalan yang dihadapi.

Sampai di sini bisa dikatakan bahwa konsep dan praksis pendidikan ternyata memiliki keterkaitan dengan problem keilmuan. Dalam kajian epistemologi, pandangan pertama di atas didasarkan pada pemikiran Positivisme Logis dengan prinsip verifikasinya. Sedang pandangan kedua biasanya diidentikkan dengan prinsip falsifikasi dalam pemikiran Popper.

Dalam banyak hal, konsep dan praktis pendidikan kita sebenarnya memiliki persamaan dengan salah satu atau kedua pandangan di atas. Kritisisme atau pembacaan secara lebih kreatif terhadap kedua pandangan tersebut sudah tentu akan dapat memperjelas logika pedagogik yang –disadari atau tidak— mendasari praksis pendidikan yang sedang kita jalankan [mm]. Wallahu a’lam bishshawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: