EPISTEMOLOGI

EPISTEMOLOGI, Asumsi-Asumsi Dasar Proses Keilmuan

Mohammad Muslih

Pemikiran metafisika sejak zaman klasik hingga abad pertengahan, telah mendorong filsuf Rene Descartes (1596-1650) untuk memikirkan; “bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan?” atau dengan kata lain: “bagaimana cara para filsuf itu sampai pada kesimpulannya?” Beberapa pertanyaan inilah yang kemudian disebut dengan persoalan epistemologis.

Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu episteme, yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu, maka epistemologi adalah ilmu tentang pengetahuan. Istilah lain juga biasa digunakan, yaitu filsafat pengetahuan (philosophy of knowledge) atau teori pengetahuan (theory of knowledge).

Secara umum, bidang ini menkaji tiga persoalan pokok, yaitu: (a). apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahuinya? (b). Apakah sifat dasar pengetahuan itu? Apakah ada dunia yang benar-benar di luar pikiran kita? Kalau ada, apakah kita dapat mengetahuinya? (ini adalah persoalan yang mengarah pada problem phenomena dan noumena). (c). Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimanakah kita dapat membedakan yang benar dari yang salah?[1]

Tiga persoalan pokok ini sekaligus merupakan objek formal dari epistemologi, yakni sebagai perspektif dalam melihat objek materialnya, dalam hal ini adalah pengetahuan. Dari sinilah kemudian dikenal istilah hakikat pengetahuan, yang tak lain adalah jawaban atas beberapa persoalan pokok di atas.

Peta Kajian Epistemologi

Proses keilmuan manusia terjadi karena ber‘temu’nya subjek ilmu dengan objek ilmu. Maka suatu ilmu pada dasarnya terdiri dari tiga unsur, subjek, objek dan “pertemuan” keduanya. Tentang hal ini, ada banyak aliran kefilsafatan yang menyumbangkan pemikirannya. Berikut ini akan dibahas, secara ringkas, empat aliran kefilsafatan, yakni rasionalisme, empirisisme, kritisisme, intuisionisme. Dua aliran pertama memiliki perbedaan yang cukup ekstrim, yang ketiga adalah aliran yang berupaya mendamaikan kedua aliran sebelumnya. Sedang aliran keempat adalah aliran yang sampai saat ini sedang mencari dukungan epistemologis dan juga metodologis untuk suatu pengetahuan yang bersumber (origin) dari pengalaman (-batini).

Rasionalisme

Dalam pembahasan mengenai teori pengetahuan, rasionalisme menempati tempat yang penting. Biasanya paham ini dikaitkan dengan kaum rasionalis abad ke-17 dan ke-18, yaitu Rene Descartes, Spinoza, Leibniz, dan Wolff, meski sebenarnya akar-akarnya dapat ditemukan pada pemikiran para filsul klasik seperti Plato, Aristotles, dll. Paham ini beranggapan, ada prinsip-prinsip dasar dunia tertentu, yang diakui benar oleh rasio manusia. Dari prinsip-prinsip ini diperoleh pengetahuan deduksi yang ketat tentang dunia. Prinsip-prinsip pertama ini bersumber dalam akal manusia dan tidak dijabarkan dari pengalaman, bahkan pengalaman empiris bergantung pada prinsip-prinsip ini.

Prinsip-prinsip itu kemudian oleh Descartes (1596-1650 M), dikenalkan dengan istilah “substansi” yang tak lain adalah “ide bawaan” (innate ideas) yang sudah ada dalam jiwa sebagai kebenaran yang clear and distinct, “clara et distincta” tidak bisa diragukan lagi. Dalam buku Discourse de la Methode (1637), ia menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu pasti dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan. Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”. Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa “aku ragu-ragu”. Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya. Dengan lain kata kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah “cogito ergo sum”, aku berpikir (= menyadari) maka aku ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku mengerti itu dengan “jelas, dan terpilah-pilah”, “clearly and distinctly”. Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar. Dan itu menjadi norma Descartes dalam menentukan kebenaran.

Descartes menerima 3 realitas atau substansi bawaan, yaitu (1) realitas pikiran (res cogitan), (2) realitas perluasan (res extensa, “extention”) atau materi, dan (3) Tuhan (sebagai Wujud yang seluruhnya sempurna, penyebab sempurna dari kedua realitas itu).[2] Pengakuanya tentang adanya tiga prinsip dasar ini, karena ketiganya tidak bisa lagi diragukan ‘keberadaan’nya. Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil. Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran. Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung pada apapun juga. Descartes adalah seorang dualis, menerapkan pembagian tegas antara realitas pikiran dan realitas yang meluas. Manusia memiliki keduanya, sedang binatang hanya memiliki realitas keluasan: manusia memiliki badan sebagaimana binatang, dan memiliki pikiran (sebagaimana malaikat[?]).

Seperti halnya Descartes, Spinoza juga menetapkan prinsip dasar yang pasti dan menganggap bahwa setiap langkah dari pencarian kepastian itu merupakan satu-satunya jaminan bagi pengetahuan. Namun berbeda dengan Descartes, Spinoza mengakui hanya ada satu substansi. Meski ia tidak menyebut bahwa substansi itu sebagai Tuhan, tetapi ia mengakui bahwa substansi bersifat ilahi.[3]

Sementara, Leibniz menyebut substansi dengan “monade” sebagai principles of Nature and the Grace founded on reason. Ia memaknai monade ini dengan “the true atoms of nature”. Atom di sini tidak sebagaimana dalam ajaran Demokritos dan Epikuros, tetapi “jiwa-jiwa”, sehingga monade ia maksudkan dengan “pusat-pusat kesadaran”. Begitulah Leibniz adalah di antara tokoh-tokoh rasionalisme yang juga mengakui adanya prinsip-prinsip rasional yang bersifat a priori.[4] Di atas prinsip rasional inilah kemudian ia menyusun filsafatnya dan yang paling terkenal adalah logika modern, yang mengantarkannya untuk dijuluki bapak logika modern.

Logika Leibniz dimulai dari suatu prinsip rasional, yaitu ada dasar pikiran yang jika diterapkan dengan tepat akan cukup menentukan struktur realitas yang mendasar. Leibniz mengajarkan bahwa ilmu alam adalah perwujudan dunia yang tampil secara matematis. Dunia yang terlihat dengan nyata ini hanya dapat dikenal melalui penerapan dasar-dasar pertama pemikiran. Tanpa itu orang tidak dapat melakukan penyelidikan ilmiah. Pandangan ini berkaitan dengan dasar epistemologi Leibniz, yakni kebenaran pasti atau kebenaran logis dan kebenaran fakta atau kebenaran pengalaman.[5]

Atas dasar pembedaan jenis kebenaran itu, Leibniz kemudian membadakan dua jenis pengetahuan. Pertama, pengetahuan yang menaruh perhatian pada kebenaran eternal (abadi), dalam hal ini, kebenaran logis. Pengetahuan ini didasarkan pada prinsip identitas dan prinsip kontradiksi. Misalnya, A adalah A, dan selamanya A tidak pernah jadi selain non-A (contoh kebenaran ini berlaku khusus bagi eksistensi Tuhan). Prinsip ini bukan hasil dari penemuan ilmiah, tetapi sesuatu yang sifatnya aksiomatis. Kebenarannya tidak memberikan pengetahuan tentang dunia fenomenal, tetapi tanpa dasar kedua prinsip ini, tidak mungkin manusia berpikir secara logis. Memahami kebenaran logis adalah hak ‘prerogatif’ manusia.

Kedua, pengatahuan yang didasarkan pada observasi atau pengamatan, hasilnya disebut “kebenaran kontingen” atau “kebenaran fakta”. Kebenaran fakta tidak ditentukan oleh proposisi yang self evident, tetapi kebenarannya ditentukan oleh hubungan antara proposisi yang satu dengan proposisi yang lain. Jika pengetahuan jenis pertama berkaitan dengan penalaran yang bersifat analitik, maka pengetahuan jenis kedua ini bersifat sintetis dengan memakai prinsip “alasan yang mencukupi” (sufficient reason).

Akhirnya rasionalisme dapat dilihat pada C. Wolff. Ia adalah penyadur filsafat Leibniz, bahkan ‘konon’ Leibniz sendiri tidak menciptakan suatu sistem filosofis. Di tangan Wolff inilah pemikiran Leibniz mendapatkan sistematisasi.[6] Berdasarkan pada prinsip-prinsip dasar yang ia sebut dengan “premis”, kemudian Wolff membagi lapangan pengetahuan menjadi tiga bidang, yaitu apa yang ia sebut dengan: kosmologi rasional, psikologi rasional, dan teologi rasional.[7]

  1. Kosmologi rasional adalah pengetahuan yang berangkat dari premis, misalnya: Dunia ini terbatas dalam ruang dan waktu, dan pada hakikatnya terdiri dari kesatuan-kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Dari prinsip ini kemudian pengetahuan tentang dunia dideduksikan.
  2. Psikologi rasional adalah pengetahuan yang berhubungan jiwa. Pengetahuan ini berangkat dari premis bahwa ruh itu adalah substansi yang tidak terbagi-bagi, bathiniah, sederhana, dst. Dari premis ini kemudian pengetahuan tentang jiwa dideduksikan sifatnya, kemampuannya, dan keabadiaannya.
  3. Teologi rasional. Dalam pengetahuan ini, Wolff mengemukakan prinsip, bahwa Tuhan adalah realitas yang sesungguhnya, yang paling sempurna. Dari prinsip ini kemudian dideduksikan ujud-Nya, hubungan-Nya dengan dunia, dst.

Dengan memberikan tekanan pada metode deduksi, rasionalisme tentu mengakui bahwa kebenaran-kebenaran yangdikandung oleh kesimpulan-kesimpulan yang diperolehnya sama banyaknya dengan kebenaran-kebenaran yang dikandung oleh premis-premis yang mengakibatkan kesimpulan tersebut. Karena itu jika kita menginginkan agar kesimpulan-kesimpulan itu berupa pengetahuan, maka premis-premis haruslah benar secara mutlak.[8] Inilah yang oleh Descartes disebut kebenaran a priori yang clear and distinct, sebagaimana disampaikan di muka.

Demikianlah rasionalisme menganggap, sumber pengetahuan manusia itu adalah rasio. Rasio itu ada pada subjek. Maka asal pengetahuan harus dicari pada subjek. Rasio itu berpikir. Berpikir inilah yang membentuk pengetahuan. Karena hanya manusia yang berpikir, maka hanya manusia yang berpengetahuan. Berdasarkan pengetahuan inilah manusia berbuat dan menentukan tindakannya. Berbeda pengetahuan, berbeda pula laku-perbuatan dan tindakannya. Tumbuhan dan binatang tidak berpikir, maka mereka tidak berpengetahuan. Laku-perbuatan dan tindakan makhluk-makhluk yang tidak punya rasio, sangat ditentukan oleh naluri, yang dibawanya sejak lahir. Tumbuhan dan binatang memperoleh pengalaman seperti manusia. namun demikian tidak mungkin mereka membentuk pengetahuan dari pengalamannya. Oleh karenanya pengetahuan hanya dibangun oleh manusia dengan rasionya.

Empirisisme

Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa rasionalisme merupakan aliran pemikiran yang menekankan pentingnya peran ‘akal’, ‘idea’, ‘substansi’, ‘form’, ‘kausalitas’ dan “kategori” dalam proses keilmuan. Bertentangan dengan rasionalisme yang memberikan kedudukan bagi rasio sebagai sumber pengetahuan, empirisisme memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan, baik pengalaman lahiriyah maupun pengalaman batiniyah.

Secara etimologi, istilah empirisisme berasal dari kata Yunani emperia yang berarti pengalaman. Aliran ini muncul di Inggris, yang pada awalnya dipelopori oleh Francis Bacon (1561-1626), kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh pasca Descartes, seperti Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704), Berkeley (1685-1753), dan yang terpenting adalah David Hume (1711-1776).

Thomas Hobbes menganggap bahwa pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengenalan. Pengenalan intelektual tidak lain dari semacam perhitungan (kalkulus), yaitu penggabungan data-data inderawi yang sama, dengan cara yang berlainan. Dunia dan manusia sebagai objek pengenalan merupakan sistem materi dan merupakan suatu proses yang berlangsung dengan tiada henti-hentinya atas dasar hukum-hukum mekanisme. Atas pandangan ini, ajaran Hobbes merupakan sistem materialistis pertama dalam sejarah filsafat modern.[9]

John Locke mengagumi metode Descartes, tetapi ia tidak menyetujui isi ajarannya. Menurut Locke, rasio mula-mula harus dianggap “as a white paper” dan seluruh isinya berasal dari pengalaman. Ada dua pengalaman: lahiriyah (sensation) dan batiniyah (reflexion). Kedua sumber pengamalan ini menghasilkan ide-ide tunggal (simple ideas). Jiwa manusiawi bersifat pasif sama sekali dalam menerima ide-ide tersebut. Meski ia mempunyai aktivitasnya juga, yaitu dengan menggunakan ide-ide tunggal sebagai bahan bangunan, jiwa manusiawi dapat membentuk ide majemuk (complex ideas), misalnya ide substansi, yaitu jika ide tunggal dapat selalu bersama. Selanjutnya Locke juga mengakui bahwa dalam dunia luar ada substansi-substansi, tetapi kita hanya mengenal ciri-cirinya saja. Inilah yang kemudian dikenal dengan substansi material, dan ini sekaligus menunjukkan sikap inkonsistensi (atau incoherent, dalam bahasa Hume) pemikiran Locke.[10]

Berdasarkan prinsip-prinsip empirisisme, Berkeley merancang teori yang dinamakan “immaterialisme.” Berbeda dengan Locke yang masih menerima adanya substansi di luar kita, bagi Berkeley yang ada hanyalah pengalaman dalam roh saja (ideas). “Esse est perceipi” (being is being perceived), demikian ungkapan Berkeley yang terkenal. Ini artinya dunia materiil sama saja dengan ide-ide yang saya alami. Sebagaimana dalam bioskop, gambar-gambar film pada layar putih yang dilihat penonton adalah sebagai benda yang real dan hidup. Menurut Berkeley, ide-ide membuat saya melihat dunia materiil. Lalu bagaimana dengan saya sendiri? Berkeley mengaku bahwa “aku” merupakan suatu substansi rohani. Berkeley juga mengakui adanya Tuhan, sebab Tuhan merupakan asal-usul ide-ide yang saya lihat. Jika orang mengakatan tuhan menciptakan dunia, menurut Berkeley bukan berarti ada dunia di luar kita, melainkan bahwa Tuhan menunjukkan ide-ide kepada kita. Ini artinya Tuhanlah yang memutarkan film pada batin kita.[11]

Aliran empirisisme memuncak pada David Hume. Ia menerapkan prinsip empirisisme secara radikal dan konsisten. David Hume lahir di Edinburgh tahun 1711. Di kota kelahirannya itu, ia menekuni bidang filsafat. Karya terbesar Hume: A Treatise of Human Nature ditulisme di Prancis ketika usianya masih sangat muda, 26 tahun. Melalui karya ini Hume ingin memerkenalkan metode eksperimental sebagai dasar menuju subjek-subjek moral.[12] Buku tersebut terdiri atas tiga bagian. Pertama, mengupas problem-problem epistemologi. Kedua, membahas masalah emosi manusia. Ketiga, membicarakan tentang prinsip-prinsip moral.

Filsafat Hume pada garis besarnya merupakan reaksi atas tiga hal: (a). melawan rasionalisme terutama berkaitan dengan ajaran tentang innate ideas yang dipakai sebagai landasan kaum rasionalis dalam usahanya memahami realitas; (b). reaksi dalam masalah religi (dalam hal ini teologi Deis, Katolik, dan Anglikan) yang mengajarkan adanya aksioma universal seperti hukum kausalitas yang dapat menjamin pemahaman manusia akan Tuhan dan alam; (c). melawan empirisisme Locke dan Berkeley, yang masih percaya pada adanya substansi, meski dalam beberapa aspek, ia menyetujuinya.

Berikut ini akan dilihat pemikiran Hume sehubungan dengan reaksinya terhadap konsep substansi dan kausalitas.

Substansi vs Relasi

Seperti halnya kaum empirisis yang lain, David Hume berpendapat bahwa seluruh isi pemikiran berasal dari pengalaman, yang ia sebut dengan istilah “persepsi.” Menurut Hume persepsi itu terdiri dari dua macam (tingkatan, pen.), yaitu kesan-kesan (impresions) dan gagasan (ideas). Kesan adalah persepsi yang masuk melalui akal budi, secara langsung, sifatnya kuat dan hidup. Sedang gagasan adalah persepsi yang berisi gambaran kabur tentang kesan-kesan. Gagasan bisa diartikan cerminan dari kesan-kesan; ‘kerja’ kesan mendahului gagasan. Yang pertama bisa disebut ‘pengalaman indrawi’ dan yang kedua merupakan konsep atau ‘makna’.[13] Jika saya melihat seekor kuda, maka saya punya kesan tertentu (tentang yang saya lihat); jika saya memikirkan tentang seekor kuda, saya memanggil suatu gagasan, yang merupakan makna bagi saya dari sebuah istilah “kuda”. Seseorang anak akan diberi gagasan tentang “jeruk”, maka terlebih dulu ia harus mengenal objek “jeruk”. Bagaimana jika ia buta atau tuli? Hume berargumen, jika kemampuan-kemampuan untuk memperoleh kesan dirintangi, maka tidak hanya kesan yang hilang, tetapi sekaligus juga gagasan-gagasan yang berhubungan dengannya.

Hume membedakan dua jenis kesan, yaitu sensasi dan refleksi, serta dua jenis gagasan, yaitu memory dan imaginasi. Kesan sensasi muncul dari jiwa yang tidak diketahui sebab musababnya, sedang kesan refleksi diturunkan gagasan-gagasan. Memory memiliki posisi yang teratur. Kalau kita mengatakan bahwa seseorang memiliki memory yang baik, ini berarti orang tersebut mampu mengingat kembali berbagai peristiwa sederhana secara teratur. Adapun imajinasi adalah jenis gagasan yang mengkombinasikan ide (gagasan) yang berasal dari kesan-kesan secara asosiasi (dalam arti, mengikuti hukum asosiasi). Menurut Hume, manusia memiliki kecenderungan intern untuk mengubung-hubungkan gagasan-gagasan menurut “keserupaan”, “kedekatan”, atau hubungan “efek”. Tiga hal inilah yang disebut “relasi natural” (di samping ia mengakui ada tujuh relasi filosofis). Dengan dasar epistemologinya ini, Hume menolak konsep substansi, dari kaum rasionalis dan teman sejawatnya, Locke dan Berkeley.

Menurut Hume, pengalaman memberikan kepada kita hanya suatu kualitas khusus bukan suatu substratum yang unik. Filsuf seharusnya berusaha menunjukkan bahwa objek-objek harus dibedakan dari persepsi kita terhadapnya. Hasil persepsi mengenai kualitas individual pada saat yang sama tidak dapat memberikan pemahaman terhadap objek-objek eksternal. Apa yang mampu kita pahami hanya terbatas hasil persepsi. Aktivitas pikiran manusia tidak lebih dari hanya melakukan sintesis kualitas partikular. Hume lebih lanjut menegaskan bahwa imajinasi bertugas memberikan kesatuan atas kualitas partikular itu, tetapi kesatuan dalam arti yang artifisial, kesatuan yang murni fiksional.

Oleh karena itu, tidaklah benar kalau ide (gagasan) tentang substansi diturunkan dari hasil impresi (kesan). Sebab, apa yang kita persespsi melalui mata adalah warna, apa yang kita persespsi melalui lidah adalah rasa, apa yang kita persespsi melalui telinga adalah suara. Orang tidak akan mengatakan bahwa substansi adalah warna, rasa, atau suara. Hume akhirnya berkesimpulan bahwa ide tentang substansi adalah ide kosong.

Kausalitas vs Induksi

Dalam pandangan Hume, adalah tidak benar jika kita mengatakan adanya hubungan sebab-akibat antara berbagai kejadian, sebagai pertanda adanya suatu bentuk hubungan yang mutlak di dunia, yang disebut hukum kausalitas. “Ini jelas merupakan pemikiran yang kacau,” demikian Hume. Semua yang diamati dalam realitas memang merupakan keterhubungan berbagai kejadian secara terus menerus. Meski demikian, tidak ada yang dapat kita amati atau kita lihat bahwa hal itu merupakan keterhubungan sebab akibat yang mutlak, yang mesti akan terjadi demikian. Pengalaman manusia tidak pernah bisa membuktikan adanya hukum itu atau dengan kata lain, hukum keterhubungan antar berbagai kejadian itu tidak pernah bisa diamati.

Sebagai landasan pemikirannya, Hume memperkenalkan pertimbangan filosofisnya. Jika ada dua benda atau kejadian, A dan B, pada waktu yang terpisah, maka keduanya dapat dipisahkan dalam konsep. Ini berarti, eksistensi yang satu dapat ditangkap tanpa mengandaikan eksistensi yang lain. Maka jika ada pernyataan, bahwa sesuatu terjadi sebagai akibat sesuatu yang lain, haruslah hal ini dianggap suatu kebenaran yang sementara, tidak mutlak.

Menurut Hume, manusia cenderung menerima konsep kausalitas ini, sebenarnya hanya karena suatu “kebiasaan berpikir”, yaitu karena dipengaruhi oleh bermacam-macam pengamatan yang telah dilakukannya, lalu mau tidak mau bergerak dari kesan tentang satu kejadian pada pikiran tentang apa yang biasanya mengikuti kejadian itu. Dari pengalaman “penggabungan” itulah timbul gagasan “hubungan yang mutlak” itu, yang kemudian disebut dengan hukum kusalitas.

Pengalaman “penggabungan” itu tidak lain adalah problema induksi, bukan hukum mutlak yang a priori, bukan innate ideas yang clear and distinc. Karena hubungan antara berbagai hal yang suatu saat dapat terpisah itu bersifat sementara, maka tidak mungkin dapat diadakan suatu keharusan inferensi.

Di sini perlu diberi catatan, meski David Hume beralasan bahwa manusia hanya bisa melakukan proses induksi terhadap fakta-fakta, untuk membantah pandangan bahwa manusia dapat menemukan “hukum alam” atau “hukum universal” semisal kausalitas, bukan berarti ia mengakui metode induksi sebagai media bagi suatu proses generalisasi. Dengan begitu, justru Hume menunjukkan keterbatasan induksi. Karenanya, ia tidak menyetujui segala proses generalisasi, apa lagi sampai menjadi “hukum alam”.

Demikianlah, argumen empirisisme dan terutama David Hume dalam menolak konsep rasionalisme tentang adanya prinsip dasar yang a priori. Sebaliknya mereka hanya percaya pada pengalaman, baik oleh inderawi lahiriyah maupun batiniyah.

Kritisisme: Epistemologi Immanuel Kant

Immanuel Kant adalah seorang filosof besar yang muncul dalam pentas pemikiran filosofis zaman Aufklärung Jerman menjelang akhir abad ke 18. Ia lahir di Königsberg, sebuah kota kecil di Prussia Timur, pada tanggal 22 April 1724. Kecuali tradisi Pencerahan dan tradisi Peistis yang memiliki pengaruh dalam kehidupan Kant, Leibniz dan Hume adalah di antara banyak filsuf yang mempunyai pengaruh besar pada Kant, terutama untuk membangun epistemologinya. Khusus kepada Hume, Kant merasa bahwa Humelah yang telah membangunkannya dari sikap dogmatisme.[14] Setelah membaca karya-karya Hume, Kant kemudian tidak lagi menerima prinsip-prinsip rasionalisme dan aksioma-aksioma ontologi, bahkan pemikiran (termasuk etika!) nya dibangun dari kritik atas dogmatisme.[15] Sementara pada Leibniz, meski Kant tidak mengambil alih pemikiran Leibniz (sebenarnya juga Wolff), beberapa istilah teknis Kant berasal dari mereka seperti istilah a priori dan a posteriori.

Leibniz-Wolff dan Hume merupakan wakil dari dua aliran pemikiran filosofis yang kuat melanda Eropa pada masa Pencerahan. Leibniz tampil sebagai tokoh penting dari aliran rasionalisme,[16] sedangkan Hume muncul sebagai wakil dari aliran empirisisme.[17] Leibniz berpendapat bahwa sumber pengetahuan manusia adalah rasionya saja, dan bukan pengalaman. Dari sumber sejati inilah bisa diturunkan kebenaran yang umum dan mutlak. Sedangkan Hume mengajarkan bahwa pengalamanlah sumber pengetahuan itu. Pengetahuan rasional mengenai sesuatu terjadi setelah sesuatu itu dialami terlebih dahulu.

Seperti disampaikan di atas, bahwa sebelum Kant memang muncul perdebatan soal “objektivitas pengetahuan” yaitu oleh pemikiran rasionalisme di Jerman sebagaimana dikembangkan Leibniz-Wolff dengan empirisisme Inggris yang kemudian bermuara dalam pemikiran Hume. Filsafat Kant berusaha mengatasi dua aliran tersebut dengan menunjukkan unsur-unsur mana dalam pikiran manusia yang berasal dari pengalaman dan unsur-unsur mana yang terdapat dalam akal. Kant menyebut perdebatan itu dengan antinomy,[18] seakan kedua belah pihak merasa benar sendiri, sehingga tidak sempat memberi peluang untuk munculnya alternatif ketiga yang barangkali lebih menyejukkan dan konstruktif.

Mendapatkan inspirasi dari “Copernican Revolution”, Kant mengubah wajah filsafat secara radikal, di mana ia memberikan tempat sentral pada manusia sebagai subjek berpikir. Maka dalam filsafatnya, Kant tidak mulai dengan penyelidikan atas benda-benda sebagai objek, melainkan menyelidiki struktur-struktur subjek yang memungkinkan mengetahui benda-benda sebagai objek. Lahirnya pengetahuan karena manusia dengan akalnya aktif mengkonstruksi gejala-gejala yang dapat ia tangkap. Kant mengatakan:

“Akal tidak boleh bertindak seperti seorang mahasiswa yang cuma puas dengan mendengarkan keterangan-keterangan yang telah dipilihkan oleh dosennya, tapi hendaknya ia bertindak seperti hakim yang bertugas menyelidiki perkara dan memaksa para saksi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri telah rumuskan dan persiapkan sebelumnya.”[19]

Upaya Kant ini dikenal dengan kritisisme atau filsafat kritis, suatu nama yang diberikannya sendiri. Kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dulu menyelidiki kemampuan rasio dan batas-batasnya. Langkah Kant ini di mulai dengan kritik atas rasio murni, lalu kritik atas rasio praktis, dan terakhir adalah kritik atas daya pertimbangan. Kritik atas Rasio Murni berbicara bangunan epistemologi, Kritik atas Rasio Praktis berbicara pemikiran etika, sementara Kritik atas Daya Pertimbangan berbicara soal estetika dan metafisika.

Dalam Kritik atas Rasio Murni, antara lain Kant menjelaskan bahwa ciri pengetahuan adalah bersifat umum, mutlak dan memberi pengertian baru. Untuk itu ia terlebih dulu membedakan adanya tiga macam putusan. Pertama, putusan analitis a priori; di mana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (misalnya, setiap benda menempati ruang). Kedua, putusan sintesis aposteriori, misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah (=post, bhs Latin) mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. Ketiga, putusan sintesis a priori: di sini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat a priori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya”. Putusan ini berlaku umum dan mutlak (jadi a priori), namun putusan ini juga bersifat sintetis dan aposteriori. Sebab di dalam pengertian “kejadian” belum dengan sendirinya tersirat pengertian “sebab”. Maka di sini baik akal maupun pengalaman indrawi dibutuhkan serentak. Ilmu pasti, mekanika, dan ilmu pengetahuan alam disusun atas putusan sisntetis yang bersifat a priori ini. Menurut Kant, putusan jenis ketiga inilah syarat dasar bagi apa yang disebut pengetahuan (ilmiah) dipenuhi, yakni bersifat umum dan mutlak serta memberi pengetahuan baru. Persoalannya adalah bagaimana terjadinya pengetahuan yang demikian itu?

Menjawab pertanyaan ini Kant menjelaskan bahwa pengetahuan itu merupakan sintesis dari unsur-unsur yang ada sebelum (prius, bhs Latin) pengalaman yakni unsur-unsur a priori dengan unsur-unsur yang ada setelah pengalaman yakni unsur-unsur aposteriori. Proses sintesis itu, menurut Kant terjadi dalam tiga tingkatan pengetahuan manusia sekalipun. Tingkat pertama dan terendah adalah pencerapan indrawi (sinneswahrnehmung), lalu tingkat akal budi (verstand), dan tingkat tertinggi adalah tingkat rasio/intelek (Versnunft).

a. Tingkat Pencerapan Indrawi (Sinneswahrnehmung)

Pada taraf pencerapan indrawi ini sintesis antara unsur-unsur a priori dengan unsur-unsur a posteriori sudah terjadi. Unsur a priori, pada taraf ini, disebut Kant dengan ruang dan waktu.[20] Dengan unsur a priori ini membuat benda-benda objek pencerapan ini menjadi ‘meruang’ dan ‘mewaktu’. Pengertian Kant mengenai ruang dan waktu ini berbeda dengan ruang dan waktu dalam pandangan Newton. Kalau Newton menempatkan ruang dan waktu “di luar” manusia, Kant mengatakan bahwa keduanya adalah a priori sensibilitas. Maksud Kant, keduanya sudah berakar di dalam struktur subjek. Ruang bukanlah ruang kosong, ke dalamnya suatu benda bisa ditempatkan; ruang bukan merupakan “ruang pada dirinya sendiri” (Raum an sich).[21] Dan waktu bukanlah arus tetap, di mana pengindraan-pengindraan berlangsung, tetapi ia merupakan kondisi formal dari fenomena apapun, dan bersifat a priori.[22]

Implikasi dari pernyataan Kant di atas adalah bahwa memang ada realitas yang terlepas dari subjek. Menurut Kant, memang ada “benda pada dirinya sendiri” (das Ding an sich), tetapi realitas ini tidak bisa diamati atau diselidiki. Yang bisa diamati dan diselidiki hanyalah fenomen-fenomen atau penampakan-penampakan (Erscheinungen) nya saja, yang tak lain merupakan sintesis antara unsur-unsur yang datang dari luar sebagai materi dengan bentuk-bentuk a priori ruang dan waktu di dalam struktur pemikiran manusia.

b. Tingkat Akal Budi (Verstand)

Bersamaan dengan pengamatan indrawi, bekerjalah akal budi (Verstand) secara spontan. Tugas akal budi adalah menyusun dan menghubungkan data-data indrawi, sehingga menghasilkan putusan-putusan. Dalam hal ini akal budi bekerja dengan bantuan daya fantasinya (Einbildungskraft). Pengetahuan akal budi baru diperoleh ketika terjadi sintesis antara pengalaman indrawi tadi dengan bentuk-bentuk a priori yang dinamai Kant dengan “kategori” (Kategorie), yakni ide-ide bawaan yang mempuyai fungsi epistemologis dalam diri manusia.[23]

Dalam menerapkan kategori-kategori ini, akal budi bekerja begitu rupa, sehingga kategori-kategorinya itu hanya cocok dengan data-data yang dikenainya saja. Kalau misalnya ada peristiwa bahwa setelah dipanaskan dengan api, ternyata kemudian air di dalam bejana mendidih, maka akal budi akan bekerja dengan menerapkan kategori kausalitas (dan hanya dengan kategori ini saja!) terhadap fenomen-fenomen itu; dan lantas membuat pernyataan “air di dalam bejana itu mendidih karena dipanaskan dengan api”. Dengan demikian terjadilah sintesis antara unsur-unsur aposteriori, yakni data indrawi yang berfungsi sebagai materi (api membakar bejana berisi air, air itu mendidih) dan unsur a priori yang berfungsi sebagai bentuk (kategori kausalitas). Dengan demikian Kant tampak juga menjelaskan sahnya ilmu pengetahuan alam.

c. Tingkat intelek / Rasio (Versnunft)

Menurut Kant, yang dimaksud dengan intelek / Rasio (Versnunft) adalah kemampuan asasi (Principien) yang mencipta pengertian-pengertian murni dan mutlak, karena rasio memasukkan pengetahuan khusus kedalam pengetahuan yang bersifat umum. Di mana di dalamnya manusia dapat bergerak lebih jauh, sampai menyentuh azas-azas yang tidak lagi dapat dirunut. Dengan demikian sampailah kepada sesuatu yang mutlak, tanpa syarat. Yang Mutlak itu adalah Idea. Kant menyebut dengan Idea transendental. Yaitu yang menguasai segenap pemikiran sebagai idaman.[24]

Idea ini sifatnya semacam “indikasi-indikasi kabur”, petunjuk-petunjuk buat pemikiran (seperti juga kata “barat” dan “timur” merupakan petunjuk-petunjuk; “timur” an sich tidak pernah bisa diamati). Tugas intelek adalah menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan pada tingkat di bawahnya, yakni akal budi (Verstand) dan tingkat pencerapan indrawi (Senneswahnehmung). Dengan kata lain, intelek dengan Idea-idea argumentatif.

Menurut Kant, ada tiga Idea transendental. Pertama Idea psikis (jiwa) yaitu merupakan gagasan mutlak yang mendasari segala gejala batiniah. Kedua, gagasan yang menyatukan segala gejala lahiriah, yakni Idea kosmologis (dunia). Dan akhirnya, gagasan yang mendasari segala gejala, baik yang lahiriah maupun yang batiniah, yaitu yang terdapat dalam suatu pribadi mutlak, yakni Tuhan sebagai Idea Teologis.

Kendati Kant menerima ketiga Idea itu, ia berpendapat bahwa mereka tidak bisa diketahui lewat pengalaman. Karena pengalaman itu, menurut Kant, hanya terjadi di dalam dunia fenomenal, padahal ketiga Idea itu berada di dunia noumenal (dari noumenon= “yang dipikirkan”, “yang tidak tampak”, bhs Yunani), dunia gagasan, dunia batiniah. Idea mengenai jiwa, dunia, dan Tuhan bukanlah pengertian-pengertian tentang kenyataan indrawi, bukan “benda pada dirinya sindiri” (das Ding an sich). Ketiganya merupakan postulat atau aksioma-aksioma epistemologis yang berada di luar jangkauan pembuktian teoretis-empiris.[25]

Intuisionisme

Melengkapi pemikiran-pemikiran di atas, ada aliran lain yang juga tidak sedikit pengikutnya termasuk sampai hari ini, yaitu intuisionisme. Aliran ini dipelopori oleh Henry Bergson (1859-1941). Menurutnya, intuisi merupakan suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Unsur utama bagi pengetahuan adalah kemungkinan adanya suatu bentuk penghayatan langsung (intuitif), di samping pengalaman oleh indera. Setidaknya, dalam beberapa hal. intuisionisme tidak mengingkari nilai pengalaman inderawi, kendati diakui bahwa pengetahuan yang sempurna adalah yang diperoleh melalui intuisi. Harold H. Titus memberikan catatan, bahwa intuisi adalah suau jenis pengetahuan yang lebih tinggi, wataknya berbeda dengan pengetahuan yang diungkapkan oleh indera dan akal; dan bahwa intuisi yang ditemukan orang dalam penjabaran-penjabaran mistik memungkinkan kita untuk mendapatkan pengetahuan langsung yang mengatasi (trancendent) pengetahuan kita yang diperoleh dari indera dan akal.[26]

Secara epistemologis, pengetahuan intuitif berasal dari intuisi yang diperoleh melalui pengamatan langsung, tidak mengenai objek lahir melainkan mengenai kebenaran dan hakikat sesuatu objek. Dalam tradisi Islam, para sufi menyebut pengetahuan ini sebagai rasa yang mendalam (zauq) yang berkaitan dengan persepsi batin. Dengan demikian pengetahuan intuitif sejenis pengetahuan yang dikaruniakan Tuhan kepada seseorang dan dipatrikan pada kalbunya sehingga tersingkaplah olehnya sebagian rahasia dan tampak olehnya sebagian realitas.perolehan pengetahuan ini bukan dengan jalan penyimpulan logis sebagaimana pengetahuan rasional melainkan dengan jalan kesalehan, sehingga seseorang memiliki kebeningan kalbu dan wawasan spiritual yang prima.

Henry Bergson (1859-1941), seorang filosof Perancis modern yang beraliran intuisionisme, membagi pengetahuan menjadi dua macam; “pengetahuan mengenai” (knowledge about) dan “pengetahuan tentang” (knowledge of). Pengetahuan pertama disebut dengan pengetahuan diskursif atau simbolis dan pengetahuan kedua disebut dengan pengetahuan langsung atau pengetahuan intuitif karena diperoleh secara langsung. Atas dasar perbedaan ini, Bergson menjelaskan bahwa pengetahuan diskursif diperoleh melalui simbol-simbol yang mencoba menyatakan kepada kita “mengenai” sesuatu dengan jalan berlaku sebagai terjemahan bagi sesuatu itu. Oleh karenanya, ia tergantung kepada pemikiran dari sudut pandang atau kerangka acuan tertentu yang dipakai dan sebagai akibat maupun kerangka acuan yang digunakan itu. Sebaliknya pengetahuan intuitif adalah merupakan pengetahuan yang nisbi ataupun lewat perantara. Ia mengatasi sifat -lahiriah- pengetahuan simbolis yang pada dasarnya bersifat analitis dan memberikan pengetahuan tentang obyek secara keseluruhan. Maka dari itu menurut Bergson, intuisi adalah sesuatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika.[27]

Lebih lanjut Bergson menyatakan bahwa intuisi sebenarnya adalah naluri (instinct) yang menjadi kesadaran diri sendiri dan dapat menuntun kita kepada kehidupan dalam (batin). Jika intuisi dapat meluas maka ia dapat memberi petunjuk dalam hal-hal yang vital. Jadi, dengan intuisi kita dapat menemukan “elan vital” atau dorongan yang vital dari dunia yang berasal dari dalam dan langsung, bukan dengan intelek.[28]

Douglas V. Steere dalam Mysticism, mengatatakan bahwa pengetahuan intuisi yang ditemukan orang dalam penjabaran-penjabaran mistik memungkinkan kita untuk mendapatkan pengetahuan yang langsung dan mengatasi (transcend) pengatahuan yang kita peroleh dengan akal dan indera. Mistisisme atau mistik diberi batasan sebagai kondisi orang yang amat sadar tentang kehadiran yang maha riil (the condition of being overwhelmingly aware of the presence of the ultimately real). Kata Steere pula, intuisi dalam mistik bahkan memiliki implikasi yang lebih jauh sebab mungkin dijelmakan menjadi persatuan aku dan Tuhan pribadi (al-ittihad) atau kesadaran kosmis (wahdah al-wujud).[29]

Menurut William James, mistisisme merupakan suatu kondisi pemahaman (noetic). Sebab bagi para penganutnya, mistisisme merupakan suatu kondisi pemahaman dan pengetahuan, di mana dalam kondisi tersebut tersingkaplah hakikat realitas yang baginya merupakan ilham yangbersifat intuitif dan bukan merupakan pengetahuan demonstratis.[30] Sejalan dengan James, Bertrand Russell setelah menganalisa kondisi-kondisi mistisisme kemudian berkesimpulan, bahwa di antara yang membedakan antara mistisisme dengan filsafat-filsafat yang lain adalah adanya keyakinan atas intuisi (intuition) dan pemahaman batin (insight) sebagai metode pengetahuan, kebalikan dari pengetahuan rasional analitik.[31]

Dari uraian sederhana ini dapat dibuat kesimpulan, bahwa menurut intuisionisme, sumber pengetahuan adalah pengalaman pribadi, dan sarana satu-satunya adalah intuisi.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: