PENDIDIKAN ISLAM DALAM KEPUNGAN GLOBALISASI

PENDIDIKAN ISLAM DALAM KEPUNGAN GLOBALISASI

Mohammad Muslih

Abstrak

Globalisasi sebenarnya merupakan sebutan untuk “dunia yang telah lepas kendali” (runaway world), yaitu perkembangan dunia yang jauh dari perkiraan dan tak terprediksikan. Artikel ini menguraikan sejumlah tantangan yang mesti dihadapi oleh pendidikan Islam sebagai akibat dari perkembangan kehidupan dunia yang disebut dengan globalisasi. Globalisasi merombak tradisi dan budaya dengan segala kekayaannya, mulai model pakaian, gaya hidup (life style) hingga budaya pragmatisme, materialisme dan hedonisme. Budaya mental instan dan serba mencukupkan formalitas merupakn akibatnya yang lain. Strategi yang bisa dilakukan pendidikan Islam adalah proteksi dan sekaligus proyeksi. Proteksi adalah prinsip konservasi nilai. Strategi ini untuk membentengi nilai-nilai luhur dari ancaman nilai dan budaya luar yang destruktif. Sementara proyeksi adalah prinsip progresivitas. Strategi ini mengharuskan lembaga pendidikan Islam dan dunia pendidikan pada umumnya untuk terus meningkatkan kualitasnya, meletakkan visi-misi yang jelas sesuai hasil pembacaannya terhadap masa depan.

Kata Kunci: absurditas, konservasi nilai, proteksi, proyeksi

Pendidikan sering diposisikan sebagai yang paling bertanggungjawab atas kompleksitas problem kehidupan, tidak hanya problem pribadi, tetapi juga problem sosial bahkan problem umat. Pandangan demikian berangkat dari asumsi bahwa protret dan karakter masyarakat sangat tergantung atau sangat ditentukan oleh pendidikannya. Itulah sebabnya persoalan baik buruk individu dan masyarakat sering dipulangkan pada kualitas pendidikannya.

Memang banyak fakta yang mendukung pandangan seperti ini. Namun juga harus diakui bahwa pandangan seperti ini sering membuat pandangan menjadi tidak jernih dalam melihat persoalan yang melilit dunia pendidikan. Memang, pendidikan harus memiliki peran sosial, tetapi bukan berarti problem sosial dapat selesai dengan pendidikan. Artinya, meletakkan problem sosial apalagi problem global ke “pundak” pendidikan adalah sikap tidak adil terhadap dunia pendidikan. Jika harus dipaksakan, tidak saja akan gagal dalam menyelesaikan problem sosial itu, tetapi, sudah dapat dipastikan, dunia pendidikan akan terseret arus persoalan masyarakat yang sangat boleh jadi mengancam dunia pendidikan itu sendiri.

Kerangka pikir ini tidak berarti menolak mentah-mentah pandangan umum yang misalnya mengatakan, jika pendidikan baik pasti masyarakatnya baik. Di sini hanya diingatkan bahwa pandangan sebaliknya juga jangan dilupakan: jika masyarakatnya baik, pasti pandidikannya baik. Pendidikan bukanlah dunia yang netral yang ada dengan sendirinya. Yang perlu disadari sebenarnya adalah bahwa pendidikan itu merupakan produk sejarah, produk sosial, produk budaya, produk ekonomi, produk politik, dll. bahkan produk struktur kesadaran manusia itu sendiri. Di sini pendidikan menjadi sangat tergantung dengan latarbelakang sejarahnya, tergantung dengan kondisi sosial dan budayanya, tergantung dengan situasi sosial-ekonominya, sangat tergantung dengan situasi dan kebijakan politik yang ada, termasuk tergantung dengan pandangan-pandangan, anggapan-anggapan dan harapan-harapan seseorang terhadap dunia pendidikan, bahkan mungkin juga dengan situasi dunia global.

Beberapa aspek eksternal inilah yang pada kenyataanya sangat menentukan corak dan kualitas dunia pendidikan, setidaknya jika dibandingkan dengan aspek internalnya yang konon ada tujuh itu, yakni tujuan, guru, murid, materi, metode, sarana, evaluasi. Di era globalisasi ini kesadaran demikian tampaknya diperlukan untuk melihat secara lebih jernih problem pendidikan sesungguhnya.

Globalisasi, situasi tak terelakkan

Liberalisme pers ditambah dengan kecanggihan teknologi komunikasi telah membuat dunia ini menjadi seperti selebar kampung. Manusia abad ini dapat dengan mudah mengakses informasi dari seluruh penjuru dunia hanya dalam hitungan menit, bahkan hitungan detik. Perkembangan peristiwa di belahan dunia dapat segera bisa diikuti oleh masyarakat di belahan dunia yang lain. Budaya yang berkembang pada berbagai suku, bangsa, dan negara dapat saling berinteraksi, sehingga nilai sosial dan budaya dapat saling tiru dan saling terpengaruh. Inilah sebagian dari tanda dari suatu zaman yang disebut dengan globalisasi.

Ketika kita mendengar kata globalisasi, kita lalu membayangkan tentang “perputaran” dunia yang serba cepat. Antara satu negara dengan negara lainnya terasa seperti dekat saja. Bumi ini juga terasa seperti sebuah bola yang dapat kita lihat bagian-bagian sisinya dengan cepat dan mudah. Memang tidak sulit memahami arti globalisasi, karena kita ini memang sedang merasakan hidup sebagaimana dicirikan oleh istilah tersebut.

Globalisasi itu sebenarnya merupakan sebutan untuk “dunia yang telah lepas kendali” (runaway world), yaitu perkembangan dunia yang jauh dari perkiraan dan tak terprediksikan. Inilah “dunia yang telah lepas kendali”. Globalisasi, sebagai anak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, memang tidak pernah diciptakan; tidak pernah dibuat, tetapi terjadi sebagai akibat dari -ulah- perbuatan manusia.

Negara Barat sendiri, sebagai negara sumber pembentuk terjadinya globalisasi, merasa “tobat”, “kapok” atas globalisasi dan segala akibatnya, apalagi kita, bangsa ini yang hanya sekedar “ketularan” atau “ketibanan”, tentu akan lebih kerepotan lagi.

“Sejarah” globalisasi sebenarnya bisa dilacak akar-akarnya pada dunia Barat sekitar abad 16-an yang lalu, yakni di saat impian-impian orang Barat untuk merubah “nasib”nya menjadi lebih pasti, terus dan terus, diupayakan untuk diwujudkan menjadi kenyataan. Impian-impian itu antara lain: pertama, andaikan urusan agama dan urusan pemerintahan (dan urusan keduniaan pada umumnya) dapat dipisahkan, tentu akan dapat dengan leluasa mengatur pemerintahan dan dunia ini. Impian ini diupayakan dengan suatu proses yang disebut “sekularisasi” Kedua, andaikan tradisi dan kehidupan yang irrasional ini bisa dirubah menjadi rasional. Di sinilah kita mengenal istilah modernisasi, yaitu proses penghapusan tradisi yang tidak rasional dan selanjutnya berupaya merasionalkan apa saja yang bisa dilakukan. Ketiga, andaikan pembacaan terhadap realitas ini bisa dilmiahkan. Upaya yang dilakukan adalah proses saintifikasi. Keempat, andaikan alam ini bisa direkayasa. Impian ini diupayakan dengan suatu proses yang disebut “teknologisasi” atau “industrialisasi” Kelima, andaikan dunia timur (termasuk Islam) itu bisa seperti negara Barat yang maju. Untuk maksud ini upaya yang dilakukan adalah apa yang kita kenal dengan istilah “kolonialisasi” dan “westernisasi”.

Apa akibatnya? Akibatnya seperti yang dapat kita saksian bersama. (1) Antara urusan pemerintah (dan urusan keduniaan pada umumnya) harus terpisah dengan urusan agama, bahkan agama itu telah kuna dan perlu dipinggirkan. (2) segala tradisi, budaya, dan norma agama yang dianggap tidak rasional harus ditolak, dan hanya mau menerima yang rasional-rasional saja. (3) berkembangnya pola pikir saintisme, yaitu pola pikir: jika…maka… yang kaku dan tak kenal ampun. Di sini, peran akal bukan hanya maksimal, tetapi sudah dianggap segala-galanya. (4) intervensi manusia terhadap alam, membuat alam sendiri tidak bersahabat. Demikian juga penggunaan teknologi secara besar-besaran, lalu sengaja manusia dibuat merasa ketergantungan dengan teknologi, bahkan untuk segala aspek kehidupan. Acara selanjutnya adalah “banjir” produk dengan berbagai iklannya, serta persaingan bisnis produk teknologi tak terelakkan. Dan (5) proses pem-Barat-an dan penjajahan terus berlangsung sampai hari ini, baik di sektor politik, ekonomi, pemikiran, budaya, dan produk-produk Barat lainnya.

Semua ini telah membuat “dunia ini menjadi lepas kendali”, dan globalisasi menjadi kenyataan sejarah yang tak terelakkan. Dalam beberapa hal, kemajuan di Barat jelas membawa aspek positif, seperti beberapa kemudahan dengan pemanfaatan teknologi (dan ilmu pengetahuan), namun globalisasi jelas memunculkan resiko atau lebih tepatnya “resiko buatan” (manufactured risk). Dalam arti, resiko sebagai akibat -kesalahan- cara pandang dan pengetahuan kita atas dunia, berupa ketidakpastian baru yang melampaui kemampuan antisipasi kita.

Perubahan dahsyat itu merombak tradisi dan budaya dengan segala kekayaannya, mulai yang paling sederhana, seperti model pakaian, gaya hidup (life style), pola-pola hubungan masyarakat, hingga yang terkait dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi, termasuk agama. Tidak hanya itu, globalisasi juga merubah gaya berkeluarga: mulai dari tujuan berkeluarga, pola hubungan dalam rumah tangga; suami dengan istri, orang tua dengan anak. Semua itu menjadi seperti pola-pola robotik. Inilah yang disebut proses dehumanisasi, yaitu hilangnya unsur-unsur kemanusiaan. Maka sandiwara sudah terjadi di hampir semua kehidupan ini.

Perubahan-perubahan itu semakin mencapai puncaknya, di saat teknologi informasi dan telekomunikasi sudah sedemikian canggih, ditambah dengan liberalisasi di bidang pers. Pada zaman seperti itu, pertukaran nilai budaya dapat dengan mudah terjadi, bahkan sudah terjadi. Kondisi demikian, di satu sisi dapat dengan cepat terjadi proses modernisasi (atau pembaharuan) dari budaya tradisional, namun pada sisi yang lain dapat terjadi pula pengikisan atau penghilangan budaya luhur dan digantikan saja dengan budaya asing yang belum tentu sesuai.

Media informasi seperti televisi sebagai salah satu produk era ini juga memunculkan problema tersendiri. Di satu sisi dapat sebagai media informasi dan penyebaran nilai-nilai budaya, namun pada sisi yang lain juga dapat sebagai sarana ‘perusak’ terhadap nilai budaya yang selama ini sudah berkembang dengan baik.

Dalam banyak hal, tayangan televisi menyuguhkan apa yang oleh para sosiolog disebut dengan hiperrialitas (hyperreality), yakni realitas semu yang sebenarnya tidak terjadi pada kenyataan, namun dibikin agar menarik perhatian dan segera akan ditiru oleh masyarakat sehingga akhirnya menjadi kenyataan juga. Ketika sudah menjadi kenyataan, televisi akan menampilkan hyperreality yang baru, lalu diikuti dan menjadi kenyataan yang baru lagi, begitu seterusnya. Singkat kata, semakin “gila” tayangan televisi akan semakin menarik. Ketika penonton sudah menjadi “gila”, televisi akan menayangkan yang lebih “gila” lagi, jika tidak, tentu tidak lagi menjadi menarik.

Di sinilah, sadar atau tidak, karakter kita, karakter bangsa ini, dan karakter generasi kita terbentuk. Maka yang membentuk kepribadian manusia abad ini ternyata bukan lagi orang tua, bukan guru atau para pemimpin, tetapi media massa. Masa depan generasi kita, hampir sangat ditentukan oleh tayangan dan tontonan media massa hari ini.

Absurditas[1] Manusia Modern

Hal lain yang menjadi keprihatinan bersama saat ini adalah terkait budaya pragmatisme dan hedonisme yang membentuk karakter manusia modern yang materialistik oriented. Pragmatisme adalah cara pandang yang melihat sesuatu dari nilai manfaat yang dapat dihasil dari sesuatu. Jika ia bermanfaat secara praktis material, maka ia dianggap kebenaran yang bernilai. Demikian juga dengan budaya hedonisme, totalitas kehidupan semuanya diorientasikan untuk sebuah kenikmatan. Kebahagiaan tertinggi adalah karena akumulasi yang banyak dari kenikmatan material, dan sebaliknya kesengsaraan adalah disebabkan manusia tidak menemukan kenikmatan. Motto yang paling terkenal dari kaum hedonis adalah “hidup untuk hari ini”. Dari sini dapat diasumsikan bahwa apa saja menjadi legal dan pantas demi sebuah kenikmatan. Pada proses selanjutnya dapat dipastikan bahwa akan terjadi peminggiran terhadap beberapa sisi dari kemanusian itu sendiri, terutama persoalan moralitas juga etika.

Dalam ranah empiris kemudian dapat kita temukan betapa banyak hari ini penyakit-penyakit sosial yang terjadi di masyarakat, mulai dari pelecehan seksual, pemerkosaan, pengkonsumsian obat-obat terlarang, minuman keras, aborsi, perilaku sadisme dan perilaku-perilaku kriminal lainnya yang kesemuanya menghiasi wajah gelap modernitas. Itulah di antara beberapa anomali yang include dalam modernitas itu sendiri dimana kesemuanya ternyata sangat potensial untuk memberangus sisi-sisi eksistensial kemanusiaan. Sebagai kesimpulan sementara dapat dikatakan, bahwa kemajuan secara kuantitatif material yang dicapai oleh modernitas, tidak diiringi dengan kemajuan kualitatif. Modernitas dengan sederet anomalinya tersebut sedikit banyak telah mengabsurdkan beberapa sisi sejati dari manusia pemujanya. Absurditas inilah yang selanjutnya menyebabkan manusia modern salah orientasi dalam memaknai hakikat hidup yang ia jalani.

Pengaruh pragmatisme, materialisme dan hedonisme sangat luar biasa dahsyatnya pada segala segi kehidupan, termasuk pada dunia pendidikan. Tidak semua orang belajar semata-mata untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, melainkan yang justru diutamakan adalah agar mendapatkan selembar ijazah. Tanda bukti lulus digunakan untuk mendapatkan kesempatan memasuki posisi-posisi penting yang banyak menghasilkan uang.

Budaya materialisme dan hedonisme juga dibarengi oleh budaya mental instan dan serba mencukupkan formalitas. Itulah akibatnya, orang belajar bukan selalu mengejar ilmu, melainkan sebatas mengejar aspek yang bersifat simbolik untuk menerabas agar cepat berhasil meningkatkan pendapatan. Budaya ini sangat mengganggu proses pendidikan. Segala sesuatu selalu diukur dengan uang. Mengajar, menguji dan membimbing selalu dikaitkan dengan besarnya imbalan yang akan diterima. Mendatangi kegiatan yang menjanjikan uang, akan dikedepankan dari pekerjaan rutin membimbing mahasiswa yang sesungguhnya lebih bersifat urgen. Apa yang dilakukan oleh staf perguruan tingi itu memang tidak terlalu mudah disalahkan, karena tuntutan keluarga, sosial, dan kehidupan sudah semakin menghimpit mereka.

Fenomena mengedepankan besarnya dana yang akan diperoleh, tidak saja terjadi pada tataran individu melainkan juga lembaga secara keseluruhan. Akhirnya, yang terjadi di dunia pendidikan pun layaknya dalam dunia bisnis pada umumnya. Yaitu ada uang maka ada pelayanan dan semakin tinggi harga yang dibayar, maka di sanalah pelayanan terbaik akan diberikan. Semboyan ada uang, maka ada barang, terjadi pula ddalam dunia pendidikan. Pada gilirannya, di kampus-kampus dikenal berbagai jenis pelayanan mahasiswa. Yaitu ada kelas biasa dengan harga rendah, ada kelas khusus dengan biaya khusus dan ada pula kelas eksekutif dengan biaya eksekutif pula.

Lalu, apalagi yang kita pikirkan, di tengah-tengah budaya materialisme dan hedonisme seperti saat ini, tatkala berbicara peningkatan kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran seperti apa yang sesungguhnya akan kita tingkatkan. Sebab, semua aspek kehidupan ini sudah mendasarkan pada tarif. Kualitas apa saja, termasuk kualitas pendidikan selalu tergantung pada besaran tarifnya. Tanpa terkecuali, kualitas pelayanan pendidikan, sebagaimana hukum alam, sudah selalu disejajarkan dengan besarnya biaya yang harus dibayarkan.

Rupanya, dunia materialistik dan hedonistik ini semakin berkonsekuensi pada munculnya budaya transaksional di seluruh lapangan kehidupan, tidak terkecuali di dunia pendidikan. Peningkatan kualitas selalu disejarkan-seiringkan dengan jumlah pembiayaan yang harus dikeluarkan.

Tantangan Terberat Pendidikan Agama: Krisis Sains Modern

Di antara kerpihatinan para intelektual saat ini adalah soal perkembangan sains modern yang bisa dikatakan sebagai pilar utama peradaban Barat modern. Maka tema seputar model sains alternatif menjadi trend gerakan intelektualisme saat ini. Terkait dengan persoalan ini, Armahedi Mahzar mengidentifikasi empat dampak sains modern, yaitu dampak militer, dampak ekologis, dampak sosiologis, dan dampak psikologis. Menurut Armahedi, dampak pertama terkait potensi destruktif yang ditemukan sains yang secara serta-merta dimanfaatkan langsung sebagai senjata pemusnah massal oleh kekuatan-kekuatan militer dunia. Dampak kedua adalah dampak tak langsung berupa pencemaran dan perusakan lingkungan hidup manusia oleh industri sebagai penerapan tek­nologi untuk kepentingan ekonomi. Dampak ketiga adalah keretakan sosial, keterbelahan personal, dan keter­asingan mental yang dibawa oleh pola hidup urban yang mengikuti industri­alisasi ekonomi. Dampak keempat yang paling parah, adalah penyalahgunaan obat-obatan hasil industri kimia.[2] Kebanyakan ilmuwan tidak tahu menahu soal dampak negatif penerapan sains dan teknologi itu, karena dianggap bukan urusan mereka. Para ilmuwan umumnya merasa tugas utama mereka hanyalah mencari kebenaran ilmiah yang bersifat netral. Sementara para teknolog juga melempar tanggung jawab dengan mengatakan bahwa teknologi itu bagaikan pisau bermata dua yang bisa dimanfaatkan secara positif atau negatif bergantung pemakainya.[3]

Persoalan pokoknya sebenarnya bukan hanya soal dampak, tetapi lebih terkait problem paradigmatik atau problem episteme[4] yang menjadi dasar tumbuhkembangnya ilmu. Menurut Budi Hardiman, problem epistemis itu terkait empat elemen pokok, yaitu rasionalitas lebih dari wahyu, kritik lebih dari sekedar sikap naif yang tidak terbebas dari tradisi dan sejarah, progresif lebih dari sekedar konservasi tradisi, dan universalisme yang melandasi tiga elemen sebelumnya.[5] Keempat elemen itu bersifat normatif sehingga berlaku universal: kebenaran wahyu diuji di hadapan rasionalitas, otoritas tradisi dan sejarah dipersoalkan dengan kritik, keluhuran tradisi dipertanyakan atas dasar harapan akan masa depan.[6] Seiring dengan universalisasi norma tersebut, temuan-temuan sains mengalami eskalasi (escalation) menjadi apa yang disebut Lyotard sebagai grandnarrative[7] yang mematikan narasi-narasi kecil dan menjadi kekuatan kuasa yang memarginalkan apa saja yang dianggap tidak rasional sebagaimana diungkap Foucault.[8]

Demikian juga, lahirnya norma-norma ilmiah sebagai garis demarkasi antara yang ilmiah dan non-ilmiah jelas bukan tanpa sejarah. Refleksi filsafat Auguste Comte yang hanya mempercayai fakta positif dan digali dengan metodologi ilmiah, lalu dilanjutkan oleh para filsuf Lingkaran Wina yang mengajukan prinsip verifikasi untuk membedakan bahasa yang meaningfull dan meaningless, juga Karl Popper yang menawarkan falsifikasi (error elimination) sebagai standar ilmiah.[9] Beberapa prinsip ini memberikan andil besar bagi tereliminasinya sistem pengetahuan lain dan sistem kebenaran lain yang berada di luar jangkauan norma-norma ilmiah itu, seperti metafisika, seni, tradisi dan lebih-lebih agama.

Konsekuensinya, jika ingin disebut ilmiah, maka metafisika, seni, tradisi dan termasuk agama harus mengikuti patok-patok ilmiah secara rigid sebagaimana sains. Di sini derajat sains menjadi lebih tinggi dari segalanya. Inilah yang disebut totalitarianisme in the new fashion. Era modern bisa dikatakan sebagai masa eksperimen besar-besaran terhadap saintifikasi metafisika, seni, tradisi dan agama. Misalnya Emmanuel Kant memulai untuk metafisika,[10] Alexander Gottleib Baumgarten dengan estetika ilmiah (inderawi) memulai untuk seni,[11] sementara tradisi segera digantikan misalnya oleh teori-teori developmentalisme, dan agama ditampilkan sebagai deisme atau sebagai theology of the secular city yang dipopulerkan Harvey Cox.[12] Sejarah mencatat, upaya ini pada gilirannya menyebabkan makna metafisika, seni, tradisi dan agama menjadi tereduksi, bahkan hilang dan mati.

Maka dari sini, sebenarnya wacana dikotomi “ilmu umum dan ilmu agama” dapat dilacak jalinan akar geneologinya. Problem dualisme sistem pendidikan,[13] yang menjadi keprihatinan pengamat pendidikan selama ini, juga berawal dari pandangan dikotomis itu. Mungkin di sini pula akar sejarahnya mengapa selama ini sistem pendidikan agama, seperti pesantren dan madrasah diperlakukan sebagai pendidikan kelas dua.

Antara Proteksi dan Proyeksi, suatu ikhtiyar

Dampak terberat dari globalisasi adalah bahwa hidup ini telah menjadi sedemikian gersang. Manusia sudah meninggalkan unsur terdalam dari kemanusiaannya, yakni perasaan (emosi) dan hati nurani (spitualitas). Nilai-nilai luhur dalam masyarakat, bahkan nilai dan ajaran agama telah digusur dan tidak lagi menjadi landasan dalam hidup ini. Hidup yang demikian inilah yang sering dikatakan dengan “matinya makna”.

Para pemikir kelas dunia sebenarnya juga mulai menyadari dampak globalisasi ini. Mereka menawarkan “obat” yang disebut dengan “demokrasi sejati” (democratising democracy). Katanya: globalisasi dapat reda atau minimal dampaknya dapat diminimalisir, jika negara-negara diberi hak untuk hidup dan mengurus negaranya sendiri, tak ada saling intervensi. Bahkan jika masing-masing individu dapat dengan mandiri menentukan pilihan hidupnya sendiri. Tentu ini bukan tugas kita, meskipun kita juga dapat membayangkan bahwa tawaran ini sulit terwujud.

Maka yang dapat kita lakukan adalah membangun kesadaran baru dengan kembali mengisi hidup kita dan generasi kita dengan makna. Aktivitas 24 jam sehari semalam akan bermakna ibadah jika aktivitas itu diterangi agama. Pola hubungan dengan orang lain akan bernilai silaturrahim jika tulus dan tidak ada kebencian dan persaingan, dst. Dengan begitu kita telah dapat kembali menyatukan antara urusan agama dengan urusan dunia.

Hidup bermasyarakat dan berkeluarga akan jauh lebih bermakna jika tidak sekedar hubungan fisik dan jasmani, tetapi hubungan emosional yang menggunakan perasaan dan pikiran. Di era global ini, menempatkan emosional (EQ) dalam kehidupan sosial terbukti dapat mendatangkan kesuksesan. Maka pertimbangan geografi (kedaerahan), dan demografi (keprofesian) dalam hidup bersosial, mestinya ditambah pertimbangan satu lagi, yaitu psikografi (ke-citarasa-an). Jika demikian, berarti kita telah ikut mengembalilkan unsur kemanusiaan pada kehidupan manusia sendiri.

Tidak dapat diragukan akal dan pikiran memiliki peran cukup penting dalam hidup ini, namun akal bukanlah segala-galanya. Akal memang harus dimaksimalkan, namun tetap dengan kesadaran bahwa akal ada batasnya. Dengan sikap seperti ini, berarti kita telah mengembalikan posisi akal pada “barak”nya.

Islam, Indonesia, dan tradisi jawa memiliki kekayaan potensi budaya yang menakjubkan, namun belum dikembangkan secara maksimal. Memperkuat dan mengembangkan potensi budaya kita sendiri bisa sedikit meminimalisir masuknya budaya asing, budaya Barat yang belum tentu sesuai dengan budaya kita. Dengan sikap seperti ini, berarti kita telah bersikap tepat dalam menghadapi “banjir” westernisasi (penjajahan budaya Barat).

Jika kesadaran baru seperti ini tidak muncul, mustahil dunia pendidikan akan menjadi lebih baik di tengah berbagai krisis global itu. Maka yang paling utama adalah adanya perubahahan kesadaran dan sikap, lalu perubahan nilai dan budaya. Dengan begitu besar kemungkinan pendidikan akan menjadi lebih baik.

Sejalan dengan pemikiran ini, strategi yang bisa dilakukan pendidikan Islam adalah proteksi dan sekaligus proyeksi. Proteksi adalah prinsip konservasi nilai. Strategi ini untuk membentengi nilai-nilai luhur dari ancaman nilai dan budaya luar yang destruktif. Nilai apa yang diproteksi memang masih dapat didiskusikan lebih lanjut, namun di sini dengan merujuk pada QS. Al-‘Ashr bisa disebutkan tiga nilai yang harus aman dari pengaruh distruktif, yaitu iman, amal shalih, dan saling menjalin network atau tali silaturrahim dengan sesama. Internalisasi tiga nilai ini pada seseorang, Allah menjamin, tidak akan pernah merugi selama-lamanya. Fenomena boarding school, pondok pesantren, atau fullday school yang banyak dimiati saat ini menunjukkan keprihatinan orang tua terhadap nilai budaya distruktif di satu sisi, dan perhatian akan konservasi nilai luhur di sisi yang lain.

Sementara proyeksi adalah prinsip progresivitas dari pendidikan. Strategi ini mengharuskan lembaga pendidikan Islam dan dunia pendidikan pada umumnya untuk terus meningkatkan kualitasnya, meletakkan visi-misi yang jelas sesuai hasil pembacaannya terhadap masa depan. Insan pendidikan Islam mesti tanggap terhadap tanda-tanda zaman, tanggap terhadap situasi sosial, budaya, ekonomi dan politik, bahkan cerdas dalam memprediksi perkembangan zaman. “Didiklah anak-anakmu, karena mereka diciptakan pada suatu zaman yang bukan zamanmu”, demikian Sabda Rasul.

Akhirul Kalam

Di akhir tulisan ini bisa disampaikan bahwa globalisasi dan dampaknya telah merasuk ke hampir aspek kehidupan kita. Bahkan dampak negatifnya pun hampir tidak disadari sebagai negatif, karena umumnya kita terlena dan larut dalam kehidupan kebersamaan. Maka tidak terlena dan segera sadar atas kehidupan “dunia yang lepas kendali” itu merupakan modal penting untuk dapat mengantisipasi dampak negatifnya. Kesadaran itu biasanya baru dapat tumbuh di saat tersedia waktu untuk ber-muhasabah (mawas diri). Sementara manusia era globalisasi ini hampir tak ada waktu untuk itu.

Tinggi rendahnya mutu dunia pendidikan kita memang tidak serta merta karena dunia pendidikan itu sendiri, tetapi sebagian besarnya ditentukan oleh sikap dan prilaku kita terhadap pendidikan. Berbagai krisis yang terjadi di era modern bukan karena pendidikan, tetapi krisis itu telah membuat dunia pendidikan juga mengalami krisis. Perubahan dunia pendidikan, menjadi mungkin jika nilai yang mendasari kehidupan masyarakat berubah.

Jika globalisasi berawal dari impian bangsa Barat yang terus diwujudkan, maka kita pun bisa mengatasi dampaknya dengan mewujudkan impian ini. Wallahu a’lam bish shawab.

Referensi

Cox, Harvey, The Secular City: Secularization and Urbanization in Theological Perspective (New York: The Macmillan Company, 1967)

Faucoult, Michel, Diciplin and Punish: The Brith of Prison, trans. Alan Sheridan, (New York: Peregrine, 1979)

______, The Order of Think: An Archeology of Human Sciences, (New York: Vintage Books, 1994)

Hardiman, Budi, Melampaui Positivisme dan Modernitas, Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003)

Kant, Immanuel, Prolegomena to Any Future Metaphysics, terj. The Paul Carus, revisi oleh James W. Ellington (Indianapolish/Cambridge: Hackett Publishing Company, 1977

Lyotard, The Postmodern Condition, A Report and Knowledge, (Manchester: Manchester University Press, 1984)

Mahzar, Armahedi, Merumuskan Paradigma Sains dan Teknologi Islami, Revolusi Integralisme Islam, (Bandung: Mizan, 2004)

Marty, Martin E., “Does Secular Theology Have a Future” dalam The Great Ideas Today 1967 (Chicago: Encyclopaedia Britannica, Inc., 1967)

Muslih, muhammad, Filsafat Ilmu, Kajian atas Asumsi dasar, Paradigma, dan Kerangka Dasar Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar Budaya, 2003)

Ratna, Nyoman Kutha, Estetika, Sastra dan Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007

Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Muhammadiyah, 1960)


[1]Absurditas adalah istilah yang sangat melekat pada sosok Albert Camus. Ia menggunakan istilah ini untuk mengambarkan suatu keadaan manusia modern yang tengah mengalami keputusasaan yang disebabkan adanya pemisahan antara dirinya dengan apa yang dilakonkannya.

[2]Lihat Armahedi Mahzar, Merumuskan Paradigma Sains dan Teknologi Islami, Revolusi Integralisme Islam, (Bandung: Mizan, 2004), p. 221-222

[3]Ibid

[4]Episteme merupakan keseluruhan ruang makna dan prapengandaian yang mendasari kehidupan yang memungkinkan pengetahuan bisa terlahir. Maka episteme berisi hal-hal yang bisa dipikirkan dan dipahami pada suatu masa. Michel Foucault lebih jauh melihat, episteme merupakan ‘medan’ penelusuran epistemologis dari kelahiran pengetahuan. Lihat Michel Foucault, The Order of Think: An Archeology of Human Sciences, (New York: Vintage Books, 1994), p. xxii

[5]Lihat Budi Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas, Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003), p. 194

[6]Ibid.

[7]Lyotard, The Postmodern Condition, A Report and Knowledge, (Manchester: Manchester University Press, 1984), p. 37

[8]Lihat Michel Faucoult, Diciplin and Punish: The Brith of Prison, trans. Alan Sheridan, (New York: Peregrine, 1979); Bandingkan dengan Budi Hardiman, “Kritik atas Patologi Modernitas dan [Post]Modernisme: Habermas dan Para Ahli Waris Neitzsche” dalam Driyarkara, Tahun XIX, No. 2

[9]Uraian lebih luas lihat buku penulis, Filsafat Ilmu, Kajian atas Asumsi dasar, Paradigma, dan Kerangka Dasar Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar Budaya, 2003)

[10]Lihat Immanuel Kant, Prolegomena to Any Future Metaphysics, terj. The Paul Carus, revisi oleh James W. Ellington (Indianapolish/Cambridge: Hackett Publishing Company, 1977)

[11]Nyoman Kutha Ratna, Estetika, Sastra dan Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), p. 2

[12]Lihat Harvey Cox, The Secular City: Secularization and Urbanization in Theological Perspective (New York: The Macmillan Company, 1967). Menurut Dr. Marty, beberapa kalangan menjadikan buku tersebut sebagai buku panduan, manual untuk bebas lepas dari sembarang dongeng mitos dan agama. Lihat Martin E. Marty, “Does Secular Theology Have a Future” dalam The Great Ideas Today 1967 (Chicago: Encyclopaedia Britannica, Inc., 1967)

[13]Menurut Mahmud Yunus, dikotomi institusi pendidikan menjadi pendidikan umum dan pendidikan agama telah berlangsung semenjak bangsa ini mengenal sistem pendidikan modern. Lihat Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Muhammadiyah, 1960), p. 237.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: