STANDAR ILMIAH [I]

STANDAR ILMIAH [I]

Mohd Muslih

Jika syarat pengetahuan dapat disebut ilmiah itu adalah jika ia dapat menjelaskan bagaimana metodologinya atau bagaimana logika penemuannya (logic of discovery), maka tidak ada alasan untuk tidak menyebut pengetahuan agama juga sebagai pengetahuan yang ilmiah. Karena ilmu agama memang juga memiliki logic of discovery yang jelas; memiliki basis metodologi yang masuk akal. Dalam arti, metolologinya bisa dipelajari dengan jelas dan bisa dijelaskan dalam pelajaran.

Namun harus diakui bahwa ilmu agama adalah ilmu yang istimewa. Karena objek yang dipelajari bukanlah fenomena empiris sebagaimana pengetahuan ilmiah yang lain. Ilmu agama adalah suatu jenis pengetahuan yang menjadikan sumber-sumber keagamaan sebagai ‘objek’ kajiannya, yang dalam Islam terdiri dari wahyu Al-Qur’an dan sunnah Rasul. Dalam pengetahuan agama, sumber-sumber keagamaan itu dikaji dalam berbagai aspeknya. Upaya ini dalam rangka menggapai maksud dari sumber tersebut, bukan sebagai sumber itu sendiri. Maka nilai keBenaran sumber keagamaan itu harus dijadikan pokok (al-ashl) dan memposisikan capaian usaha manusia dalam menggapai keBenaran itu sebagai sekunder (al-far’u). Inilah prinsip yang mesti dipegangi oleh ‘ilmuwan’ agama.

Sejauh ini, perangkat metode pengambilan hukum (istinbath) dari kedua sumber tersebut atau untuk memahaminya, bisa disebut sejumlah istilah, yaitu ijtihad, qiyas, istidlal, istintaj, mungkin juga tafsir dan ta’wil. Sudah tentu beberapa perangkat metode ini memiliki kekhasannya masing-masing, dan karenanya ilmu yang dihasilkannya berbeda-beda pula.

Karena metodenya yang khas dan objeknya yang istimewa, memang tidak sembarang orang mempunyai kemampuan, bahkan mempunyai hak untuk mengkajinya. Ada sejumlah syarat yang harus dimiliki seseorang untuk dapat melakukan kajian terhadap objek ini, apalagi untuk dapat menghasilkan suatu produk ‘hukum’ pengetahuan agama. Maka dalam pengetahuan ini, ada dibenarkan seseorang sekedar mengikuti (ittiba’ atau taqlid) pendapat yang sudah ada.

Sepanjang sejarah Islam, kita mengenal ada banyak ragam khazanah keilmuan, baik dalam kelompok ushul maupun furu’, misalnya ‘ulum al-Qur’an, ‘ulum al-Hadits (keduanya pakai istilah ‘ulum, bukan ‘ilm), ilmu kalam (dengan berbagai aliran/madzhab di dalamnya), ilmu fiqih (dengan berbagai cabang di dalamnya), ilmu filsafat (dengan berbagai aliran di dalamnya) ilmu tasawuf (dengan berbagai coraknya), ilmu-ilmu kebahasaan (nahwu, sharf, balaghah dll).

Untuk ini kita dapat menyaksikan betapa banyak temuan berharga dari para ulama kita terdahulu. Kaidah-kaidah ushuliyah di bidang kalam, fiqh, bahkan dalam kebahasaan, yang sebagian besar tampak masih relatif absah (valid) hingga sekarang. Di bidang kalam, kita tahu bagaimana golongan mu’tazilah melahiran teori al-ushul al-khamsah, al-Asy’ariyah yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah qadim. Di bidang fiqih, banyak dijumpai temuan-temuan hukum, dan yang terkenal adalah al-madzahib al-‘arba’ah, yang sudah tentu datang dengan berbagai perbedaan yang ada dalam menentukan hukum, meski tentang persoalan yang sama.

Dalam khazanah filsafat, kita dibuat tercengang dengan teori-teori cemerlang dari para filsuf Muslim, misalnya teori emanasi (al-faidl), teori kenabian, teori illuminasi (isyraqiy), dan yang sangat populer, tiga temuan filsuf (Ibn Sina) yang kemudian menarik al-Ghazali untuk memberikan respon dengan “tahafut al-falasifah”: pertama, bahwa Allah hanya mengetahui hal-hal yang besar-besar; kedua, bahwa alam semesta ini adalah azali, kekal dan tanpa permulaan; ketiga, bahwa di akhirat kelak yang dihimpun hanyalah ruh manusia, bukan dengan jasadnya.

Demikian juga pada disiplin tasawuf, kita tidak bisa melupakan teori mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah; wihdah al-syuhud al-Ghazali; wihdat al-wujud ibn al-‘Arabi; al-ittihad al-Basthami; Al-hulul al-Hallaj. Begitulah, pengetahuan agama adalah sebuah pengetahuan yang dihasilkan dari suatu proses yang kompleks dan panjang. Suatu proses yang tidak saja membutuhkan keterampilan, kemampuan, dan kecerdesan tertentu, tetapi diperlukan kearifan, kekhusu’an dan í‘tikad untuk melaksanakan hukum-hukum Allah di muka bumi.

Sepanjang sejarah keilmuan Islam, teologi tampaknya cukup menyita perhatian, terutama sejak abad pertengahan. Teologi merupakan pemikiran filosofis tentang persoalan ketuhanan. Hal ini sesuai dengan makna dasarnya yang berasal dari dua kata, yaitu theo yang berarti tuhan dan logi yang berarti ilmu. Jadi teologi adalah ilmu yang mempelajari hal-hal yang dikaitkan dengan Tuhan. Maka dalam perjalanannya, kajian teologi membahas secara filosofis pokok-pokok agama, sebagai hal-hal yang dikaitkan dengan Tuhan.

Dalam Islam, pokok-pokok agama itu disebut ushuluddín. Jadi ilmu ushuluddin adalah ilmu yang terkait dengan pokok-pokok agama. Inspirasi untuk membahas persoalan ketuhanan ini memang tidak mesti datang dari ‘pikiran nakal’ para filsuf (teolog), tetapi bisa juga karena sumber-sumber ajaran agama itu ‘menyediakan’ tema yang memang menarik untuk dikaji lebih jauh. Seperti telah disinggung di atas bahwa sumber-sumber ajaran agama Islam, berupa kalamullah (Al-Qur’an) dan  sabda Rasul (Al-Hadits). Maka ilmu ushuluddin juga dikenal dengan ilmu kalam, karena pokok persoalan yang dibicarakan terkait dengan kalamullah.

Dalam kajiannya, kerangka pikir yang dipakai teologi adalah apa yang dikenal dengan eklektisasi antara agama dan filsafat; al-taufíq bain al-dín wa al-falsafah, yaitu mempertemukan antara agama dan filsafat. Maka, jika selama ini secara sosiologis terdapat dua kelompok, yaitu kelompok filsuf-murni dan kelompok agamawan, munculnya pemikiran ini melahirkan kelompok ketiga, yaitu teolog.

Filsuf murni adalah mereka yang dengan sarana akalnya mengkaji fenomena alamiah atau dikenal dengan ayat-ayat kauniyah. Dalam proses usahanya itu mereka tidak berada pada bayang-bayang otoritas wahyu. Termasuk dalam kelompok ini adalah para ilmuwan (scientist). Sedang agamawan adalah mereka yang dengan kualifikasi tertentu mengkaji sumber ajaran agama, melaksanakan dan mengajarkan ajaran agama. Sementara teolog adalah mereka yang berusaha menemukan pertemuan antara agama dan filsafat.

Munculnya kelompok ketiga ini, menyebabkan ‘perseteruan’ dua kelompok lainnya seakan bertambah satu lagi agendanya. Bagi filsuf-murni, teologi hanya membuat usaha rasio manusia tidak berperan secara maksimal. Sementara menurut agamawan, teologi membuat nalar keagamaan kemasukan lebih banyak unsur dari luar. Sedangkan menurut teolog, mestinya agama itu bisa dipahami secara rasional, begitu juga rasio mestinya bisa dimaksimalkan untuk memahami agama. Kalaupun tidak untuk memahami agama, usaha rasio pun ada batasnya, dan batas itu adalah agama.

Perdebatan seperti ini terjadi tidak saja pada masyarakat muslim, tetapi juga di Barat, mungkin juga pada pengikut agama lainnya. Hanya saja pada masyarakat muslim, pemikiran teologi itu, dalam beberapa hal, lebih didekatkan dengan filsafat, sedang di Barat lebih dekat dengan agama.

Namun tetap perlu ditegaskan bahwa teologi adalah cabang dari filsafat, karenanya beberapa sifat dari filsafat juga melekat pada bidang teologi ini. Lebih khusus lagi, teologi merupakan bagian dari kajian metafisika, maka beberapa sifat dari kajian metafisika juga melekat pada bidang ini. Dengan demikian apa yang dimaksud dengan “mempertemukan antara agama dan filsafat” tak lain adalah menyoroti atau mengkaji tema-tema keagamaan dari sudut pandang filsafat. Dengan kata lain: teologi adalah pemikiran kefilsafatan tentang tema-tema keagamaan, bukan agama itu sendiri. Itupun sejauh tema-tema itu bisa dipikirkan.

Mengingat sifat-sifatnya itu, maka bisa jadi temuan atau pemikiran teologi tidak sama dengan ‘maksud’ agama itu sendiri, tetapi juga tidak mesti (apalagi pakai, selamanya) bertentangan dengan ajaran agama. Namun, apapun corak teologi seseorang, itu akan sangat menentukan sikap dan prilaku keagamaannya. [MM]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: